KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adhi Karya Tbk (
ADHI) mencatatkan kinerja yang tak memuaskan pada 2025. Di mana pendapatan perusahaan turun dan rugi bersih turut membengkak di tahun lalu. Berdasarkan laporan keuangannya, dari sisi t
op line, pendapatan emiten Danantara ini turun 27,6% secara
year-on-year (YoY) menjadi Rp 9,67 triliun di akhir 2025. Di mana, pendapatan ADHI di tahun 2024 sebesar Rp 13,35 triliun. Sementara itu, dari sisi
bottom line, ADHI membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang membengkak menjadi Rp 5,4 triliun. Padahal, pada tahun 2024, rugi ADHI masih sebesar Rp 86,75 miliar.
Manajemen ADHI mengatakan, perubahan ini seluruhnya berasal dari pembukuan biaya non-operasional.
Baca Juga: Tiket Kereta Api Terjual 826.198 dan Okupansi Tembus 100% di Long Weekend Paskah Biaya non-operasional tersebut merupakan hasil dari tiga langkah penyehatan yang dilakukan serentak. "
Pertama, penyesuaian nilai wajar aset perusahaan seiring program penyehatan BUMN Karya dari Danantara. Penyesuaian ini berdampak dominan pada dua anak perusahaan properti, yaitu Adhi Persada Properti dan Adhi Commuter Properti," ujar manajemen ADHI dalam keterbukaan informasi, Selasa (7/4/2026). Lebih lanjut, perlambatan bisnis makro properti dan penurunan daya beli masyarakat dinilai menyebabkan koreksi Nilai Realisasi Bersih (NRV) berdasarkan appraisal Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), yang dicatat sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN).
Kedua, evaluasi CKPN atas piutang Adhi Persada Gedung, anak perusahaan di bidang kontraktor gedung, sebagian besar portofolio pelanggannya berada di sektor properti yang mengalami tekanan dan proses kepailitan. Ketiga, tindak lanjut temuan audit yang meminta perseroan melakukan pencadangan yang cukup dan konservatif. Di sisi lain, hingga 2025, ADHI mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp 18,1 triliun. Berdasarkan lini bisnis, perolehan kontrak baru terdiri dari 91% engineering dan konstruksi, 5% manufaktur, 3% properti dan hospitality, dan 1% investasi dan konsesi. Berdasarkan tipe pekerjaan, 43% pekerjaan gedung, 15% infrastruktur sumber daya air, 14% jalan dan jembatan, dan sisanya lainnya. Sedangkan, berdasarkan sumber pendanaan, 69% dari pemerintah, 23% dari BUMN, dan sisanya swasta. Manajemen ADHI mengungkap, sejalan dengan program penyehatan BUMN Karya yang dipimpin oleh Danantara, ADHI pada tahun buku 2025 melakukan penataan menyeluruh atas kualitas aset dan pencadangan di seluruh lini usaha.
"Meskipun mencatatkan penyesuaian nilai, ADHI memiliki beberapa pondasi untuk pemulihan. ADHI masih memiliki piutang atas beberapa proyek besar yakni LRT Jabodebek dan piutang atas proyek Tol Aceh-Sigli. Realisasi piutang-piutang ini diharapkan berdampak langsung pada penerimaan kas perseroan," jelas manajemen ADHI. ADHI juga memiliki
pipeline proyek di berbagai segmen infrastruktur dan secara konsisten menempatkan fokus pada hilirisasi dan
green construction. Perseroan menjadi kontraktor pelaksana proyek hilirisasi antara lain PUSRI IIIB, Pembangunan Coal Handling ICB PTBA, dan PLTMG Tobelo. Selain itu, ADHI terlibat dalam proyek
green construction, seperti pengembangan pengelolaan lingkungan FPLT Kawasan Industri di Medan, yang membuka akses ke proyek-proyek infrastruktur yang mengutamakan aspek keberlanjutan. Pada 2026, manajemen ADHI memperkirakan pertumbuhan pasar konstruksi akan didorong oleh belanja Kementerian Pekerjaan Umum dan belanja modal anak perusahaan Danantara.
Baca Juga: Transformasi Paradise Indonesia: Dari Pengembang ke Penggerak Ekosistem Kota Dengan penyesuaian nilai di tahun 2025, manajemen ADHI pada tahun 2026 berkomitmen untuk peningkatan kualitas bisnis yang menyeluruh termasuk fokus pada bisnis inti konstruksi. Upaya ini termasuk mengedepankan inovasi proses bisnis, mengedepankan
streamlining bisnis melalui divestasi sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik sejalan dengan program Danantara sebagai holding operasional. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News