KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) melalui anak usahanya, PT Kimia Farma Apotek (KFA), memilih fokus meningkatkan produktivitas dan profitabilitas jaringan apotek sepanjang 2026.
Corporate Secretary Kimia Farma Ida Rasita mengatakan, dengan jaringan lebih dari 1.000 apotek yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, pertumbuhan bisnis ritel Kimia Farma tidak hanya mengandalkan penambahan gerai baru. "Sepanjang 2026, bisnis ritel Apotek Kimia Farma yang dijalankan oleh anak usaha PT Kimia Farma (Persero) Tbk, yaitu PT Kimia Farma Apotek, berfokus pada peningkatan produktivitas dan profitabilitas jaringan, bukan sekadar menambah jumlah gerai," ujar Ida kepada Kontan, Minggu (6/9).
Baca Juga: Metrodata (MTDL) Bidik AI Jadi Mesin Pertumbuhan, Bisnis Hybrid AI Naik 171% Menurutnya, optimalisasi jaringan yang telah dimiliki dilakukan antara lain melalui peningkatan sales per outlet, penguatan portofolio produk, serta peningkatan kualitas layanan. Dari sisi operasional, Kimia Farma juga terus mendorong efisiensi persediaan (inventory) dan biaya, sekaligus memanfaatkan digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas dan pelayanan. Meski demikian, ekspansi gerai tetap terbuka dan dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan potensi pasar, kebutuhan layanan kesehatan, lokasi, serta kelayakan ekonomi setiap gerai. Ke depan, Kimia Farma juga akan memperkuat integrasi layanan apotek dengan ekosistem layanan kesehatan yang dimiliki grup. Dengan demikian, jaringan apotek tidak hanya berfungsi sebagai titik penjualan, tetapi juga terintegrasi dengan layanan kesehatan lainnya. "Perseroan berharap pertumbuhan apotek Kimia Farma merupakan pertumbuhan yang berkualitas, sehat, dan berkelanjutan, baik dari sisi bisnis maupun dari sisi kontribusinya terhadap akses layanan kesehatan masyarakat," kata Ida. Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen juga mendorong KFA memperkuat strategi omnichannel. Kanal digital diposisikan sebagai tambahan kanal penjualan, bukan sebagai pengganti gerai fisik. KFA mengembangkan Kimia Farma Mobile serta memperluas akses melalui sejumlah marketplace dan layanan
quick commerce, seperti Tokopedia, TikTok Shop, GrabMart, dan Good Doctor. Ida mengatakan, jaringan apotek yang luas justru menjadi salah satu kekuatan Kimia Farma dalam mendukung pemenuhan pesanan (
fulfillment) dan menjadi
service point untuk transaksi digital. "Perseroan melihat kanal digital dan gerai fisik bukan sebagai dua kanal yang saling menggantikan, melainkan sebagai kanal yang saling melengkapi dan memperkuat," jelasnya. Selain memperkuat kanal penjualan, KFA juga mendorong perubahan komposisi produk untuk meningkatkan profitabilitas bisnis ritel. Strategi tersebut dilakukan melalui pengembangan produk dengan margin yang lebih tinggi. Saat ini, KFA memperluas portofolio dari bisnis obat ke kategori
consumer health dan produk dengan margin lebih tinggi. Beberapa kategori yang menjadi fokus antara lain vitamin dan suplemen, derma atau
dermocosmetic, personal care, mother & baby, weight care, serta
medical device. "Tujuannya bukan hanya meningkatkan penjualan, melainkan juga memperbaiki
sales mix dan profitabilitas bisnis ritel," ujar Ida. Pengembangan kategori tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan potensi pasar, tingkat pembelian berulang (
repeat purchase), serta margin yang dinilai lebih menarik.
KFA juga menyesuaikan
product mix dengan kebutuhan konsumen di masing-masing jaringan apotek. Strategi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan penjualan sekaligus memperbesar kontribusi kategori produk yang mampu menopang bisnis secara berkelanjutan. Sebagai bagian dari Holding BUMN Farmasi, KAEF merupakan perusahaan healthcare terintegrasi dari hulu hingga hilir. Hingga kini, KAEF Group memiliki sembilan fasilitas produksi, 44 cabang
trading & distribution, lebih dari 1.000 jaringan apotek, lebih dari 350 klinik kesehatan, dan 60 laboratorium medis.
Baca Juga: Artotel Group Bakal Kelola Aset Venue dan Fasilitas Kampus Unpad Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News