KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih sebesar Rp 6,7 triliun pada kuartal II-2026, turun 22,1% secara tahunan (year on year/YoY), meski naik 14,2% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter on quarter/QoQ). Dengan demikian, laba bersih sepanjang semester I-2026 tercatat Rp 12,5 triliun, turun 19,2% YoY. Analis MNC Sekuritas Rudy Setiawan mengatakan capaian tersebut setara 39,7% dari estimasi MNC Sekuritas dan 38,4% dari konsensus untuk keseluruhan tahun 2026, sehingga dikategorikan di bawah ekspektasi. Penurunan laba ini turut diperberat oleh pos-pos non rutin senilai Rp 2,4 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 0,5 triliun. Pos nonrutin tersebut terutama berasal dari penyesuaian nilai wajar (fair value adjustment) dan penurunan nilai (impairment) di divisi panas bumi (geothermal) dan nikel.
"Jika pos-pos non rutin tersebut dikeluarkan dari perhitungan, laba bersih inti ASII sebenarnya hanya turun tipis 7,2% YoY menjadi Rp 14,9 triliun, dengan laba inti per saham (core EPS) sebesar Rp 372, turun 6% YoY. Di sisi lain, kontribusi laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama (JV/associate income) justru melonjak 35,3% YoY menjadi Rp 5,1 triliun," tulis Rudy dalam risetnya, Jumat (31/7/2026).
Baca Juga: Astra International (ASII) Siapkan Strategi Tangkap Peluang Bisnis di GIIAS 2026 Dari sisi pendapatan, ASII mencatatkan penerimaan sebesar Rp 79,2 triliun pada kuartal II-2026, relatif stabil dengan penurunan tipis 0,3% YoY meski naik 0,7% QoQ. Dengan begitu, total pendapatan semester I-2026 mencapai Rp 157,9 triliun, turun 3% YoY, namun angka ini masih sejalan dengan proyeksi MNC Sekuritas maupun konsensus, masing-masing setara 49,4% dan 48,7% dari estimasi tahunan. Segmen solusi pertambangan dan alat berat (mining solutions & heavy equipment) menjadi pemberat kinerja, dengan penurunan pendapatan mencapai 15% YoY. Tekanan ini terutama dipicu oleh minimnya penjualan emas dari tambang Martabe yang hanya mencapai 23.000 ons troy, jauh di bawah 125.000 ons troy pada periode yang sama tahun lalu, menyusul penghentian sementara operasional tambang yang baru kembali beroperasi pada kuartal II-2026. Selain itu, penjualan alat berat Komatsu tercatat anjlok 27% YoY, sementara volume kontraktor tambang dan volume batubara masing-masing turun 10% YoY, seiring pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di sektor pertambangan. Di tengah tekanan tersebut, segmen otomotif dan jasa keuangan justru masih mencatatkan pertumbuhan. Segmen otomotif tumbuh 6% YoY, ditopang penjualan mobil Grup Astra yang naik 10% YoY dengan pangsa pasar mencapai 51%. Sementara itu, segmen jasa keuangan tumbuh 6% YoY, sejalan dengan pembiayaan baru yang naik 10% YoY.
Baca Juga: Astra International (ASII) Dapat Restu Buyback Rp 8 Triliun, Cek Rekomendasi Sahamnya Laba bersih dari kedua segmen tersebut turut tumbuh masing-masing 9% dan 6% YoY, berbanding terbalik dengan segmen pertambangan yang labanya ambruk 88% YoY menjadi hanya Rp 607 miliar. Bahkan jika pos non rutin dikeluarkan dari perhitungan, laba segmen tambang tetap tercatat turun 46% YoY.
Margin Operasional Menyempit Akibat Kenaikan Beban Laba operasional ASII pada kuartal II-2026 turun 18,5% YoY menjadi Rp 8,1 triliun, meski tumbuh 28,5% QoQ. Margin laba operasional (operating profit margin/OPM) tercatat 10,2%, lebih rendah dibandingkan 12,5% pada kuartal II-2025, namun masih lebih baik dibandingkan 8,0% pada kuartal I-2026. Secara kumulatif, laba operasional semester I-2026 turun 24,8% YoY menjadi Rp 14,4 triliun, berada di bawah ekspektasi dengan capaian 38,6% dari estimasi MNC Sekuritas dan 37,5% dari konsensus. Penurunan ini dipicu oleh kenaikan beban operasional, dengan beban penjualan naik 18,6% YoY dan beban umum serta administrasi (G&A) naik 13,2% YoY, di tengah pendapatan yang justru melemah. Kondisi tersebut membuat margin laba kotor (gross profit margin/GPM) menyempit menjadi 20,6%, dari sebelumnya 21,4%, akibat tekanan operating leverage negatif di sepanjang rantai bisnis pertambangan.
Prospek Kinerja ASII dan Anak Usaha Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengungkapkan, tekanan kinerja ASII didominasi oleh lesunya divisi Solusi Pertambangan dan Alat Berat, yang tercatat turun 14,93%. Pelemahan ini terutama dipicu oleh merosotnya kinerja PT United Tractors Tbk (UNTR), anak usaha Astra di sektor pertambangan dan alat berat. Di sisi lain, segmen Otomotif justru tampil sebagai penyelamat kinerja Grup Astra. Segmen ini tumbuh 5,93% dan bahkan mengambil alih posisi sebagai penyumbang pendapatan terbesar perusahaan. Kas operasional yang masih jumbo membuktikan ketahanan finansial ASII tetap solid. "Prospek kinerja pada semester II-2026 lebih baik seiring buyback Rp8 triliun yang berjalan dan pemulihan otomotif dengan pangsa pasar yang sudah menembus 50%," kata Abida kepada Kontan, Jumat (31/7/2026). Selain itu, Abida juga bilang UNTR adalah pemberat utama kinerja di periode Januari hingga Juni 2026, namun berpotensi membaik di semester II-2026 seiring diversifikasi ke metallurgical coal dan emas yang diuntungkan harga komoditas, ditambah buyback Rp2 triliun yang aktif. Kemudian, AALI menjadi penerima manfaat langsung program B50 dengan harga CPO di atas MYR 4.600/ton sehingga mampu memperbesar margin. Sementara itu, AUTO menarik seiring pemulihan pasar otomotif. "Emiten paling menarik dicermati adalah UNTR karena potensi earnings recovery semester II-2026 terbesar dari basis rendah semester I-2026," tambah Abida.
Rekomendasi Saham Abida menyarankan buy ASII target harga Rp6.850 Rekomendasi tersebut didukung valuasi ASII yang dinilai masih menarik, tercermin dari forward price to earnings (PE) sebesar 7,2 kali serta potensi dividend yield di atas 6% yang dapat menjadi penopang (cushion) bagi investor.
"Penurunan kinerja pada paruh pertama tahun 2026 sudah terdiskon di harga saat ini sementara katalis pada semester II berasal dari pemulihan UNTR, momentum otomotif, dan program B50 untuk AALI yang belum sepenuhnya terefleksi," tambah Abida. Adapun, Rudy menyampaikan ASII masih layak dikoleksi dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 7.000 per saham.
Baca Juga: Kantogi Restu Buyback Saham Rp 8 Triliun, Cermati Rekomendasi ASII Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News