Kinerja Emiten Infrastruktur Masih Prospektif, Cermati Saham Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID  - JAKARTA. Kinerja emiten infrastruktur masih prospektif di tengah era suku bunga tinggi.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.

Di tengah penahan suku bunga BI, saham emiten-emiten infrastruktur terpantau melemah. 


Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan, ada cukup banyak faktor penurunan kinerja emiten infrastruktur.

Mulai dari beban utang yang sangat tinggi untuk membiayai proyek, terutama dalam bentuk mata uang dolar Amerika Serikat (AS). 

Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Prospektif, Cek Saham Rekomendasi Analis

Selain itu, situasi dan kondisi yang penuh dengan ketidakpastian, juga telah membuat beberapa saham atau hampir seluruh saham dari seluruh sektor mengalami penurunan. 

“Mulai dari perang, pelemahan rupiah, stabilitas politik, hingga kebijakan fiskal dalam negeri yang selalu menjadi perhatian,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (23/8/2026).

Per Jumat (21/8) lalu, indeks IDXINFRA bahkan sudah turun 28,18% sejak awal tahun alias year to date (YTD). Sebagai perbandingan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 24,53% YTD.

Setidaknya ada 10 emiten dengan bobot terbesar dalam sektor ini. Yaitu ISAT, EXCL, TLKM, BREN, CDIA, TOWR, dan MORA.

Saham TLKM turun 25% YTD, BREN 64,33% YTD, CDIA 57,49% YTD, TOWR 25,81% YTD, dan EXCL 24,27% YTD.

 
TLKM Chart by TradingView

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan, penurunan IDXINFRA lebih disebabkan faktor earnings, leverage, capital expenditure (capex), foreign outflow dan sentimen pasar yang masih selektif. 

Baca Juga: Kinerja Emiten Kawasan Industri Beragam, Simak Saham Rekomendasi Analis

“Jadi saat ini suku bunga bukan satu-satunya perhatian. Tekanan di saham-saham besar, seperti TLKM, juga ikut membebani indeks,” katanya kepada Kontan, Minggu (23/8).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, penyebab penurunan IDXINFRA tidak terlepas dari aksi profit taking yang dilakukan pelaku pasar di sektor ini. 

Saham seperti BREN yang merupakan saham dengan market cap terbesar di sektor ini. Selain itu, saham lainnya yang juga memiliki market cap yang besar, seperti CDIA dan MORA, di tahun sebelum 2026 tengah mencatatkan kenaikan yang signifikan.

“Sehingga sesuatu yang wajar jika secara YTD mencatatkan penurunan yang signifikan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).

Hal tersebut juga dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari ketegangan geopolitik, naiknya harga minyak, inflasi, naiknya suku bunga, kebijakan MSCI, dan lain sebagainya. 

Menurut Imam, kebijakan BI mempertahankan suku bunga di dalam RDG pekan ini tidak serta-merta menjadi katalis yang membuat sektor infra langsung berbalik positif. 

Baca Juga: Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis

“Namun, jika melihat pergerakan dari price action IDXINFRA, juga mulai menunjukkan adanya potensi trend reversal setelah terjadi breakout pada pola ascending triangle pada 18 Agustus 2026 lalu,” ungkapnya.

Nico melihat, di sektor infrastruktur, kinerja TLKM dan ISAT masih akan prospektif hingga akhir tahun 2026. Alasannya karena kedua emiten itu mengandalkan dominasi pendapatan berulang (recurring revenue) dalam bentuk rupiah.