Kimia Farma Perkuat Bisnis Lewat Bahan Baku Lokal, Kurangi Risiko Impor dan Kurs



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mempercepat strategi penguatan bisnis dengan memperbesar penggunaan bahan baku obat (BBO) dalam negeri, meningkatkan kandungan lokal produk, serta mengembangkan portofolio obat bernilai tambah tinggi. 

Langkah ini ditempuh untuk mengurangi ketergantungan pada impor yang masih mendominasi industri farmasi nasional sekaligus meredam dampak gejolak nilai tukar dan gangguan rantai pasok global.

Upaya tersebut mendapat perhatian pemerintah. Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, meninjau fasilitas produksi Kimia Farma di Plant Banjaran, Bandung, untuk melihat kesiapan industri farmasi dalam menjaga pasokan obat dan bahan baku guna mendukung ketahanan kesehatan nasional.


Baca Juga: Kinerja Solid, Kimia Farma (KAEF) Bukukan Laba Rp 123 Miliar di Kuartal I-2026

Direktur Produksi dan Supply Chain Kimia Farma, Hadi Kardoko, mengatakan lebih dari 95% kebutuhan bahan baku industri farmasi nasional masih bergantung pada impor.

Kondisi ini membuat industri rentan terhadap gejolak global, mulai dari konflik geopolitik, kenaikan biaya logistik dan energi, hingga risiko kelangkaan bahan baku.

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Kimia Farma mengoptimalkan kapasitas produksi dan memperkuat lini hulu melalui PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) di Cikarang yang telah mengantongi izin edar bahan baku obat.

Saat ini KFSP telah memproduksi 19 jenis bahan baku obat bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), dengan 18 di antaranya telah mengantongi sertifikat halal.

Menurut Hadi, pengembangan industri bahan baku obat nasional membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah, termasuk penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan kebijakan pembatasan impor untuk produk yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri.

Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menciptakan kepastian pasar dan mendorong investasi di sektor bahan baku farmasi.

Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Siapkan Strategi ini untuk Jaga Pertumbuhan 2026

Di tengah upaya memperkuat rantai pasok, Kimia Farma juga memperluas portofolio produk.

Pada 2025, perusahaan meluncurkan empat obat baru, yakni Fentanyl Injeksi sebagai substitusi impor untuk kebutuhan anestesi, Sildenafil untuk terapi kesehatan pria, Pantoprazole untuk gangguan pencernaan, serta Moxifloxacin yang mendukung program penanggulangan tuberkulosis nasional.

Strategi substitusi impor juga terlihat dari peningkatan kandungan lokal pada sejumlah produk prioritas. Obat antiretroviral TLE 300 mg dan 600 mg untuk penanganan HIV telah mencapai TKDN 52,78%, sedangkan Rosuvastatin untuk terapi kardiovaskular mencatat TKDN 59%.

 
KAEF Chart by TradingView

Capaian tersebut memberi keunggulan dalam pengadaan obat nasional sekaligus memperkuat daya saing perusahaan.

Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, menilai penguatan penggunaan bahan baku lokal menjadi kunci memperbaiki daya tahan bisnis perusahaan di tengah ketidakpastian global.

"Dengan inisiatif ini, KAEF sedikit demi sedikit akan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor," ujar Djagad dalam siaran pers, Kamis (25/6/2026).

Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Beberkan Strategi Hadapi Tekanan Bahan Baku Impor

Dari sisi kinerja, strategi hilirisasi dan penguatan bahan baku lokal mulai menunjukkan hasil. Pada 2025, penjualan bahan baku obat untuk pasar domestik dan ekspor tumbuh 124%.

Perseroan juga menjalankan transformasi bisnis dengan mengurangi produk berbiaya tinggi dan mengalihkan fokus ke produk inovatif bermargin lebih besar.

Selain itu, Kimia Farma melakukan efisiensi melalui integrasi pengadaan terpusat dan transformasi digital di seluruh ekosistem usaha. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat struktur biaya, meningkatkan profitabilitas, dan menjaga daya saing di tengah tekanan ekonomi global.

Dengan kombinasi penguasaan lini hulu, peningkatan TKDN, peluncuran produk baru, serta efisiensi operasional, Kimia Farma berupaya menjadikan kemandirian bahan baku obat bukan hanya sebagai agenda ketahanan kesehatan nasional, tetapi juga sebagai mesin pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News