Kinerja buruk, Multi Agro ganti Dirut



JAKARTA. PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (MAGP) melakukan pergantian direksi dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) yang dilakukan hari ini (16/3). Pergantian tersebut konon dikarenakan kinerja perseroan yang terpuruk. Selama setahun lalu, perusahaan dengan kode emiten MAGP ini sama sekali tidak memiliki produksi crude palm oil (CPO) dan harus menanggung rugi. 

Dalam RUPS tersebut, posisi Direktur Utama yang sebelumnya dijabat oleh Djoko Prijatno diganti Nanang Ibnu Rosyid. Padahal Djoko baru menjabat setahun sebagai Direktur Utama di MAGP. 

Nanang akan dibantu Afrizal dan Bobby Alianto yang masing-masing menjabat direktur perusahaan. Ketiga nama tersebut berasal dari internal perusahaan. 


Laurena Margaretha Olivia, Sekretaris Perusahaan Multi Agro Gemilang Plantation mengatakan, dibawah nahkodah Nanang tahun ini perusahaan akan mengoptimalisasi lahan kebun sawit yang belum tertanam saat ini. 

"Kami menargetkan produksi CPO bisa mencapai 100.000 ton tahun ini," kata Olivia pada hari ini. 

Sebagaimana diketahui, sepanjang tahun 2014 belum ada produksi tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan MAGP. Alasannya, tanaman kebun perusahaan dalam keadaan rusak. Bahkan dari total luas lahan perusahaan sebesar 50.000 hektare (ha) areal yang belum ditanami mencapai 82%. Itu artinya, luas lahan yang baru ditanami hanya 18% dari total lahan atau sekitar 9.000 ha.

Sementara dari luas lahan yang telah ditanami sebesar 9.000 ha hanya 12% yang telah tertanam dan menghasilkan. Sisanya 88% adalah tanaman yang belum menghasilkan.

Olivia menambahkan secara bertahap selama dua sampai tiga tahun ke depan, perusahaan akan berusaha menuntaskan penanaman sawit pada luas lahan yang belum tertanam.

Perusahaan patungan dari Boswa Megalopolis, Brent Multidaya dan Bumi Orion Sawit Subur menargetkan tahun ini mampu memproduksi CPO sekitar 100.000 ton.

Sampai dengan kuartal III 2014 Multi Agro Gemilang Plantation merugi hingga Rp 28,2 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, MAGP juga merugi Rp 14 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan