Kinerja AMMN Melonjak, Ramp Up Smelter Jadi Katalis Pertumbuhan Berikutnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan hingga kuartal III-2026. Per September 2026, emiten tambang tembaga dan emas ini membukukan penjualan bersih US$3,23 miliar, tumbuh 494% YoY dari US$545 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Perusahaan juga berbalik dari rugi menjadi laba. Laba bersih mencapai US$880 juta hingga September 2026, dibandingkan rugi bersih US$175 juta setahun sebelumnya.

Lonjakan ini tidak lepas dari naiknya volume produksi dan penjualan, terutama tembaga dan emas, serta menguatnya harga kedua komoditas di pasar global. Senior Technical Analyst, M. Nafan Aji Gusta, menilai pembalikan kinerja AMMN terutama didorong kombinasi kenaikan volume penjualan dan lonjakan harga komoditas.


Pada 2025, kinerja perusahaan sempat tertekan oleh kendala perizinan ekspor konsentrat serta fase transisi penyingkapan batuan penutup (waste stripping) dalam proyek ekspansi Phase 7 di tambang Batu Hijau. Memasuki 2026, operasional mulai menjangkau area batuan bijih berkadar tinggi (high-grade ore), bertepatan dengan penguatan harga emas dan tembaga dunia.

Baca Juga: OJK Kebut Penerbitan PADK untuk Perkuat Pengawasan Bursa Mineral

"Masuknya operasional ke area batuan bijih berkadar tinggi (high-grade ore) pada tahun 2026 bertepatan dengan reli rekor harga emas dunia serta penguatan harga tembaga, sehingga melipatgandakan nilai penjualan secara drastis (low base effect)," jelasnya dalam wawancara tertulis Kamis (5/11/2026).

Dari sisi operasional, kadar bijih yang lebih tinggi mendorong produksi dan perolehan logam. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alata, mencatat bahwa dalam sembilan bulan pertama 2026, produksi tembaga AMMN naik 129% YoY menjadi 332 juta pon, sementara produksi emas melonjak 616% YoY menjadi 541.337 ons. Peningkatan tersebut ditopang kenaikan volume bijih yang diproses sebesar 38% YoY menjadi 32 juta ton, disertai membaiknya kadar tembaga dan emas. Selain volume dan harga jual, efisiensi pengolahan serta turunnya biaya pemrosesan dan pemurnian turut menopang profitabilitas. Pemulihan operasional menjadi faktor penting dalam perbaikan kinerja keuangan AMMN, khususnya melalui peningkatan produksi dan penjualan tembaga serta emas. "Kami melihat pemulihan operasional AMMN menjadi faktor penting dalam perbaikan kinerja keuangan, khususnya melalui peningkatan produksi dan penjualan tembaga serta emas," ujar Sukarno dalam wawancara tertulis (5/11/2026).

Meski begitu, pencapaian target produksi 2026 masih perlu dicermati. Konsistensi operasional pada kuartal IV-2026 akan menjadi penentu, terutama jika dilihat dari realisasi produksi kumulatif, kadar bijih, tingkat perolehan logam (recovery rate), dan efektivitas fasilitas pengolahan.

Untuk prospek ke depan, AMMN dinilai masih punya ruang mempertahankan kinerja positif hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027. Manajemen telah merevisi naik panduan produksi emas dalam konsentrat sebesar 34% menjadi 775.000 ons, sedangkan target produksi tembaga tetap 485 juta pon. AMMN juga menargetkan produksi katoda tembaga 130.000 ton dan emas murni 350.000 ons pada 2026. Sukarno menilai pertumbuhan berpotensi berlanjut pada 2027 seiring meningkatnya utilisasi fasilitas pengolahan dan pemurnian serta efisiensi biaya, namun panduan produksi 2027 baru akan disampaikan manajemen pada kuartal I-2027.

Salah satu katalis yang disorot adalah ramp up smelter tembaga dan Precious Metals Refinery (PMR), fasilitas pemurnian logam mulia. Hingga September 2026, produksi katoda tembaga tercatat 102.783 ton dan emas murni 296.897 ons. Optimalisasi kedua fasilitas ini dapat memperkuat integrasi bisnis sekaligus menambah nilai dari hasil tambang.

Lewat hilirisasi, AMMN tidak hanya menjual konsentrat, tetapi juga katoda tembaga, emas dan perak batangan, serta produk sampingan berupa asam sulfat. Nafan menambahkan, smelter juga memberi manfaat strategis karena mengurangi risiko regulasi pembatasan ekspor konsentrat mentah, sekaligus mendiversifikasi sumber pendapatan dan memperkuat kepastian arus kas jangka panjang.

Namun, kontribusi smelter terhadap profitabilitas perlu dicermati. Margin kotor segmen pengolahan dan pemurnian bisa lebih tipis dibandingkan penjualan konsentrat langsung, antara lain akibat tingginya biaya depresiasi dan operasional pada tahap awal pengoperasian. Sukarno juga menekankan bahwa peningkatan utilisasi smelter dan PMR perlu diikuti efisiensi operasional, karena kontribusinya terhadap pendapatan dan margin masih dipengaruhi biaya energi, biaya pengolahan, serta ketentuan penjualan dan pemurnian.

Di sisi lain, sejumlah risiko masih membayangi. Volatilitas harga tembaga dan emas global dapat memengaruhi harga jual dan pendapatan. Fluktuasi kadar bijih, konsistensi produksi tambang, serta potensi gangguan teknis pada smelter maupun pabrik konsentrator juga dapat menekan volume produksi dan efisiensi.

Nafan turut menyoroti risiko curah hujan tinggi di tambang terbuka Batu Hijau yang berpotensi menghambat ekstraksi dan pengangkutan bijih, serta posisi utang untuk membiayai belanja modal fasilitas hilirisasi dan pembangkit listrik. Sukarno menilai tingkat utang AMMN yang masih relatif besar tetap perlu dicermati, meski neraca mulai membaik seiring menguatnya arus kas dan pembayaran utang.

Dengan mempertimbangkan prospek kinerja dan risiko tersebut, kedua analis memberikan rekomendasi positif untuk saham AMMN. Nafan merekomendasikan Accumulative Buy dengan target harga Rp6.425 per saham, sedangkan Sukarno merekomendasikan Buy dengan target harga Rp4.600 per saham.

Baca Juga: NAB Reksadana Menyusut Jadi Rp 620,14 Triliun di Oktober 2026, ETF Emas Tumbuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News