Kinerja Emiten BUMN Karya Masih Rapuh, Ini Saham yang Jadi Pilihan Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten BUMN karya pada paruh kedua 2026 masih menghadapi sejumlah tantangan, meski beberapa perusahaan mulai menunjukkan perbaikan laba. Kondisi neraca, arus kas, beban keuangan, serta proses restrukturisasi menjadi faktor utama yang membedakan kinerja masing-masing emiten.

Sepanjang semester I 2026, kinerja sejumlah emiten BUMN karya bergerak beragam. PT PP Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mampu membukukan pertumbuhan laba bersih meski pendapatan mengalami penurunan.

Sementara itu, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) masih mencatatkan kerugian, sedangkan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) masih menghadapi tekanan dari beban proyek infrastruktur strategis.


PTPP mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 5,95 triliun hingga kuartal II 2026, turun 11,2% dibandingkan Rp 6,7 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, laba bersih PTPP melonjak 196,5% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 193,46 miliar.

Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo menjelaskan, laba komprehensif tahun berjalan PTPP pada periode tersebut mencapai Rp 68,4 miliar, meningkat 24% YoY.

“Kenaikan laba komprehensif disebabkan oleh kenaikan penghasilan komprehensif lain yang diatribusikan pemilik entitas induk yang naik sebesar 264,2% secara YoY menjadi Rp247,6 miliar," katanya kepada Kontan.

Baca Juga: Bursa Mineral & Komoditas Mulai Beroperasi 1 Januari 2027, OJK Siapkan Aturan Turunan

Kinerja serupa juga terlihat pada ADHI. Pendapatan usaha ADHI tercatat Rp 3,11 triliun per Juni 2026, turun 18,35% dari Rp 3,81 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, ADHI membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 8,49 miliar per Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 12,56% YoY.

Direktur Portofolio Bisnis & Risiko ADHI Rozi Sparta mengatakan, peningkatan laba ADHI didorong oleh kenaikan margin laba kotor akibat klaim atas interest during payment dari proyek LRT Jabodebek.

“Sedangkan pendapatan ADHI turun dikarenakan adanya penurunan produksi untuk proyek-proek besar ADHI yang hampir selesai yaitu Tol Solo Jogja, Tol Jogja Bawen dan Pusri," ujarnya kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).

Waskita Karya Masih Merugi

Berbeda dengan PTPP dan ADHI, WSKT masih mencatatkan rugi bersih Rp 1,91 triliun pada semester I 2026. Meski demikian, nilai kerugian tersebut menyusut 16,96% dibandingkan rugi bersih Rp 2,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Di tengah kerugian tersebut, pendapatan usaha WSKT justru tumbuh 58,49% YoY menjadi Rp 4,91 triliun sepanjang semester I 2026. Salah satu faktor yang memengaruhi kinerja adalah beban pokok pendapatan yang mencapai Rp 4,41 triliun hingga akhir Juni 2026.

Sementara itu, WIKA belum menyampaikan laporan keuangan per 30 Juni 2026. Namun, tekanan terhadap kinerja WIKA masih berkaitan dengan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Pada kuartal I 2026 saja, WIKA menanggung cost overrun sebesar Rp 5,02 triliun dan harus menanggung rugi Rp 1,8 triliun per tahun dari KCIC.

WIKA Beton Masih Cetak Laba

Di tengah tekanan yang dihadapi induknya, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) justru mampu mempertahankan kinerja positif.

Baca Juga: Penjualan EV Melonjak, Simak Prospek Saham di Ekosistem EV

WTON membukukan laba bersih sebesar Rp 4,74 miliar pada semester I 2026. Sekretaris Perusahaan WIKA Beton Ignatius Harry mengatakan, capaian tersebut meningkat 9,14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pendapatan bersih WTON turun dari Rp 1,56 triliun menjadi Rp 1,48 triliun pada semester I 2026.

“Pertumbuhan laba tersebut ditopang efisiensi operasional melalui implementasi sistem digital berbasis Enterprise Resource Planning (ERP) dan divestasi aset nonproduktif,” ujarnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, kinerja emiten BUMN karya pada semester I 2026 menunjukkan divergensi yang semakin jelas. Menurutnya, kinerja operasional sangat dipengaruhi oleh fase restrukturisasi dan struktur modal masing-masing perusahaan.

ADHI, PTPP, serta anak usaha spesialis seperti WTON masih mampu membukukan pertumbuhan laba bersih. Kinerja tersebut ditopang efisiensi operasional, eksposur terhadap proyek-proyek APBN atau pemerintah dengan skema pembayaran yang lancar, serta arus kas operasi yang terkelola.

Sebaliknya, WIKA dan WSKT masih menghadapi tantangan berat akibat tingginya beban keuangan atau cost of fund serta sisa pengerjaan proyek-proyek lama dengan margin rendah.

Khusus WIKA, ekosistem beban pinjaman dan kewajiban terkait proyek infrastruktur strategis, seperti konsorsium Kereta Cepat Whoosh, masih memberikan tekanan signifikan terhadap beban non-operasional.

“Perbedaan porsi kewajiban berbunga (interest-bearing debt) menjadi pembeda utama antara emiten yang sudah cetak laba dan yang masih rugi,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas juga melihat kinerja BUMN karya pada semester I 2026 masih cenderung mixed.

PTPP, ADHI, dan WTON mencatatkan pertumbuhan laba yang didukung efisiensi dan selektivitas proyek. Sementara itu, WIKA pada kuartal I masih menghadapi tekanan dari beban keuangan dan arus kas.

“Fokus utama sektor saat ini adalah perbaikan neraca dan likuiditas, sehingga proses merger berpotensi bergeser apabila restrukturisasi belum sepenuhnya selesai,” ungkapnya kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).

Baca Juga: Prabowo Janjikan Arah Ekonomi Lebih Jelas, Pelaku Pasar Masih Tunggu Eksekusi

Prospek Semester II 2026

Memasuki semester II 2026, terdapat sejumlah katalis yang berpotensi menopang kinerja emiten BUMN karya.

Nafan menyebut, belanja pemerintah dan proyek strategis nasional dapat meningkatkan order book. Percepatan proyek IKN dan pembangunan infrastruktur juga masih menjadi katalis bagi sektor konstruksi.

Selain itu, potensi penurunan suku bunga dapat membantu menekan biaya keuangan. Restrukturisasi utang dan divestasi aset non-core juga berpotensi memperbaiki kondisi likuiditas perusahaan.

Dukungan Danantara dan Himbara dinilai dapat meningkatkan akses pendanaan untuk proyek-proyek yang memiliki kelayakan perbankan atau bankable.

“Terakhir, konsolidasi BUMN Karya dalam jangka menengah berpotensi menghasilkan efisiensi dan mengurangi persaingan internal,” ungkapnya.

Meski demikian, sejumlah risiko masih membayangi. Arus kas operasi atau cash flow from operation masih menjadi persoalan, sementara leverage perusahaan masih tinggi. Kewajiban yang jatuh tempo juga perlu menjadi perhatian investor.

Selain itu, pembayaran termin proyek pemerintah berpotensi mengalami timing mismatch. Margin konstruksi juga masih tipis, sementara proses restrukturisasi membutuhkan waktu.

“Untuk WIKA, beban dan kewajiban terkait proyek Whoosh menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati,” paparnya.

Peran Danantara

Nafan menilai, peran Danantara menjadi katalis struktural penting dalam proses restrukturisasi emiten BUMN karya. Namun, dampaknya belum terlihat secara langsung terhadap laba semester I 2026.

Sejak awal 2026, Danantara melakukan governance reset, evaluasi kualitas aset, kebijakan akuntansi, pencadangan, serta penguatan manajemen risiko pada kelompok BUMN karya.

“Artinya, Danantara tidak semata-mata berfungsi sebagai sumber dana, tetapi lebih sebagai arsitek restrukturisasi,” ungkapnya.

Dalam melihat prospek BUMN karya ke depan, Nafan menyarankan investor mencermati lima indikator utama, yakni arus kas operasi, utang, kualitas kontrak baru, perkembangan restrukturisasi dan merger, serta kualitas laba.

Baca Juga: IHSG Rebound Sepekan, Pengumuman MSCI Masih Jadi Beban

Untuk saat ini, Nafan masih merekomendasikan sikap wait and see terhadap ADHI dan PTPP.

Sementara itu, Sukarno memperkirakan prospek BUMN karya pada semester II 2026 akan membaik seiring meningkatnya progres proyek infrastruktur, program perumahan, serta dukungan restrukturisasi melalui Danantara.

Namun, tingginya biaya pendanaan, kebutuhan modal kerja, dan risiko keterlambatan pembayaran proyek tetap menjadi tantangan utama.

"Dari sisi fundamental, kami melihat PTPP dan WTON memiliki posisi paling kuat berkat neraca yang relatif lebih sehat."

“ADHI berpotensi melanjutkan pemulihan, sedangkan WIKA masih membutuhkan waktu untuk memperbaiki leverage dan arus kas,” tuturnya.

Dalam kondisi tersebut, investor perlu mencermati arus kas operasional, posisi utang, kualitas piutang proyek, dan perkembangan restrukturisasi masing-masing emiten.

“Dalam fase saat ini, perbaikan likuiditas lebih penting dibanding pertumbuhan pendapatan,” paparnya.

Sukarno pun merekomendasikan trading buy untuk PTPP dan ADHI dengan target harga masing-masing Rp 240-Rp 260 per saham dan Rp 175 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: