KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju kinerja emiten properti diperkirakan masih berat di tahun 2026. Rendahnya minat dan daya beli masyarakat masih menjadi salah satu masalah di industri properti tahun ini. Sepanjang tahun 2025, kinerja emiten properti terpantau beragam. Misalnya, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha tercatat Rp 12,61 triliun di tahun 2025. Angka ini naik 12,77% dari Rp 11,18 triliun di tahun 2024. CTRA mengantongi laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar Rp 2,66 triliun di akhir 2025 atau naik 25,24% YoY dari Rp 2,12 triliun.
Sementara itu, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,14 triliun di akhir 2025, naik 83,89% yoy dari Rp 623,91 miliar. Presiden Direktur PANI Sugianto Kusuma mengatakan, kenaikan laba bersih ini berkat realisasi pendapatan PANI di tahun lalu yang juga tumbuh 42% secara tahunan menjadi Rp 4,3 triliun. “Pertumbuhan kinerja tersebut didukung oleh total aset sekitar Rp 50 triliun serta land bank seluas 1.838 hektare, kami optimistis PIK2 terus berkembang sebagai kawasan kota mandiri modern berskala besar,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: BEI Rilis 4 Saham dengan Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Ini Daftarnya PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 7,11 triliun pada 2025, meningkat 7% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 6,67 triliun. Corporate Secretary PWON Minarto Basuki mengatakan, pertumbuhan pendapatan juga ditopang kontribusi pendapatan berulang. “Perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan bersih dimana didukung oleh pendapatan berulang yang terdiri dari segmen pusat perbelanjaan ritel yang meningkat 14% dari Rp 3,43 triliun pada tahun sebelumnya, menjadi Rp 3,93 triliun,” ungkap Minarto, dalam keterangannya. Laba bersih PWON tercatat tumbuh 14% dari Rp 2,42 triliun pada 2024 menjadi Rp 2,76 triliun di 2025. Di sisi lain, ada emiten properti yang mencatatkan penurunan kinerja. Misalnya, pendapatan neto SMRA tercatat Rp 8,76 triliun sepanjang 2025, turun 17,47% dari Rp 10,62 triliun pada tahun 2024. Laba bersih SMRA juga menyusut 44,18% YoY ke Rp766,55 miliar di 2025. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membukukan pendapatan usaha BSDE Rp 12,78 triliun per 2025, turun 7,3% dari Rp 13,79 triliun di tahun sebelumnya. Laba bersih turun 41,6% YoY ke Rp 2,54 triliun di 2025. Direktur BSDE Hermawan Wijaya bilang, secara komposisi, segmen residensial masih menjadi kontributor terbesar pra penjualan BSDE dengan nilai mencapai Rp 4,19 triliun atau setara 42% dari total pra penjualan 2025. “Capaian ini menunjukkan minat konsumen yang tetap kuat terhadap produk hunian,” katanya.
Baca Juga: IHSG Melemah Pekan Ini, Lonjakan Harga Minyak Tekan Sentimen Pasar Penyebab Kinerja Beragam
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, perbedaan kinerja emiten properti di 2025 dipengaruhi oleh waktu pengakuan pendapatan, bukan sekadar penjualan unit. Emiten seperti CTRA dan PWON lebih resilien, karena memiliki pendapatan berulang alias recurring income (mal, hotel, komersial) yang stabil. Sementara, SMRA lebih bergantung pada penjualan residensial yang siklikal, sehingga lebih sensitif terhadap pelemahan daya beli dan kenaikan bunga. “Selain itu, faktor high-base di 2024, kenaikan biaya bunga, dan tertundanya serah terima unit juga menekan laba di beberapa emiten,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (2/4/2026). Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi melihat, jeda waktu pengakuan pendapatan, bauran produk, dan porsi recurring income. Kenaikan CTRA dan PWON ditopang recurring income (mal/hotel) yang stabil. PANI didorong konsolidasi masif PIK2. “SMRA dan BSDE disebabkan lag serah terima proyek, bukan karena lemahnya marketing sales,” kata Wafi kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: Penjualan Naik Tipis, Laba Bersih (ACES) Merosot 25% di 2025 Kevin Halim, Analis Maybank Sekuritas melihat, penurunan kinerja SMRA dan BSDE dikarenakan penurunan dari pengakuan pendapatan dan juga dikarenakan high-base dari tahun 2024. Menurutnya, SMRA dan BSDE membukukan pendapatan yang naik signifikan dikarenakan adanya kenaikan aktivitas handover yang didorong oleh kenaikan jumlah penjualan ready-stock units dan banyaknya penyelesaian konstruksi rumah pada tahun tersebut. Sedangkan untuk CTRA, pengakuan pendapatan yang dilakukan pada tahun 2024 tidak naik sebesar SMRA dan BSDE. Sehingga, earnings dari CTRA dapat mengalami kenaikan di tahun 2025 yang didorong juga oleh kenaikan aktivitas handover pada tahun 2025. Untuk PWON, profilnya sedikit berbeda dengan CTRA, SMRA, dan BSDE. Sebab, kontribusi pendapatan PWON lebih besar dari recurring revenue (rental mall dan bisnis hotel) yang mengalami pertumbuhan di 2025. Untuk PANI, kenaikan earnings disebabkan oleh banyaknya backlog rumah yang belum di handover kepada pembeli rumah. “Di tahun 2025, PANI melakukan banyak aktivitas handover sehingga pendapatan terkerek naik,” kata Kevin kepada Kontan, Kamis (2/4/2026). Kinerja emiten properti di tahun 2026 dilihat masih prospektif, namun cenderung positif. Liza bilang, sentimen positif datang dari potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI), perpanjangan insentif PPN DTP, dan pemulihan KPR yang bisa mendorong pendapatan prapenjualan (marketing sales). Namun, sentimen negatif tetap ada dari daya beli yang belum pulih, transmisi bunga KPR yang lambat, serta biaya konstruksi dan bunga yang masih tinggi. “Secara umum, sektor ini masih dalam fase early recovery,” ujar Kevin.
Baca Juga: OJK Yakin MSCI Tak Turunkan Status Pasar Modal Indonesia Menjadi Frontier Market Dari sisi fundamental, emiten dengan bank tanah besar, pricing power kuat, dan recurring income, seperti BSDE, CTRA, dan PWON, berpotensi jadi jawara di tahun 2026. Sementara, emiten yang lebih agresif melakukan ekspansi tanpa arus kas dari aset recurring cenderung pulih secara bertahap. “Saham sektor properti juga masih relatif menarik karena diperdagangkan di bawah rata-rata historis, meskipun sebagian sudah mulai rerating,” ungkapnya.
Rekomendasi Saham
Menurut Wafi, sentimen positif ke kinerja emiten properti adalah ekspektasi pemangkasan BI rate, insentif PPN DTP, dan tingginya permintaan segmen menengah atas. “Sementara, sentimen negatif berasal dari daya beli segmen menengah bawah yang tertekan inflasi. CTRA dan BSDE berpeluang memimpin secara fundamental,” katanya. Wafi pun menyarankan investor memerhatikan saham CTRA, BSDE, dan PANI dengan target harga masing-masing Rp 1.400 per saham, Rp 1.200 per saham, dan Rp 6.000 per saham. Kevin bilang, emiten properti masih menemui tantangan di tahun 2026 dikarenakan kondisi geopolitik yang memanas, sehingga mengakibatkan ketidakpastian ekonomi yang dapat menurunkan minat beli dari para pembeli properti.
Baca Juga: OJK Tuntaskan 4 Reformasi Pasar Modal: Free Float Hingga Transparansi Data Investor Pada tahun ini, developer yang memiliki flagship township, seperti BSDE dengan BSD City dan SMRA dengan Summarecon Serpong, dapat tetap memberikan kinerja yang resilien.
“Sebab, permintaannya lebih resilien pada kota-kota flagship tersebut,” tuturnya. Secara discount to RNAV, saham SMRA juga memiliki valuasi yang paling rendah dengan diskon to RNAV yang mendekati 90%. Kevin pun merekomendasikan beli untuk BSDE dengan target harga Rp 1.050 per saham, CTRA Rp 1.300 per saham, PWON Rp 580 per saham, dan SMRA Rp 334 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News