KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya perbankan mendorong penguatan ekosistem finansial perlu terus dibarengi dengan strategi menjaga efisiensi keuangan. Sejumlah bank besar mencatatkan kenaikan pada rasio biaya terhadap pendapatan operasional (
cost income ratio/CIR) sepanjang tahun lalu. Dari jajaran bank milik negara, hingga Desember 2025 tercatat Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Syariah Indonesia (BSI) kompak mengalami kenaikan CIR. Bank Mandiri naik menjadi 41,23% dari 35,04% pada tahun sebelumnya, BNI menjadi 46,48% dari 44,61%, dan BSI meningkat menjadi 52,13% dari 50,89%. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyebut, kenaikan CIR bank tahun lalu merupakan bagian dari strategi efektivitas pengendalian guna meningkatkan infrastruktur secara keseluruhan.
Baca Juga: Bank Mandiri Siapkan Uang Tunai Rp 44 Triliun untuk Kebutuhan Ramadan & Lebaran 2026 “Nanti hasilnya juga berdampak pada kinerja,” ujar Wisnu kepada Kontan, Senin (23/2/2026). Meski rasio biaya meningkat, kinerja bank tetap moncer. Hingga akhir 2025, BSI memiliki lebih dari 23 juta nasabah, naik sekitar 60% sejak merger pada 2021. BSI juga membukukan laba bersih sebesar Rp 7,57 triliun atau tumbuh 8,02% secara tahunan. Wisnu menjelaskan, pertumbuhan tersebut didukung penguatan infrastruktur yang terus dikembangkan, serta peningkatan kapasitas dan kapabilitas teknologi informasi (TI). Selain itu, BSI gencar meningkatkan branding dengan merelokasi penempatan ATM ke lokasi publik. Dengan strategi tersebut, bank yakin kenaikan CIR masih sejalan dengan fungsi intermediasi yang baik dan pertumbuhan kinerja positif. Namun, BSI tetap menargetkan penurunan CIR secara bertahap melalui pengembangan bisnis berkelanjutan. Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) menjadi satu-satunya bank negara yang berhasil menurunkan level CIR, dari 57,15% menjadi 49,19%. Sekretaris Perusahaan BTN Ramon Armando menyatakan, capaian ini didorong optimalisasi pertumbuhan pendapatan, termasuk pendapatan non-bunga atau operasional. Kenaikan pendapatan operasional BTN, lanjut Ramon, dipengaruhi pertumbuhan treasury transaction hingga 28,3% secara tahunan, optimalisasi Deposits & Banking Service Related yang tumbuh 7,2% secara tahunan dan berkontribusi 25,3% dari total pendapatan operasional, serta dorongan transaksi digital melalui aplikasi.
Baca Juga: Dana Korporasi di Perbankan Naik, Pengusaha Pilih Tahan Ekspansi? Meski begitu, tahun ini BTN memperkirakan biaya operasional naik di level high single digit secara tahunan. Biaya ini difokuskan pada pengembangan layanan digital, termasuk pengembangan aplikasi baru, Bale Syariah by BTN, serta sejumlah inisiatif yang mendukung kualitas aset, digital store, dan pengembangan bisnis. Dengan strategi tersebut, CIR BTN diproyeksi meningkat ke kisaran 52% tahun ini.
Bank Swasta Fokus pada Efisiensi
Di sisi bank swasta, Bank Central Asia (BCA) berhasil menurunkan CIR menjadi 30,74%, dibandingkan 31,47% pada tahun sebelumnya. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyatakan, pencapaian ini selaras dengan upaya optimalisasi transaksi digital, peningkatan produktivitas jaringan, dan efisiensi proses internal. Memasuki 2026, BCA tetap mengelola pertumbuhan biaya operasional secara prudent, sejalan dengan kebutuhan pengembangan bisnis. Fokus penguatan diarahkan pada penyempurnaan ekosistem finansial dan modernisasi infrastruktur TI untuk menjaga efisiensi operasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan nasabah. “BCA menargetkan tingkat CIR tetap berada pada level yang sehat dan kompetitif, dengan menjaga keseimbangan antara efisiensi, investasi berkelanjutan, dan pertumbuhan bisnis yang berkualitas,” jelas Hera.
Baca Juga: Penempatan Dana Perbankan di Surat Berharga Masih Tumbuh Awal 2026 Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan terjadi kenaikan CIR pada 2025, dari 44,32% menjadi 45,9%. Menurut Lani, pertumbuhan pendapatan bunga yang lebih terbatas menjadi penyebab utama. “Lebih karena pertumbuhan income revenue yang masih lebih ringan sehubungan dengan masih tingginya biaya dana dan pertumbuhan kredit yang moderat,” tutur Lani.
Meski begitu, Lani menilai level CIR CIMB Niaga masih tergolong efisien dibandingkan dengan bank sejenis. Investasi, khususnya di bidang TI, keamanan siber, dan data, tetap menjadi fokus, mengingat biaya-biaya tersebut relatif tidak murah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News