KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana campuran tertekan seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Berdasarkan data Infovesta, imbal hasil reksadana campuran pada Maret 2026 tercatat turun 5,62% secara bulanan. Di tengah pelemahan tersebut, produk Simas Syariah Berkembang mencatatkan penurunan yang lebih terbatas, yakni 0,32% secara bulanan, tetapi masih tumbuh 8,65% secara tahunan.
Baca Juga: IHSG Naik 2,35% Sepekan Terakhir, Saham-Saham Ini Layak Dilirik untuk Pekan Depan Mengacu laporan kinerja Maret 2026, portofolio Simas Syariah Berkembang didominasi instrumen pasar uang sebesar 86,8%. Sementara itu, alokasi pada SBSN/sukuk korporasi dan pemerintah mencapai 8,6%, serta efek ekuitas syariah sebesar 2,3%. Deputy CIO Sinarmas Asset Management, Triwira Tjandra, menjelaskan porsi besar pada pasar uang merupakan bagian dari strategi defensif di tengah volatilitas pasar yang tinggi. "Pada periode tersebut kami melihat volatilitas pasar yang masih cukup tinggi serta adanya ketidakpastian terkait arah suku bunga global dan domestik," ujar Wira kepada Kontan, Jumat (17/4/2026). Ia menambahkan, instrumen pasar uang syariah dipilih untuk menjaga stabilitas nilai aktiva bersih (NAB) sekaligus memberikan fleksibilitas dalam melakukan penyesuaian portofolio saat peluang investasi yang lebih optimal muncul. Dari sisi penempatan, portofolio masih didominasi sektor perbankan syariah. Beberapa kepemilikan utama antara lain Bank Jabar Banten Syariah sebesar 19,9%, Bank KB Bukopin Syariah 19,9%, CIMB Niaga Syariah 17,3%, serta Bank Panin Dubai Syariah 13,9%. Menurut Wira, pemilihan sektor perbankan didasarkan pada kualitas kredit, likuiditas, serta imbal hasil yang kompetitif. Risiko tetap dikelola melalui diversifikasi antar institusi, pemantauan kualitas kredit, serta pengaturan tenor instrumen.
Baca Juga: Hasil RUPST Astra Otoparts (AUTO): Angkat Bos Baru & Bagi Dividen Final Rp 819,35 M Memasuki April hingga kuartal II-2026, strategi investasi akan tetap difokuskan pada stabilitas portofolio dengan tetap membuka peluang optimalisasi imbal hasil.
"Kami akan mempertahankan porsi instrumen pasar uang yang memadai untuk menjaga likuiditas sambil secara selektif menambah eksposur pada instrumen dengan imbal hasil menarik apabila kondisi pasar lebih kondusif," jelasnya. Adapun target kinerja tetap diarahkan untuk memberikan imbal hasil yang kompetitif dibandingkan instrumen pasar uang syariah, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Namun, Wira menegaskan bahwa target tersebut tidak bersifat pasti dan tetap bergantung pada dinamika pasar serta kondisi ekonomi makro. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News