Kinerja Antam (ANTM) Kuartal III-2026 Diproyeksi Solid, Simak Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada kuartal III-2026 diperkirakan masih akan berada dalam tren yang solid dan atraktif, ditopang oleh strategi diversifikasi bisnis serta peran emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai segmen emas masih menjadi penopang utama kinerja perseroan, terutama di tengah kondisi pasar yang volatil. 

"Emas masih menjadi motor utama ANTM dan tetap dipandang sebagai aset safe haven ketika terjadi ketidakpastian global. Penjualan emas secara wholesale (grosir) juga diperkirakan tetap kuat dan terjaga," ujar Nafan saat dihubungi Kontan, Rabu (17/6/2026).


Baca Juga: Antam (ANTM) Diproyeksi Catat Kinerja Terkuat Kuartal III-2026, Didukung Emas & Nikel

Sebagai informasi, ANTM membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 29,32 triliun pada kuartal I-2026, naik 12,12% secara tahunan (year on year/YoY). Di saat yang sama, laba bersih perseroan melesat 61,9% YoY menjadi Rp 3,4 triliun dari Rp 2,1 triliun pada kuartal I-2025.

Segmen emas berkontribusi 81% terhadap total pendapatan ANTM pada kuartal I-2026 sebesar Rp 23,89 triliun. Adapun, volume penjualan emas ANTM mencapai 8.464 kilogram atau setara 272.124 ons troi pada kuartal I-2026.

Di sisi lain, kontribusi dari segmen nikel juga diperkirakan tetap mendukung kinerja perseroan, seiring adanya kepastian kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang relatif stabil. Hal ini dinilai dapat memberikan kepastian operasional bagi ANTM dalam menjaga tingkat produksi.

"Adanya persetujuan kuota RKAB nikel yang stabil dapat memberikan dampak positif terhadap kepastian operasional dan pada akhirnya menopang profitabilitas di kuartal ini," kata Nafan.

Namun, sejumlah tantangan masih membayangi kinerja ANTM pada kuartal III-2026, terutama berasal dari volatilitas harga komoditas global, baik emas maupun nikel. Perlambatan permintaan dari Tiongkok juga menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati investor.

Selain itu, ketergantungan ANTM terhadap margin emas dinilai tetap menjadi faktor sensitivitas terhadap pergerakan harga komoditas global.

Dari sisi domestik, risiko regulasi juga masih menjadi perhatian, terutama terkait kebijakan perizinan dan kuota pertambangan nikel.

 
ANTM Chart by TradingView

"Ketidakpastian regulasi domestik, termasuk terkait RKAB nikel, dapat membuat investor cenderung bersikap wait and see," ujar Nafan.

Sementara itu, sentimen global seperti arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) juga turut mempengaruhi pergerakan harga komoditas. Kebijakan moneter AS yang lebih longgar dinilai dapat melemahkan dolar AS dan mendorong volatilitas harga komoditas global.

Di sisi lain, perkembangan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) diperkirakan tetap menjadi sentimen positif bagi ANTM, terutama dari sisi permintaan nikel dalam jangka menengah. Selain itu, penyerapan bijih nikel oleh smelter domestik dinilai masih relatif efektif sehingga dapat menopang permintaan dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News