Kinerja Emiten Media Diprediksi Masih Berat di Era Layanan Streaming



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten media diprediksi masih berat di tengah tingginya konsumsi masyarakat akan layanan streaming.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, persaingan layanan OTT dan TV kabel atau TV digital masih sengit. Sebab, banyak juga provider telekomunikasi yang juga menyediakan layanan OTT.

“Terjadi pergeseran gaya hidup masyarakat, di mana juga layanan internet juga sudah memadai dan para provider telekomunikasi juga ada layanan streaming,” kata Nafan kepada Kontan.co.id, Kamis (25/1).


Jika melansir kinerja keuangan kuartal kuartal III 2023, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mencatatkan pendapatan sebesar Rp 4,79 triliun, turun 3,26% secara tahunan atau year on year (YoY).

Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk SCMA per 30 September 2023 juga terperosok 71,52% secara tahunan menjadi Rp 236,58 miliar. 

Baca Juga: Kinerja Emiten Media Bakal Tersengat Sentimen Pemilu 2024

PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mencatatkan pendapatan setelah dikurangi eliminasi mencapai Rp 6,04 triliun per September 2023. Raihan tersebut turun 17,54% YoY dari Rp 7,33 triliun.  

Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk MNCN hingga kuartal III-2023 ambles 47,44% secara tahunan menjadi Rp 870,54 miliar dari Rp 1,65 triliun.

Peningkatan pendapatan emiten media di tahun 2024 akan dikerek dari penerimaan iklan, termasuk iklan pemilu. Tetapi hal ini tetap bergantung pada anggaran belanja pemerintah. 

“Saat ini, mesin politik lebih digerakkan lewat komentar masyarakat di media sosial yang menyediakan akses konten edukasi politik di Tanah Air,” tutur dia.

Baca Juga: Resmi, Ini Jadwal Kampanye Akbar Pemilu 2024, Apa Saja Aturan & Larangan Kampanye

Menurut Nafan, kinerja para emiten media bisa terkerek dengan turut menjalin kerja sama dengan sejumlah OTT global ternama.

“Setiap OTT global ternama itu per negara menampilkan layanan yang berbeda. Jika mereka bisa kerja sama untuk menawarkan layanan yang lebih lengkap,” paparnya.

Nafan pun merekomendasikan hold untuk saham MNCN dan SCMA dengan target harga masing-masing Rp 422 per saham dan Rp 153 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News