KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah bank kecil masih mampu mencatatkan pertumbuhan bisnis hingga Agustus 2026 di tengah tekanan biaya dana dan tantangan kualitas aset. Pertumbuhan tersebut tercermin dari kenaikan penyaluran kredit dan laba bersih yang dibukukan sejumlah bank dalam kelompok KBMI I dan KBMI II. Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total kredit bank dalam kelompok KBMI I hanya tumbuh 0,03% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 758,28 triliun per Juli 2026. Sementara itu, kredit KBMI II tumbuh lebih tinggi sebesar 10,62% yoy menjadi Rp 1.064,34 triliun. Dari sisi profitabilitas, total laba tahun berjalan sebelum pajak KBMI I justru mengalami penurunan 10,95% yoy menjadi Rp 10,03 triliun. Sebaliknya, laba KBMI II masih mencatatkan pertumbuhan 7,04% yoy menjadi Rp 20,29 triliun pada periode yang sama.
Salah satu bank yang masih mencatatkan pertumbuhan kredit signifikan adalah PT Bank Ina Perdana Tbk. Hingga Agustus 2026, penyaluran kredit Bank Ina mencapai Rp 16,64 triliun atau tumbuh 20,12% yoy.
Baca Juga: LPS Catat Simpanan BPR dan BPRS Tumbuh 4,18% Jadi Rp 181,78 Triliun per Juni 2026 Pertumbuhan kredit tersebut turut mendorong peningkatan laba bersih tahun berjalan Bank Ina menjadi Rp 66,6 miliar. Angka tersebut melonjak 110,73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Wakil Direktur Utama Bank Ina Perdana Yulius Purnama mengatakan, perseroan masih melihat prospek pertumbuhan yang positif hingga akhir tahun meski kondisi ekonomi masih menghadapi sejumlah tantangan. "Kita secara basis terus tumbuh, kita punya kredit terus naik, kita punya jumlah nasabah naik, transaksi naik," kata Yulius saat ditemui Kontan, Jumat (2/10/2026). Yulius mengatakan Bank Ina masih menargetkan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) di atas 10% hingga akhir 2026. Sementara dari sisi laba, perseroan masih menghitung kembali target karena melakukan sejumlah penyesuaian dalam neraca. "Karena kita juga masih melakukan beberapa penyesuaian buat cadangan kreditnya," ujarnya. Di sisi lain, kenaikan suku bunga turut memberikan tekanan terhadap biaya penghimpunan dana. Yulius mengaku pricing DPK Bank Ina mengalami kenaikan, meski masih relatif terbatas di kisaran bawah 25 basis poin. Meski demikian, ia menyebut pertumbuhan DPK Bank Ina masih cukup baik seiring dengan kepercayaan nasabah terhadap perseroan.
Baca Juga: Bank Mandiri (BMRI) Bayar Dividen Interim Rp 6,16 Triliun, Ini Rinciannya Kinerja OK Bank
Pertumbuhan positif juga dicatatkan PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank). Hingga Agustus 2026, kredit OK Bank mencapai Rp 11,32 triliun atau tumbuh 13,35% yoy. Sementara itu, laba bersih tahun berjalan OK Bank mencapai Rp 161,86 miliar, meningkat 66,55% yoy. Direktur OK Bank Efdinal Alamsyah mengatakan, bank tetap mempertahankan target dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) hingga akhir tahun 2026 dengan fokus pada pertumbuhan yang sehat, kualitas aset dan profitabilitas. "Peluang pertumbuhan kredit masih terbuka, khususnya pada sektor-sektor produktif," kata Efdinal. Namun, OK Bank tetap mencermati sejumlah tantangan, termasuk risiko kredit, persaingan penghimpunan dana, tekanan biaya dana atau cost of fund (CoF), serta ketidakpastian kondisi ekonomi. Untuk menghadapi kondisi tersebut, OK Bank akan menempuh strategi penyaluran kredit secara selektif, mengoptimalkan struktur pendanaan dan meningkatkan efisiensi operasional hingga akhir tahun.
Superbank Catat Pertumbuhan Tinggi
Sementara itu, PT Super Bank Indonesia Tbk membukukan pertumbuhan kinerja yang lebih tinggi hingga Agustus 2026. Laba bersih tahun berjalan Superbank mencapai Rp 259,15 miliar, tumbuh 482,78% yoy.
Baca Juga: Akses Pembiayaan Semakin Mudah, Kemampuan Bayar Menjadi Perhatian Manajemen menyebut kinerja tersebut ditopang pendapatan bunga bersih (NII) sebesar Rp 1,4 triliun, yang tumbuh 44% yoy.
Dari sisi neraca, aset Superbank tumbuh 73% yoy menjadi Rp 27,3 triliun. Penyaluran kredit mencapai Rp 13,5 triliun atau tumbuh 55% yoy, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 84% menjadi Rp 17,3 triliun. Pertumbuhan bisnis tersebut juga diikuti peningkatan jumlah nasabah yang telah mencapai lebih dari 8 juta nasabah. Memasuki akhir tahun, Superbank bakal menjaga momentum pertumbuhan melalui pengembangan produk, perluasan kolaborasi berbasis teknologi dan penguatan akses layanan keuangan. Pertumbuhan bisnis tetap akan dilakukan secara terukur dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian dan kualitas aset. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News