Kinerja Belum Ngebut, Bank Bersiap Sesuaikan Rencana Bisnis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Berbagai tantangan yang berpotensi menghadang laju kinerja membuat perbankan bersiap menyesuaikan rencana bisnis bank (RBB). 

Jelang penghujung kuartal II-2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja industri perbankan masih berhasil tumbuh positif. 

Hingga April 2026, kredit tumbuh 9,98% secara tahunan (year-on-year/yoy), dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,4% yoy, likuiditas terjaga dengan rasio kredit terhadap DPK (loan to deposit/LDR) di 86,88%, dan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di 23,97%. 


Namun begitu, Ekonom Binus University Doddy Ariefianto menyebut, dalam kondisi ini potensi penyesuaian RBB masih terbuka meski tak merata di semua bank. Khusus di Himbara yang kinerjanya relatif lebih terjaga, menurutnya revisi RBB lebih berupa penyesuaian asumsi ketimbang pemangkasan besar-besaran. 

Baca Juga: BCA Digital Gandeng Prodia, Hadirkan Ekosistem Aplikasi Keuangan dengan Kesehatan

Secara umum, ia bilang ada empat faktor yang menjadi pertimbangan bank dalam menyesuaikan RBB, yakni pertumbuhan permintaan kredit, biaya dana, kualitas aset, dan kapasitas modal.  

Nah dalam kondisi saat ini, ia melihat bank cenderung tak memangkas target volume, tetapi mengubah komposisi portofolio, pricing, dan sektor fokus.

“Misalnya lebih defensif di kredit berisiko tinggi dan lebih selektif di segmen yang marginnya tipis.” jelas Doddy kepada Kontan, Rabu (17/6/2026). 

Dari sudut pandang pelaku industri, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengaku tak bakal ada banyak revisi dalam RBB yang diajukan nanti. Toh, sejak awal pihaknya sudah memasang target pertumbuhan yang relatif konservatif. 

Dari segi kredit, CIMB Niaga sudah menargetkan pertumbuhan yang sangat moderat di bawah 5%. pun untuk margin bunga bersih (net interest margin/NIM) proyeksinya masih bakal tertekan. Lani melihat pertumbuhan kinerja secara keseluruhan belum bisa melaju kencang ke depannya.

“Tetapi memang agak sulit diprediksi. Kredit secara keseluruhan akan sangat moderat,” kata Lani. 

Senada, Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengaku bakal ada beberapa penyesuaian di RBB tahun ini, meski tak terlalu signifikan. Secara khusus, ia bilang kredit bakal cenderung lebih landai. 

Efdinal menjelaskan hal itu sesuai dengan dinamika suku bunga, kondisi likuiditas, dan perkembangan ekonomi global maupun domestik. “Bank terus melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan strategi yang dijalankan tetap relevan,” katanya. 

Baca Juga: Simpanan Kelas Menengah-Bawah Tumbuh Positif, Tapi Diproyeksi Tak Bertahan Lama

Agak berbeda, EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengaku pihaknya masih optimistis kinerja bakal sesuai target yang telah dipatok di RBB awal tahun ini. Yang mana, kredit dibidik tumbuh di kisaran 8%–10%. Untuk diketahui, hingga April 2026 kredit BCA tumbuh 4,85% secara tahunan menjadi Rp 969,09 triliun. 

“Kami optimistis secara umum dapat mencapai target sesuai RBB yang telah disusun hingga akhir 2026,” tutur Hera.

Ia memastikan pihaknya bakal senantiasa melakukan review dan memperhatikan setiap katalis yang ada. Ke depan, pihaknya bakal terus mendorong penyaluran kredit yang berkualitas dengan menerapkan manajemen risiko yang disiplin.

Jelang batas penyerahan revisi RBB pada akhir Juni ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae pun bilang potensi revisi RBB masih terbuka. Namun, hasil akhirnya baru akan terlihat pada bulan Juli mendatang setelah prudential meeting.

Secara umum menurutnya revisi RBB pasti terjadi, tetapi belum bisa disimpulkan apakah bank bakal memangkas target atau justru menaikkannya. “Tentu tergantung perspektif bank, kami harapkan sih akan ada peningkatan,” ujar Dian.

Lagipula, saat ini ada berbagai katalis positif yang berpotensi mendorong pertumbuhan kinerja perbankan. Di antaranya nilai tukar rupiah yang mulai stabil, perbaikan pasar saham, hingga sinyal-sinyal meredanya ketegangan geopolitik Amerika Serikat–Iran yang menekan turun harga minyak. 

Sementara efek kenaikan suku bunga acuan, yang berpotensi mendorong naik biaya dana bank dan menahan minat penarikan kredit nasabah, menurutnya belum bakal tercermin di kinerja bank dalam waktu dekat. 

Di luar itu, regulator juga tengah mendorong penguatan UMKM yang diharapkan turut mendorong kinerja kredit. “Jadi kalau dibandingkan suasana dua bulan terakhir mudah-mudahan bisa bounce back seperti ke awal-awal tahun ini,” tutur Dian. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News