Kinerja Cimory (CMRY) Prospektif di Kuartal III, Kenaikan Biaya Bahan Baku Membayangi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) pada kuartal III-2026 diperkirakan masih bertumbuh positif, meski dibayangi tekanan biaya bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai prospek CMRY pada kuartal III-2026 masih ditopang pertumbuhan kuat segmen produk olahan susu. 

Pada kuartal I-2026, segmen tersebut tercatat tumbuh 51,8% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 1,31 triliun dan menjadi kontributor utama pertumbuhan pendapatan perseroan. Sementara itu, pendapatan perseroan mencapai Rp 3,16 triliun atau tumbuh 27,87% secara YoY. Adapun, laba bersih CMRY tumbuh 15,65% YoY menjadi Rp 555 miliar dari sebelumnya Rp 479,86 miliar.


Baca Juga: IHSG Bakal Bergerak Terbatas Jumat (19/6), Pasar Tunggu Review MSCI & Efek BI Rate

Selain itu, konsumsi domestik yang relatif stabil, inovasi produk, serta ekspansi distribusi diperkirakan masih akan menjaga pertumbuhan penjualan CMRY pada level double digit.

"Namun, pertumbuhan laba bersih kemungkinan tidak akan setinggi pertumbuhan pendapatan karena masih adanya tekanan biaya bahan baku dan kemasan," ujar Azis kepada Kontan, Kamis (18/6/2026).

Menurut Azis, tantangan utama CMRY pada kuartal III-2026 berasal dari kenaikan harga bahan baku susu, daging sapi, dan material kemasan yang berpotensi menekan margin keuntungan. Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya impor bahan baku.

Meski demikian, ia menilai CMRY masih memiliki kemampuan untuk menjaga margin melalui kombinasi penyesuaian harga secara selektif, peningkatan kontribusi produk premium dengan margin lebih tinggi, serta efisiensi operasional dan distribusi.

Azis merekomendasikan trading buy saham CMRY dengan target harga di kisaran Rp 4.600 hingga Rp 4.700 per saham.

Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai prospek CMRY pada kuartal III-2026 cenderung moderat seiring stabilnya permintaan musiman, tetapi daya beli konsumen menengah masih tertekan.

"Pertumbuhan pendapatan kemungkinan berada di level single digit secara tahunan karena ruang kenaikan harga relatif terbatas," kata Wafi.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham TINS, EXCL, INDF untuk Jumat (19/6)

Ia menambahkan, tekanan terhadap margin berpotensi datang dari dua sisi sekaligus, yakni pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya impor bahan baku susu dan kemasan serta kenaikan harga daging sapi di tengah persaingan industri produk olahan susu yang semakin ketat.

Menurut Wafi, faktor yang perlu dicermati investor ke depan antara lain pergerakan kurs rupiah, harga susu global, serta kemampuan manajemen dalam meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen tanpa mengganggu pangsa pasar.

Di tengah tekanan tersebut, CMRY dinilai masih dapat melakukan strategi defensif melalui efisiensi kemasan, pergeseran bauran produk ke segmen dengan margin lebih tinggi serta hedging secara parsial.

"Namun, ketika rupiah dan harga bahan baku naik secara bersamaan, tekanan margin pada kuartal III-2026 sulit dihindari," ujar Wafi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News