KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (
SIDO) pada tahun buku 2025 dinilai tetap solid di tengah tekanan daya beli. Emiten farmasi berbasis herbal ini mampu menjaga pertumbuhan pendapatan dan laba sekaligus mempertahankan margin. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai SIDO membukukan pendapatan sebesar Rp 4,08 triliun atau tumbuh 4,1% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih tercatat Rp 1,23 triliun, naik 4,97% secara tahunan.
Baca Juga: Musim Hujan, Penjualan Sido Muncul (SIDO) di Kuartal IV Naik 50% “Kami menilai kinerja SIDO cukup solid karena mampu menjaga margin di tengah tekanan daya beli,” ujarnya kepada Kontan, belum lama ini. Dari sisi segmen, pertumbuhan ditopang oleh lini Food & Beverages yang meningkat 11,7% secara tahunan dan menjadi pendorong utama kinerja. Ke depan, segmen ini dinilai masih berpotensi menopang pendapatan seiring tren gaya hidup sehat. Meski demikian, segmen herbal tetap menjadi kontributor utama terhadap margin perseroan. Adapun lonjakan pendapatan pada kuartal IV-2025 yang mencapai sekitar 50% secara kuartalan dinilai lebih dipengaruhi faktor musiman akhir tahun. Namun, fundamental kinerja tetap dinilai sehat karena profitabilitas terjaga. Untuk tahun 2026, Kiwoom Sekuritas memproyeksikan pendapatan SIDO akan tumbuh sekitar 6% hingga 7% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih diperkirakan meningkat sekitar 3% dengan margin yang relatif stabil.
Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) Klarifikasi Soal Rencana Penjualan Sebagian Saham Selain itu, Head of Research KISI Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai kinerja SIDO pada 2025 tergolong defensif di tengah tekanan konsumsi. “Pertumbuhan laba di tengah tekanan daya beli menunjukkan kuatnya brand equity SIDO serta efisiensi biaya operasional, meskipun volume penjualan jamu herbal sempat melambat pada semester I-2025,” ujarnya. Ia juga menilai kontribusi segmen Food & Beverages akan berkelanjutan ke depan. “Produk minuman dan permen memiliki ticket size yang relatif rendah sehingga lebih tahan terhadap tekanan inflasi. Ditambah inovasi varian baru dan ekspansi ke pasar ekspor seperti Nigeria dan Filipina, ini bisa menjadi motor pertumbuhan volume ke depan,” jelasnya.
Wafi menambahkan, lonjakan kinerja pada kuartal IV-2025 masih didominasi faktor musiman, khususnya periode musim hujan. “Permintaan produk seperti Tolak Angin memang meningkat secara historis di periode tersebut. Namun ini juga mengindikasikan adanya perbaikan pada jalur distribusi grosir yang sebelumnya sempat terkendala di awal tahun,” katanya.
Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) Catat Kinerja Positif hingga September 2025, Cek Rekomendasinya Untuk tahun 2026, ia memproyeksikan pertumbuhan yang lebih moderat.
“Kami melihat pendapatan berpotensi tumbuh sekitar 5% hingga 7% dan laba bersih naik 6% hingga 8% secara tahunan, didorong oleh normalisasi harga bahan baku serta potensi pemulihan daya beli pasca-Lebaran,” ungkapnya. Dengan prospek tersebut, Wafi merekomendasikan buy untuk saham SIDO dengan target harga Rp720 per saham. Sementara Azis merekomendasikan
trading buy untuk saham SIDO dengan target harga Rp595 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News