KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten semen mencatatkan peningkatan kinerja sepanjang periode Januari-September 2026. Salah satu pendorongnya berasal dari pemulihan permintaan domestik. Tengok saja, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) membukukan kenaikan pendapatan neto sebesar 8,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 14,07 triliun. Ini didorong oleh peningkatan total volume penjualan semen dan klinker sebesar 9% YoY menjadi 15,75 juta ton hingga September 2026.
“Peningkatan ini didukung volume penjualan domestik yang tumbuh 7,6% dan volume penjualan ekspor yang melonjak 55,9%,” kata Dani Handajani, Corporate Secretary INTP dalam keterangan resmi, Selasa (3/11/2026). Laba INTP per September 2026 pun meningkat 22,5% YoY menjadi Rp 1,30 triliun. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) membukukan laba bersih Rp 532 miliar, naik 363,1% YoY. Pada periode yang sama, pendapatan SIG tumbuh 9,3% YoY menjadi Rp 27,67 triliun.
Baca Juga: Kontrak Baru WIKA Melonjak 57,9%, Tembus Rp 9,78 Triliun hingga September 2026 Direktur Utama Semen Indonesia, Indrieffouny Indra mengatakan, perusahaan menjalankan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tekanan industri, mulai dari penguatan pasar hingga efisiensi operasional dan pengelolaan keuangan. “Optimalisasi efisiensi biaya dan operasional turut berkontribusi terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (31/10/2026). PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) membukukan pendapatan sebesar Rp 8,48 triliun pada periode Januari-September 2026, tumbuh 8,3% YoY. Anak usaha SMGR itu juga mencatatkan laba periode berjalan Rp 476,69 miliar, naik tipis 0,45% YoY. Direktur Utama Solusi Bangun Indonesia, Rizki Kresno Edhie Hambali mengatakan, SMCB juga mulai merealisasikan ekspor semen pada Juni 2026. “Hingga September 2026, SMCB telah mengekspor lebih dari 300.000 ton semen khusus ke Pantai Barat Amerika Serikat melalui kemitraan dengan Taiheiyo Cement Corporation,” ujarnya dalam keterangan resmi tanggal 30 Oktober 2026. PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) mengantongi pendapatan dari kontrak dengan pelanggan neto sebesar Rp 7,47 triliun per September 2026, naik 16,23% YoY. Sayangnya, rugi CMNT meningkat 28,90% YoY menjadi Rp 240,81 miliar. Penyebabnya berasal dari rugi selisih kurs keuangan neto dan bagian atas rugi entitas asosiasi yang masing-masing naik menjadi Rp 292,80 miliar dan Rp 10,30 miliar. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, kinerja emiten semen pada kuartal III 2026 menunjukkan perbaikan seiring pemulihan permintaan domestik. Penjualan semen domestik Januari–September 2026 tumbuh 8,3% YoY menjadi 49,5 juta ton, dengan penjualan Q3 mencapai 18,7 juta ton atau tumbuh 4,8% YoY. Selain itu, sentimen positif penggerak kinerja masing-masing berasal dari pemulihan konsumsi semen, proyek infrastruktur, dan pembangunan kawasan industri. Namun, kenaikan biaya energi, batu bara, logistik, serta persaingan harga masih menjadi tantangan. Kondisi oversupply juga dinilai mulai membaik secara relatif, tetapi belum terselesaikan secara struktural. Kapasitas produksi nasional sekitar 120 juta ton per tahun, sementara utilisasi masih berkisar 53%–55%.
Baca Juga: Laba ANTM Melonjak 47,9% hingga September 2026, Simak Prospeknya ”Artinya, kelebihan kapasitas masih cukup besar dan membatasi ruang kenaikan harga jual semen,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/11/2026). Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, raihan pendapatan emiten produsen semen sepanjang kuartal III 2026 menunjukkan tren pemulihan operasional yang terukur dan solid. Kenaikan volume penjualan domestik ini secara utama didorong oleh percepatan realisasi belanja infrastruktur pemerintah di semester II, ekspansi proyek infrastruktur dan properti komersial di luar Pulau Jawa, serta resiliensi permintaan pada segmen semen kantong (ritel) untuk kebutuhan hunian swasta. “Selain itu, langkah para emiten dalam menata ulang efisiensi logistik, optimalisasi rantai pasok, serta penurunan beban bunga utang secara efektif berhasil mengamankan margin profitabilitas dan EBITDA di tengah tantangan fluktuasi biaya energi batu bara dan ketatnya persaingan harga jual rata-rata (ASP),” ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/11). Sementara itu, Tim Riset Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI Sekuritas) melihat, perbaikan kinerja emiten semen di kuartal III sebagian disebabkan karena basis pendapatan yang sudah lebih rendah sebelumnya. Sentimen positif penggerak kinerja mereka adalah belanja pemerintah yang dipercepat, program Koperasi Desa dan Sekolah Rakyat, serta pemulihan konstruksi daerah. Sedangkan, sentimen negatif berasal dari biaya energi yang naik lantaran batu bara mahal dan rupiah lemah, serta persaingan harga dari pemain baru. “Kelebihan pasokan juga belum selesai, sebab utilisasi masih 55%–60% dari kapasitas 120 juta ton,” ujarnya kepada Kontan, Rabu. Tantangan untuk industri semen masih akan terjadi hingga 2027. Namun, bukan berarti tidak ada potensi untuk membaik secara bertahap. Elandry melihat, pemulihan industri semen berpotensi membaik didukung belanja infrastruktur, pembangunan perumahan, proyek hilirisasi, dan pemulihan daya beli. Namun, pemulihan margin kemungkinan berjalan lebih lambat dibandingkan pertumbuhan volume karena persaingan harga dan biaya produksi. “Oversupply juga diperkirakan masih lanjut menjadi tantangan pada 2027,” ungkapnya. Dari sisi emiten, INTP relatif unggul dalam profitabilitas dan kualitas neraca. SMGR dan SMCB memiliki keunggulan skala usaha, jaringan distribusi, serta peluang peningkatan efisiensi. Sementara CMNT masih perlu membuktikan konsistensi pemulihan laba dan penguatan neraca. “Secara sektoral, saham semen mulai menarik dicermati, tetapi investor perlu selektif dengan memperhatikan valuasi, margin, arus kas, dan tingkat utang,” katanya.
Baca Juga: Widodo Makmur (WMPP) Raup Pendapatan Rp 961,9 Miliar hingga Kuartal III-2026 Nafan berpandangan, kondisi oversupply di pasar semen dalam negeri belum sepenuhnya lenyap, namun kondisinya terus membaik secara bertahap (gradual absorption). Moratorium penambahan kapasitas terpasang pabrik baru serta disiplin ekspansi dari para emiten membantu menjaga agar capacity utilization rate (tingkat utilisasi pabrik) perlahan naik seiring meningkatnya konsumsi nasional. Dengan kondisi tersebut, kinerja emiten semen di kuartal IV 2026 hingga 2027 diperkirakan tetap berada di jalur positif dengan pertumbuhan yang moderat. Musim puncak belanja modal akhir tahun serta bergulirnya program akselerasi perumahan rakyat dan pembangunan daerah akan menjadi pendorong utama volume penjualan. “Namun, fluktuasi nilai tukar rupiah dan daya beli sektor ritel tetap perlu diwaspadai,” ungkapnya. Dalam peta persaingan industri semen ke depan, SMGR dan INTP diperkirakan tetap memegang kendali kepemimpinan pasar. Menurut Nafan, SMGR unggul dari segi skala jaringan distribusi dan fasilitas produksi paling merata di seluruh Indonesia, sehingga paling diuntungkan oleh proyek infrastruktur nasional. “Sedangkan INTP unggul dalam hal efisiensi operasional, struktur neraca keuangan yang sangat sehat, serta jangkauan pasar Jawa dan Sumatra pasca-integrasi aset strategisnya,” katanya. Tim Riset Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI Sekuritas) menambahkan, penggerak kinerja emiten semen di tahun 2027 bakal berasal dari program pemerintah, pemulihan properti, dan efisiensi restrukturisasi, khususnya SMGR.
Baca Juga: Emiten Ritel Kompak Catat Rapor Hijau hingga September 2026, Begini Prospek Sahamnya Sementara itu, sentimen negatifnya berasal dari terbatasnya ruang fiskal, tingginya biaya energi, dan kelebihan pasokan yang menahan harga.
“INTP unggul dari sisi neraca dan efisiensi, sementara SMGR dari sisi skala dan distribusi,” tuturnya. Elandry merekomendasikan akumulasi bertahap untuk INTP dan SMGR dengan target harga masing-masing Rp 6.200–Rp 6.500 per saham dan Rp 2.460 per saham. Sementara itu, Nafan merekomendasikan add untuk INTP dengan target harga Rp 6.500 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News