Kinerja Bank Kuartal I-2026: Himbara Melesat, Swasta Moderat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja perbankan awal tahun terpantau beragam. Bank milik negara alias Himbara diuntungkan dengan akses leluasa ke program-program strategis pemerintah sebagai penunjang kinerja, sementara bank swasta cenderung terdampak pelemahan ekonomi sehingga tak mampu mendorong kinerjanya secara masif.

Sejumlah bank besar sudah mengumumkan kinerja kuartal I-2026. Dari jajaran Himbara, kinerja paling apik ditorehkan Bank Mandiri dengan catatan laba sebesar Rp 15,4 triliun, tumbuh 16,6% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Capaian itu sejalan dengan pertumbuhan kredit yang naik 17,4% yoy menjadi Rp 1.530 triliun. Menurut Direktur Utama Bank Mandiri Riduan, kinerja tersebut dapat diperoleh melalui sinergi dari berbagai unsur perekonomian nasional.


“Kami mengedepankan semangat penguatan sinergi UMKM dan ekonomi kreatif, serta sinergi ekosistem digital,” ujar Riduan dalam paparan kinerjanya belum lama ini.

Tak jauh berbeda, Bank Negara Indonesia (BNI) berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 919,3 triliun atau tumbuh 20,1% yoy. Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyebut, penyaluran kredit ini tumbuh seimbang di segmen business banking dan consumer ritel.

Baca Juga: Rupiah Anjlok, Peminat Tabungan Valas Kian Merekah

Ekspansi kredit yang masif ini menjadi salah satu motor profitabilitas bank. BNI berhasil membukukan laba sebesar Rp 5,6 triliun atau tumbuh 5,2% yoy, melaju dari pertumbuhan kisaran 1% yoy pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, Bank Central Asia (BCA) sebagai bank swasta terbesar di Indonesia terpantau melandai kinerjanya. Hingga Maret 2026, kredit BCA hanya tumbuh 5,6% yoy menjadi Rp 994 triliun. Pun, labanya cuma mampu tumbuh 3,8% yoy menjadi Rp 14,7 triliun.

Nasib Permata Bank pun tak jauh berbeda. Kredit bank ini hanya tumbuh 2,8% yoy menjadi Rp 161 triliun selama kuartal I-2026. Namun, laba bank berhasil melesat 16,6% yoy menjadi Rp 920 miliar, salah satunya lantaran beban impairment bank turun 39,8% yoy menjadi Rp 378,3 miliar.

Kredit Bank SMBC juga hanya mampu tumbuh 2% yoy menjadi Rp 191,8 triliun. Menurut Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar, itu sejalan dengan pendekatan selektif dan berimbang yang diambil bank di tengah dinamika pasar saat ini.

Sejalan dengan itu, laba SMBC tak mampu tumbuh. Bank hanya mencatatkan laba bersih Rp 596,6 miliar, turun 5,9% yoy.

Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menyebut, pada dasarnya Himbara memiliki eksposur yang kuat pada proyek strategis nasional yang memiliki kontrak jangka panjang dan disokong pemerintah. Ini membuat bank lebih percaya diri melakukan transformasi likuiditas, meski di tengah ketidakpastian sekalipun.

“Saat bank swasta menahan diri, Himbara seringkali menjadi motor utama penggerak kredit lewat penugasan atau sinergi BUMN yang menjaga pertumbuhan top line mereka tetap positif,” jelas Rahma.

Sementara bank swasta, lanjut Rahma, umumnya dominan di sektor konsumsi dan modal kerja korporasi swasta murni. Ketika gejolak memukul daya beli sektor riil dan konsumsi, bank swasta otomatis mengambil sikap selektif dalam penyaluran kredit untuk menghindari kenaikan NPL.

Baca Juga: Bunga Deposito Krom Bank Masih 8%, Meski Mulai Turun Secara Bertahap

Alokasi Impairment

Jika awal tahun lalu bank kompak menaikkan beban impairment, kali ini trennya cenderung beragam. Dari jajaran bank buku 4, BNI dan BCA kompak meningkatkan beban impairment masing-masing sebesar 26,5% yoy menjadi Rp 2 triliun dan 19,5% yoy menjadi Rp 1,2 triliun. Sementara beban impairment Bank Mandiri turun 29,4% yoy menjadi Rp 2,6 triliun.

Sementara itu di buku 3, beban impairment Permata Bank turun 39,8% yoy menjadi Rp 378 miliar dan SMBC turun 7,9% yoy menjadi Rp 1,2 triliun.

Rahma menilai kenaikan beban impairment dilakukan sebagai langkah preemptive measures di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap kemampuan bayar debitur.

Menurutnya, sejumlah bank mulai memindahkan klasifikasi kredit dari kolektibilitas 1 atau lancar menjadi kolektibilitas 2 dalam pengawasan (under monitoring). Langkah tersebut membuat kebutuhan pencadangan tetap meningkat di awal tahun.

Di tengah ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik hingga fluktuasi harga komoditas, ia bilang perbankan mulai memproyeksikan potensi gagal bayar yang lebih tinggi, terutama pada sektor-sektor sensitif seperti manufaktur dan impor-ekspor.

Selain itu, era suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama atau higher for longer juga mulai menekan kemampuan bayar debitur ritel maupun UMKM.

“Bank yang menaikkan impairment sekarang mengantisipasi agar tidak terjadi lonjakan biaya provisi secara tiba-tiba di akhir tahun jika NPL benar-benar meningkat,” katanya.

Rahma memperkirakan kondisi tersebut bakal berdampak pada pertumbuhan laba industri perbankan sepanjang 2026. Proyeksinya, profitabilitas bank berpotensi lebih terbatas dibandingkan periode 2022–2023.

Baca Juga: Pendapatan Non Bunga Bank Melonjak Awal 2026, Ini Pendorongnya

Ia melihat tekanan laba bakal datang dari dua sisi sekaligus. Di level pendapatan, net interest income (NII) mulai melandai akibat kenaikan biaya dana. Sementara di sisi bottom line, beban impairment justru meningkat.

“Jika pendapatan bunga bersih mulai melandai dan beban impairment naik, maka tekanan terhadap laba bersih akan berlipat ganda,” ujarnya.

Rahma bilang bank kini lebih memilih membukukan pertumbuhan laba yang moderat tetapi disertai kondisi neraca yang lebih bersih. Dengan pencadangan yang lebih tinggi di awal, bank memiliki bantalan apabila kondisi ekonomi memburuk pada semester II-2026.

Ia juga menilai kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan dividen perbankan tahun depan. Ia memperkirakan rasio pembagian dividen atau dividend payout ratio berpotensi lebih konservatif karena bank perlu memperkuat permodalan internal.

“Bank-bank besar saat ini lebih mementingkan kesehatan rasio loan at risk (LAR) dan NPL coverage dibandingkan memaksakan pertumbuhan laba dua digit,” katanya.

Secara keseluruhan, Rahma melihat strategi prudent growth masih bakal menjadi fokus utama industri perbankan di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News