Kinerja ANTM Diproyeksi Tumbuh Kuat, Investor Waspadai Risiko Regulasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dinilai masih menjanjikan hingga beberapa tahun ke depan. Kenaikan harga emas, perbaikan fundamental bisnis nikel serta berlanjutnya proyek hilirisasi menjadi sejumlah faktor yang diyakini mampu menopang pertumbuhan pendapatan dan laba emiten tambang pelat merah tersebut.

Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra mengatakan fundamental ANTM menunjukkan perbaikan yang signifikan sepanjang tahun ini. Menurut dia, bisnis nikel perseroan masih menikmati margin yang sehat di tengah pasokan bijih nikel yang cenderung ketat.

"Secara keseluruhan, meskipun terdapat peningkatan fundamental baik pada ANTM maupun industri nikel, investor masih menyoroti risiko kebijakan yang berpotensi memengaruhi prospek sektor logam Indonesia," tulis Igor dalam risetnya, Selasa (26/5/2026).


Baca Juga: Surya Semesta Internusa (SSIA) Optimistis Suku Bunga Tinggi Tak Ganggu Kinerja

Igor mencatat bisnis feronikel ANTM membukukan margin tunai sekitar US$ 2.500 per ton nikel dengan biaya tunai di bawah US$ 12.000 per ton nikel dan harga jual rata-rata mencapai US$ 14.500 per ton nikel. Di sisi lain, harga jual saprolit mencapai US$ 80 per wet metric ton (wmt) pada April 2026 atau menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah, tanpa indikasi pelemahan permintaan.

Manajemen ANTM juga menilai pemerintah masih akan mempertahankan kebijakan pengetatan pasokan bijih nikel melalui pembatasan kuota produksi atau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Kondisi tersebut dinilai dapat menjaga harga nikel tetap tinggi.

Selain nikel, bisnis emas masih menjadi mesin utama pertumbuhan perseroan.  Igor mencatat penjualan emas pada April 2026 tetap kuat setelah pada kuartal I-2026 mencapai Rp 23,89 triliun. Menurutnya, perseroan juga meningkatkan fokus pada penjualan grosir untuk menjaga profitabilitas di tengah potensi penurunan harga emas.

Senada, analis Phintraco Sekuritas Vinna Nur Rachmawati menilai ANTM masih memiliki prospek pertumbuhan yang solid dalam beberapa tahun mendatang.

Baca Juga: IRSX Masuk Ekosistem GOTO Untuk Perluas Distribusi Streaming Piala Dunia 2026

"ANTM menargetkan pertumbuhan jangka panjang melalui ekspansi kapasitas dan integrasi bisnis dari hulu ke hilir, khususnya dalam ekosistem baterai kendaraan listrik dan aluminium," tulis Vinna dalam risetnya pada Rabu (20/5/2026).

Pada kuartal I-2026, ANTM membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 29,32 triliun, naik 12,12% secara tahunan (year on year/YoY). Di saat yang sama, laba bersih perseroan melesat 61,9% YoY menjadi Rp 3,4 triliun dari Rp 2,1 triliun pada kuartal I-2025.

Meski demikian, produksi sejumlah komoditas mengalami penurunan. Produksi bijih nikel turun 16,3% secara tahunan menjadi 3,9 juta wmt, sedangkan produksi feronikel berkurang 11,6% menjadi 4.000 ton nikel. Produksi bauksit juga turun 3,8% menjadi 600.000 wmt.

Vinna memperkirakan pendapatan ANTM akan mencapai Rp 97,1 triliun pada 2026 atau tumbuh 14,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan diperkirakan berlanjut hingga 2028 didorong kenaikan harga jual rata-rata di berbagai segmen bisnis.

"Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bruto diproyeksikan meningkat menjadi Rp 15,3 triliun pada 2026 dan mencapai Rp 22,2 triliun pada 2028," tulis Vinna.

Untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, ANTM tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis, mulai dari pabrik manufaktur logam mulia di Gresik, proyek Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Halmahera Timur, proyek hilirisasi nikel bersama Huayou, hingga Smelter Grade Alumina (SGA) di Mempawah.

Meski prospek bisnis masih positif, risiko kebijakan tetap menjadi perhatian. Igor menyoroti ketidakpastian terkait rencana badan ekspor terpusat, pungutan ekspor, kenaikan tarif royalti, serta wacana windfall tax yang dapat mempengaruhi profitabilitas industri pertambangan nasional.

Selain itu, keputusan investasi akhir proyek HPAL ANTM bersama produsen baterai China CATL masih tertunda akibat ketidakpastian keekonomian proyek di tengah tingginya harga limonit dan sulfur.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Igor mempertahankan rekomendasi buy untuk ANTM dengan target harga Rp 6.050 per saham. Sementara Vinna juga mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 5.000 per saham

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News