Kinerja Emiten Grup Merdeka Melesat, Intip Rekomendasi Saham MDKA, MBMA dan EMAS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tiga emiten dalam ekosistem Merdeka Group mencatatkan kinerja operasional yang menguat pada kuartal III-2026, ditopang peningkatan produksi nikel, emas, serta kontribusi hilirisasi.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), misalnya, yang membukukan penjualan produk sebesar US$817,3 juta sepanjang kuartal III-2026. Ini ditopang produk Nickel Pig Iron (NPI), bijih limonit, dan High Grade Nickel Matte (HGNM).

Selain nikel, sektor emas menyumbang penjualan MDKA sebesar US$ 72,9 juta. Produksi emas gabungan Tambang Emas Pani dan Tambang Emas Tujuh Bukit mencapai 50.142 ons selama kuartal ketiga.


Presiden Direktur Merdeka Copper Gold Albert Saputro bilang portofolio perseroan semakin solid seiring perkembangan operasi nikel, pertumbuhan produksi emas Pani, dan kontribusi bisnis hilirisasi terhadap diversifikasi penjualan.

Baca Juga: Dolar Australia Jadi Mata Uang Komoditas Paling Menarik, Ini Proyeksi Kursnya

“Operasi nikel kami terus berkembang, Tambang Emas Pani kembali mencetak pertumbuhan produksi kuartalan yang kuat, dan bisnis hilirisasi kami mulai memberikan kontribusi dari rentang produk yang lebih luas,” jelasnya, Senin (2/11/2026). 

Sementara itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatatkan rekor produksi bijih nikel sebesar 12,3 juta wet metric tonnes (wmt) pada kuartal III-2026, meningkat 61% secara tahunan maupun kuartalan.

Adapun produksi saprolit meningkat 68% secara tahunan menjadi 3,3 juta wmt. Sementara produksi limonit naik 62% menjadi 9 juta wmt seiring peningkatan produktivitas penambangan.

Penguatan produksi tersebut turut mendongkrak margin tunai saprolit hingga 23 kali lipat secara tahunan menjadi US$ 25,8 per wmt. Sementara margin tunai limonit juga meningkat 85% menjadi US$ 12 juta wmt. 

Presiden Direktur Merdeka Battery Materials Teddy Oetomo menambahkan pencapaian tersebut mencerminkan peningkatan produktivitas dan eksekusi operasional, sekaligus memperkuat integrasi bisnis pertambangan hingga pengolahan nikel.

“Rekor produksi bijih nikel dan margin hulu yang lebih kuat mencerminkan peningkatan yang terus kami lakukan dalam hal produktivitas dan eksekusi operasional,” katanya. 

Meski demikian, segmen pemrosesan nikel masih menghadapi tekanan margin akibat kenaikan harga bijih, biaya energi, dan peleburan. NPI mempertahankan margin positif, sedangkan HGNM mencatat margin negatif.

Di sisi lain, fasilitas Acid Iron Metal (AIM) MBMA memproduksi 291.198 ton asam sulfat, meningkat 13% secara kuartalan. Pendapatan produk tersebut juga naik 18% menjadi sekitar US$ 98 juta.

Baca Juga: Penjualan INDF dan ICBP Tumbuh, Tapi Laba Bersih Kompak Turun Begini Prospek Sahamnya

Adapun PT ESG New Energy Material telah mengoperasikan kedua lini produksi HPAL dengan utilisasi sekitar 96% pada September. Sementara itu, PT Sulawesi Nickel Cobalt menargetkan produksi perdana MHP pada 2026.

Beralih ke PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), emiten tambang emas ini mencatatkan produksi sebesar 26.331 ons pada kuartal III-2026, melonjak 69% secara kuartalan seiring peningkatan kapasitas operasi Tambang Emas Pani.

EMAS juga berhasil menekan biaya tunai atau cash cost sebesar 13% secara kuartalan menjadi US$ 7,78 per ons. Sementara itu, biaya pemeliharaan menyeluruh atau all in sustaining cost (AISC) turun 12% menjadi US$ 1.281 per ons.

Presiden Direktur Merdeka Gold Resources  Boyke P. Abidin bilang peningkatan kapasitas Tambang Emas Pani menunjukkan perbaikan produksi, kinerja operasional, serta efisiensi biaya sepanjang kuartal ketiga tahun ini.

“Kuartal ketiga ini membuktikan stabilitas peningkatan kapasitas di Tambang Emas Pani, yang ditandai dengan angka produksi lebih tinggi, kinerja operasional yang lebih kuat, serta efisiensi biaya yang membaik,” ujar Boyke.

Untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, EMAS mulai membangun fasilitas pengolahan carbon-in-leach (CIL) Tahap I yang ditargetkan menjalani commissioning pada 2028. 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai ketiga emiten Merdeka Group memiliki prospek pertumbuhan menarik pada 2027, meskipun masing-masing mempunyai katalis dan profil risiko berbeda.

Menurut Nafan, EMAS memiliki potensi pertumbuhan paling agresif dari sisi peningkatan produksi dan ekspansi laba, terutama didukung peningkatan kapasitas Tambang Emas Pani.

Baca Juga: SSMS Tebar Dividen Interim Rp 500 Miliar, Catat Jadwalnya

“Selain peningkatan produksi, Nafan menilai penurunan cash cost EMAS menjadi US$ 778 per ons menjadi katalis positif bagi penguatan margin keuntungan, terutama apabila harga emas global bertahan tinggi,” katanya kepada Kontan, Senin (2/11/2026).

Sementara itu, Equity Research Analyst Sucor Sekuritas Andres Yordan mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 3.650 berdasarkan metode valuasi sum-of-the-parts (SOTP).

Dalam hitungannya, valuasi Tujuh Bukit mencapai US$ 2,20 miliar, US$ 2,30 miliar untuk MBMA dan US$ 1,90 miliar untuk Tambang Emas Pani. Menurutnya, Tambang Emas Pani akan menjadi katalis utama MDKA. 

“Bersama kontribusi MBMA yang membaik, hal tersebut memberikan profil laba MDKA yang lebih seimbang antara pemulihan nikel dalam waktu dekat dan pertumbuhan emas jangka panjang,” tulis Andreas dalam riset tertanggal 12 Oktober 2026. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News