Kinerja Bukit Asam Ambles di Tahun 2023, Cek Rekomendasi Saham PTBA



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan penurunan kinerja di tahun 2023. Pendapatan dan laba bersih emiten tambang ini kompak menurun akibat normalisasi harga batubara.

Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan bahwa dalam pertemuan analis, manajemen PTBA telah mengungkapkan adanya penurunan performa di tahun 2023 lalu. Pendapatan Bukit Asam turun sekitar 9,8% secara Year on Year (YoY) menjadi Rp 38,5 triliun dan laba bersih tergerus sekitar 51,4% YoY menjadi Rp 6,1 triliun. Penurunan kinerja Bukit Asam disebabkan oleh penurunan harga batubara global.

Rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) batubara PTBA di 2023 sebesar Rp 1,03 juta per ton yang lebih rendah sekitar 22,7% YoY. Secara rinci, ASP domestik sebesar Rp 790.000 per ton, sementara ASP ekspor sekitar Rp 1,25 juta per ton.


Walau ASP turun, PTBA mampu mencatatkan kenaikan volume penjualan sekitar 16,7% YoY menjadi 37 juta ton. Selama periode tersebut, PTBA juga mencatatkan peningkatan penjualan ekspor yang mencapai 25% YoY.

Secara destinasi, porsi penjualan domestik masih dominan dengan porsi 58% dari total penjualan. Sedangkan penjualan ke India dan Korea Selatan masing-masing sebesar 13% dan 9%. Sehingga, porsi penjualan PTBA antara domestik dan ekspor sekitar 58% dan 42%.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Bukit Asam (PTBA) di Tengah Lesunya Kinerja Tahun 2023

Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan menilai bahwa penurunan kinerja PTBA tidak terlalu buruk. Pasalnya, pendapatan setahun penuh PTBA di tahun 2023 sebesar Rp 6,1 triliun, mengalahkan perkiraan Sucor 132% dan konsensus 114%.

Capaian ini terutama didorong oleh harga jual yang lebih tinggi daripada perkiraan sebesar US$ 65 per ton yang turun 28% YoY dan biaya tunai yang lebih rendah dari perkiraan sebesar US$ 51 per ton yang turun sekitar 8% quarter on quarter (QoQ).

Secara triwulanan, pendapatan PTBA di kuartal IV-2023 pun melonjak sekitar 132% QoQ menjadi Rp 2,3 triliun karena biaya tunai turun 19% QoQ menjadi US$ 46 per ton dan volume penjualan meningkat 4% QoQ menjadi 10 juta ton.

Andreas melihat, efisiensi operasional terutama disebabkan oleh penurunan biaya kereta api sebesar US$11 per ton turun 23% QoQ pada kuartal IV-2023. Selain itu, operational expenditure (opex) menurun secara signifikan karena penurunan beban gaji dan pembalikan beban Domestic Market Obligation (DMO).

Hanya saja, Andreas menyoroti bahwa lesunya harga batubara masih akan menekan kinerja PTBA ke depan. Meskipun terjadi lonjakan harga batubara baru-baru ini akibat sanksi Amerika Serikat (AS), namun Sucor Sekuritas tetap mempertahankan sikap bearish akibat melemahnya fundamental batubara.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal ITMG, CPIN, dan PTBA dari Sejumlah Analis

Kendati sanksi tersebut telah mengancam 20% ekspor batubara Rusia sebanyak 30 juta ton, jumlah tersebut tidak signifikan dibandingkan dengan impor laut global sebesar 970 juta ton. Selain itu, Rusia kemungkinan akan membuang batubara mereka ke Tiongkok selama masa sanksi seperti yang terlihat pada lonjakan ekspor batubara Rusia ke Tiongkok sebesar 44% menjadi 104 juta ton pada tahun 2023.

“Stagnannya permintaan impor dari Tiongkok dan India juga dapat memberikan tekanan pada harga batubara,” ungkap Andreas dalam riset 6 Maret 2024.

Felix menilai, panduan manajemen PTBA di tahun 2024 ini memang cukup bervariasi. Tahun 2024, PTBA menargetkan produksi batubara relatif flat dengan capaian menjadi 41,3 juta metrik ton dibandingkan 41,9 juta ton pada tahun 2023.

Di sisi lain, strip ratio masih berada di level 6,4x dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar 6,2x. Hal tersebut disebabkan karena adanya eksplorasi lanjutan di beberapa lokasi tambang Bukit Asam untuk menjaga umur tambang, serta adanya kegiatan pre-stripping untuk peningkatan produksi di tahun 2025 dan ke depannya

Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Targetkan Produksi Batubara 41,3 Juta Ton pada 2024

Namun meskipun target produksi relatif flat, volume penjualan ditargetkan naik signifikan menjadi 43,11 juta ton dibandingkan 37 juta ton di tahun 2023. Hal ini seiring dengan upaya PTBA untuk meningkatkan ekspor ke negara destinasi baru seperti Vietnam dan Bangladesh, di samping meningkatkan penjualan dalam negeri khususnya kepada non-PLN.

Pada akhirnya, kenaikan volume penjualan bakal menopang peningkatan target volume pengangkutan kereta api menjadi 33,7 juta ton dibandingkan realisasi tahun 2023 sebesar 32,4 juta ton. Patut dicermati pula bahwa Bukit Asam akan mengandalkan cadangan batu bara sekitar 11 juta ton untuk penjualan batu bara di tahun ini.

Di samping itu, Felix melihat, operasi PLTU Sumsel 8 akan menambah portofolio PLTU milik Bukit Asam. Adapun tanggal operasi komersial alias Commercial Operation Date (COD) PLTU Sumsel 8 dengan kapasitas 2x660 MW per Oktober 2023 lalu telah membantu banyak penjualan Bukit Asam.

“Kami memandang positif COD PLTU Sumsel 8, dimana hal tersebut menjadi penopang penjualan PTBA,” kata Felix kepada Kontan.co.id, pekan lalu.

Baca Juga: Berpotensi Tebar Dividen Tinggi Lagi, Intip Rekomendasi Saham PTBA Berikut Ini

Di tahun 2023, utilization factor (UF) dari PLTU Sumsel 8 di kisaran 60% atau setara dengan serapan batubara sebesar 3 juta ton yang merupakan 8% dari volume penjualan 2023. Panin menilai, UF PLTU tersebut dapat ditingkatkan secara bertahap ke kisaran 70%-80% atau setara dengan serapan sebesar 3,5 juta ton - 4 juta ton yang merupakan 8% dari volume penjualan tahun 2024.

Patut diketahui pula, rencana akuisisi dan pensiun dini PLTU Pelabuhan Ratu sebagai upaya transisi energi milik PLN, masih menunggu ketetapan dari pemerintah. PTBA juga menyatakan masih menunggu pendanaan dari skema Energy Transition Mechanism melalui Asian Development Bank.

Selain itu, PTBA menyatakan jika proyek gasifikasi batubara menjadi dimethyl ether (DME) berpotensi bergulir kembali paska mencuatnya nama calon investor dari China yakni East China Engineering Science dan Technology Co Ltd menggantikan Air Products & Chemical Inc (APCI). Namun perkembangan terkini kedua belah pihak masih melakukan kajian dan pembahasan terkait skema teknis dan skala keekonomiannya.

Sementara itu, PTBA menganggarkan belanja modal (capex) sebesar Rp2,9 triliun yang difokuskan untuk pengembangan logistik transportasi di tahun 2024. Lalu, PTBA berpotensi membagikan dividen dengan yield yang dihasilkan relatif masih akan cukup menarik, meski masih perlu menanti keputusan pemegang saham pada RUPS.

Baca Juga: Meski Harga Batubara Belum Stabil, Emiten Batubara Siap Geber Produksi dan Penjualan

Felix memproyeksi, dengan menggunakan harga penutupan tanggal 8 Maret 2024 sebesar Rp 2.900 per saham dan dengan menggunakan payout ratio di 50%, 70%, dan 100%, maka masing-masing akan menghasilkan dividend yield sebesar 10%, 13%, dan 19%. Rata-rata dividend yield 5 tahun PTBA sekitar 16%.

Atas berbagai faktor tersebut, Felix merekomendasikan Hold untuk PTBA dengan menaikkan target harga ke Rp2.900 per saham dari sebelumnya di Rp 2.700 per saham, dengan metode valuasi -0,5x std PE band 5 tahun. Proyeksi ini berdasarkan terjadinya normalisasi harga batubara tetapi PTBA memiliki dividen yang atraktif menjadi katalis positif bagi para investor.

Sementara, Andreas mempertahankan rekomendasi hold untuk PTBA dengan target harga sebesar Rp2.250 per saham. Dia memproyeksi pendapatan dan laba bersih PTBA bakal tergerus masing-masing menjadi Rp 36,15 triliun dan Rp 4,5 triliun di tahun 2024.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati