KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sebagian besar emiten jasa kontraktor pertambangan cenderung kurang optimal pada awal 2026 kendati harga batubara meningkat. Emiten di sektor ini bakal berharap banyak pada perbaikan operasional dan diversifikasi komoditas. Bila ditelusuri, beberapa emiten jasa pertambangan mencatat penurunan dari sisi top line atau pendapatan. PT United Tractors Tbk (UNTR) misalnya, mereka mengalami koreksi pendapatan bersih 17% year on year (yoy) menjadi Rp 28,6 triliun pada kuartal I-2026. Pendapatan UNTR dari segmen kontraktor penambangan pun menyusut 6% yoy menjadi Rp 11,9 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk UNTR tergerus 79,83% yoy menjadi Rp 642,76 miliar. Baca Juga: IHSG Berpotensi Rebound Terbatas pada Selasa (12/5), Ini Kata Analis PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga mengalami penurunan pendapatan 1,90% yoy menjadi Rp 1,55 triliun pada kuartal I-2026. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk DEWA masih bisa tumbuh 34,59% yoy menjadi Rp 92,72 miliar. PT ABM Investama Tbk (ABMM) turut mencatat penurunan pendapatan sebesar 10,94% yoy menjadi US$ 222,66 juta pada kuartal I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ABMM juga terkikis 32,73% yoy menjadi US$ 14,43 juta. Emiten lainnya, PT Samindo Resources Tbk (MYOH) mengalami koreksi tipis pada pendapatannya sebesar 0,02% yoy menjadi US$ 40,96 juta pada kuartal I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk MYOH juga berkurang 0,79% yoy menjadi US$ 3,73 juta. Sebaliknya, PT Petrosea Tbk (PTRO) mampu meraih kenaikan pendapatan 84,24% yoy menjadi US$ 284,13 juta pada kuartal I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PTRO ikut melesat 50,54% yoy menjadi US$ 1,39 juta. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, penurunan pendapatan sejumlah emiten jasa kontraktor pertambangan pada kuartal I-2026 umumnya dipengaruhi oleh melambatnya aktivitas produksi dan pengupasan lapisan tanah (overburden removal) dari pemilik tambang. Baca Juga: PMI Manufaktur Kembali Kontraksi, Ini Saham yang Paling Terdampak Salah satu faktor utama memang berasal dari keterlambatan atau penyesuaian persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), sehingga beberapa perusahaan tambang menahan laju produksi sambil menunggu kepastian kuota. Kondisi ini otomatis berdampak pada volume pekerjaan kontraktor tambang karena mayoritas pendapatan mereka sangat bergantung pada jumlah material yang dipindahkan dan volume produksi para pelanggan. "Selain itu, faktor cuaca ekstrem pada awal tahun juga ikut menghambat operasional di sejumlah wilayah tambang, khususnya Kalimantan," ujar dia, Senin (11/5/2026). Di sisi lain, tekanan harga batubara yang sempat melemah pada akhir 2025 membuat sebagian pemilik tambang lebih selektif dalam belanja operasional dan ekspansi produksi. Meski demikian, emiten seperti PTRO masih mampu mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih karena ditopang kontrak baru, diversifikasi proyek, serta eksposur ke mineral non-batubara. Sementara itu, DEWA masih dapat meningkatkan laba bersih berkat adanya efisiensi biaya, perbaikan margin, serta kontribusi bisnis non-operasional meskipun pendapatan mereka turun. Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memperkirakan peluang pemulihan kinerja emiten-emiten jasa kontraktor pertambangan cukup terbuka pada kuartal berikutnya seiring produksi tambang yang mulai meningkat dan harga batubara masih relatif solid. Kondisi ini bisa mengangkat volume overburden removal dan pengangkutan batubara dari emiten, terutama pada semester II-2026. Namun, tantangan belum berakhir mengingat adanya kenaikan harga BBM industri yang dapat mengerek beban emiten jasa pertambangan dalam mengoperasikan alat berat untuk produksi. Sentimen ini juga bisa menekan margin laba bagi emiten di sektor tersebut.
Kinerja Emiten Kontraktor Tambang Kuartal I-2026 Melemah Saat Harga Batubara Naik
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sebagian besar emiten jasa kontraktor pertambangan cenderung kurang optimal pada awal 2026 kendati harga batubara meningkat. Emiten di sektor ini bakal berharap banyak pada perbaikan operasional dan diversifikasi komoditas. Bila ditelusuri, beberapa emiten jasa pertambangan mencatat penurunan dari sisi top line atau pendapatan. PT United Tractors Tbk (UNTR) misalnya, mereka mengalami koreksi pendapatan bersih 17% year on year (yoy) menjadi Rp 28,6 triliun pada kuartal I-2026. Pendapatan UNTR dari segmen kontraktor penambangan pun menyusut 6% yoy menjadi Rp 11,9 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk UNTR tergerus 79,83% yoy menjadi Rp 642,76 miliar. Baca Juga: IHSG Berpotensi Rebound Terbatas pada Selasa (12/5), Ini Kata Analis PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga mengalami penurunan pendapatan 1,90% yoy menjadi Rp 1,55 triliun pada kuartal I-2026. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk DEWA masih bisa tumbuh 34,59% yoy menjadi Rp 92,72 miliar. PT ABM Investama Tbk (ABMM) turut mencatat penurunan pendapatan sebesar 10,94% yoy menjadi US$ 222,66 juta pada kuartal I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ABMM juga terkikis 32,73% yoy menjadi US$ 14,43 juta. Emiten lainnya, PT Samindo Resources Tbk (MYOH) mengalami koreksi tipis pada pendapatannya sebesar 0,02% yoy menjadi US$ 40,96 juta pada kuartal I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk MYOH juga berkurang 0,79% yoy menjadi US$ 3,73 juta. Sebaliknya, PT Petrosea Tbk (PTRO) mampu meraih kenaikan pendapatan 84,24% yoy menjadi US$ 284,13 juta pada kuartal I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PTRO ikut melesat 50,54% yoy menjadi US$ 1,39 juta. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, penurunan pendapatan sejumlah emiten jasa kontraktor pertambangan pada kuartal I-2026 umumnya dipengaruhi oleh melambatnya aktivitas produksi dan pengupasan lapisan tanah (overburden removal) dari pemilik tambang. Baca Juga: PMI Manufaktur Kembali Kontraksi, Ini Saham yang Paling Terdampak Salah satu faktor utama memang berasal dari keterlambatan atau penyesuaian persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), sehingga beberapa perusahaan tambang menahan laju produksi sambil menunggu kepastian kuota. Kondisi ini otomatis berdampak pada volume pekerjaan kontraktor tambang karena mayoritas pendapatan mereka sangat bergantung pada jumlah material yang dipindahkan dan volume produksi para pelanggan. "Selain itu, faktor cuaca ekstrem pada awal tahun juga ikut menghambat operasional di sejumlah wilayah tambang, khususnya Kalimantan," ujar dia, Senin (11/5/2026). Di sisi lain, tekanan harga batubara yang sempat melemah pada akhir 2025 membuat sebagian pemilik tambang lebih selektif dalam belanja operasional dan ekspansi produksi. Meski demikian, emiten seperti PTRO masih mampu mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih karena ditopang kontrak baru, diversifikasi proyek, serta eksposur ke mineral non-batubara. Sementara itu, DEWA masih dapat meningkatkan laba bersih berkat adanya efisiensi biaya, perbaikan margin, serta kontribusi bisnis non-operasional meskipun pendapatan mereka turun. Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memperkirakan peluang pemulihan kinerja emiten-emiten jasa kontraktor pertambangan cukup terbuka pada kuartal berikutnya seiring produksi tambang yang mulai meningkat dan harga batubara masih relatif solid. Kondisi ini bisa mengangkat volume overburden removal dan pengangkutan batubara dari emiten, terutama pada semester II-2026. Namun, tantangan belum berakhir mengingat adanya kenaikan harga BBM industri yang dapat mengerek beban emiten jasa pertambangan dalam mengoperasikan alat berat untuk produksi. Sentimen ini juga bisa menekan margin laba bagi emiten di sektor tersebut.
TAG: