Kinerja Amman (AMMN) Melesat Sepanjang Semester I-2026, Ini Pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada semester I-2026. Laba bersih AMMN tercatat US$498 juta, berbanding terbalik dengan kerugian US$149 juta yang dicatatkan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian ini dinilai sejalan dengan ekspektasi pasar, karena setara dengan 49% dari estimasi laba bersih 2026 versi Stockbit dan 52% dari konsensus estimasi analis.

Guidance Produksi Emas dan Smelter Direvisi Naik

Tim Analis Stockbit Sekuritas mengatakan, salah satu sorotan utama dari kinerja perusahaan adalah keputusan manajemen AMMN untuk merevisi naik target produksi emas dalam konsentrat, dari sebelumnya 579 ribu ons (koz) menjadi 775 koz, atau naik 34%.


Revisi ini didorong oleh kadar emas dalam bijih yang ternyata lebih tinggi dari perkiraan awal, yakni 0,65 gram per ton (g/t) pada semester I-2026, naik dari 0,54 g/t pada kuartal I-2026.

Selain merevisi target emas dalam konsentrat, manajemen untuk pertama kalinya juga mengumumkan target produksi dari hasil pengolahan smelter, yaitu katoda tembaga sebanyak 130 ribu ton (kt), jauh di atas realisasi semester I-2026 yang baru mencapai 49 kt, meski masih di bawah estimasi Stockbit sebesar 161 kt untuk keseluruhan 2026.

Baca Juga: Penjualan Amman (AMMN) Melesat 1.0024%, Laba Bersih Capai US$ 497 Juta

Sementara itu, target produksi emas batangan ditetapkan sebesar 350 koz, dibandingkan realisasi semester I-2026 sebesar 122 koz dan estimasi Stockbit sebesar 475 koz untuk sepanjang tahun.

"Kami menilai guidance smelter yang baru ini mencerminkan keyakinan manajemen atas performa smelter perseroan, seiring lulusnya performance guarantee test pada Juli 2026 dan diperolehnya smelter project acceptance certificate sebagai penanda hand over resmi dari kontraktor ke perseroan," tulis tim Stockbit Sekuritas, Senin (21/9/2026).

Manajemen juga menyebut kinerja operasional smelter pada Juli–Agustus 2026 berjalan konsisten dan bahkan mencetak rekor produksi baru, sebagai indikasi positif untuk outlook kuartal III 2026.

Dari sisi operasional tambang, meski total material yang ditambang turun 14% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 126 juta ton, kualitas operasi justru membaik. Produksi bijih melonjak tajam menjadi 66 juta ton dari hanya 6 juta ton pada semester I-2026, seiring penambangan yang mulai memasuki area bijih berkadar tinggi pada fase 8. Hal ini turut menekan stripping ratio ke level sekitar 0,9 kali.

Di sisi lain, volume bijih yang diolah oleh konsentrator baru mencapai 20 juta ton, sehingga terjadi selisih yang cukup besar dengan volume bijih yang ditambang. Kondisi ini mendorong terjadinya penumpukan atau inventory build-up bijih, yang sekaligus dinilai mengamankan kepastian pasokan bahan baku jangka panjang bagi smelter perseroan.

Perseroan juga memperbarui laporan cadangan sesuai standar JORC per 30 Juni 2026. Hasilnya, cadangan bijih di tambang Batu Hijau tercatat naik 10,2% menjadi 777 juta ton.

Kenaikan ini terjadi seiring asumsi harga emas yang dinaikkan menjadi US$2.500 per ons, dari sebelumnya US$1.800 per ons pada 2024, sementara asumsi harga tembaga tetap dipertahankan di level US$4 per pon.

Dengan pembaruan cadangan ini, umur tambang Batu Hijau diperkirakan dapat diperpanjang dari semula 2030–2031 menjadi 2031–2032, sebelum perseroan bertransisi ke tambang Elang.

 
AMMN Chart by TradingView

Dari sisi penjualan, AMMN membukukan ekspor konsentrat sebanyak 120.079 dry metric ton (dmt) yang mengandung sekitar 72 juta pon (Mlbs) tembaga dan 120.667 ons emas. Pengiriman tersebut menjadi ekspor konsentrat terakhir perseroan, menyusul berakhirnya izin ekspor pada April 2026.

Perseroan dinilai cukup beruntung karena realisasi ekspor pada April 2026 tersebut sempat mengamankan penjualan pada level harga emas yang tinggi, yakni sekitar US$4.900 per ons.

Ke depan, seluruh pendapatan penjualan perseroan akan sepenuhnya bersumber dari hasil operasi smelter, berupa katoda tembaga, emas batangan, serta produk turunan lain seperti perak dan asam sulfat.

Outlook AMMN Tetap Optimistis

Menyusul realisasi kinerja pada semester pertama, pandangan Stockbit Sekuritas terhadap kinerja AMMN pada semester II 2026 tetap optimistis.

Setidaknya ada tiga faktor pendukung utama, antara lain, pertama, kenaikan rata-rata harga tembaga ke level sekitar US$14.000 per ton yang dinilai mampu mengompensasi penurunan harga emas secara kuartalan.

Kedua, akselerasi volume produksi dan penjualan seiring kinerja smelter perseroan yang telah mencapai titik optimal. Lalu, ketiga, tambahan kontribusi dari produk sampingan smelter berupa perak dan asam sulfat yang belum sepenuhnya terealisasi hingga saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News