Kinerja Bank Besar Semester I 2026 Solid, Tiga Saham Bank Ini Jadi Pilihan Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja bank besar pada semester I 2026 menjadi perhatian investor dalam melihat prospek saham perbankan. Sejumlah bank besar masih mencatat pertumbuhan laba, meski tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) masih membayangi. Analis Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) Prasetya Gunadi mempertahankan rekomendasi buy untuk saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Target harga masing-masing berada di Rp 5.800, Rp 7.150, dan Rp 4.700 per saham. BMRI menjadi pilihan utama Samuel Sekuritas di antara saham bank besar. SSI mencatat BMRI diperdagangkan sekitar 1,2 kali PBV 2026F. Pada semester I 2026, laba bersih BMRI mencapai Rp30,4 triliun atau tumbuh 24,4% secara tahunan. Kredit tumbuh 19%, sementara NPL berada di level 1%.

Baca Juga: Bank Jakarta Gandeng Persija, Bidik Ekosistem Digital hingga The Jakmania "Recurring fee tumbuh 24% secara tahunan dan jumlah pengguna Livin' mencapai 40,9 juta. Di sisi lain, panduan pertumbuhan biaya operasional relatif rendah, sementara dividend yield sekitar 9% dapat menjadi daya tarik bagi investor," ujar Prasetya dalam risetnya, Jumat (7/8/2025). Untuk BBCA, SSI melihat NIM berpotensi membaik pada semester II 2026. NIM BBCA pada kuartal II 2026 berada di 5,3%. SSI memperkirakan NIM BBCA pada semester II 2026 mencapai 5,5%-5,9%, dibandingkan panduan manajemen 5,4%-5,6%. Perbaikan NIM BBCA didukung oleh kredit baru dengan bunga 50%-100% lebih tinggi, pemulihan imbal hasil kredit korporasi, serta kenaikan imbal hasil reinvestasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Untuk BBNI, SSI menyoroti tantangan utama berada pada NIM. Tercatat manajemen memangkas panduan NIM 2026 menjadi 3,3%-3,5% dari sebelumnya 3,5%-3,8%, dengan asumsi penarikan penuh penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah. Meski demikian, BBNI tetap mendapat rekomendasi buy. Pada semester I 2026, laba bersih BBNI tumbuh 6,6% menjadi Rp10,8 triliun. Kredit tumbuh 24,4% menjadi Rp 969 triliun, sedangkan NPL berada di level 1,9%. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, saham blue chip sektor perbankan berada di area yang relatif murah secara historis. Kondisi tersebut dapat menjadi peluang akumulasi bagi investor yang berorientasi jangka panjang.

Baca Juga: Tambahan Dana SAL Rp 400 Triliun, Bank Swasta Bisa Ikut Pangkas Biaya Dana “Valuasi saham-saham blue chip di sektor perbankan dan komoditas kini berada di area yang relatif murah secara historis, menjadikannya target akumulasi yang menarik bagi investor berorientasi jangka panjang,” ujar Nafan. Khusus BBNI, Nafan mengatakan peralihan fokus ekspansi kredit ke debitur korporasi swasta dan BUMN tier-1 dinilai membantu menurunkan beban pencadangan. Penguatan wondr by BNI dan BNI Direct juga dinilai mendorong dana murah (CASA).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News