KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten tambang batubara berpotensi tertekan di sepanjang 2025 akibat dari pergerakan harga komoditas emas hitam itu yang mengalami penurunan pada tahun lalu. Berdasarkan data Bank Dunia, rata-rata harga batu bara termal Newcastle tercatat anjlok sekitar 20,4% secara tahunan menjadi US$ 108 per ton pada 2025, dari posisi rata-rata US$ 136 per ton di 2024. Salah satu emiten batubara yang sudah merasakan dampak pelemahan komoditas ini adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (
ITMG), yang pendapatan dan laba bersih masing-masing turun 19% secara tahunan dan 49%.
Research Analyst MNC Sekuritas Raka Junico menjelaskan menurunkan
top-line dan
bottom line para emiten batubara di 2025 merupakan isu yang dialami secara industri dan sulit untuk dihindari.
Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,14% ke Rp 16.930 per Dolar AS, Jumat (6/3) Siang Dia bilang tekanan tersebut tak pandang bulu, baik perusahaan skala besar dengan cadangan melimpah maupun pemain skala menengah dan kecil. Raka menjelaskan tekanan margin terjadi ketika harga jual turun sementara biaya produksi relatif sama. Meski begitu, Raka menilai di tengah dinamika penurunan harga batubara, emiten yang telah melakukan diversifikasi atau transformasi bisnis ke sektor lain relatif lebih diunggulkan, “Sebab tidak sepenuhnya bergantung pada siklus batubara terutama untuk jangka menengah dan panjang ketika transisi energi menjadi prioritas dari berbagai negara di dunia termasuk Indonesia,” jelasnya, Jumat (6/3/2026). Namun Raka mengingatkan strategi diversifikasi dan transformasi memang tidak serta-merta membuat kinerja keuangan langsung kinclong atau sepenuhnya kebal dari tekanan harga komoditas. “Namun langkah tersebut menyediakan prospek yang lebih menarik dalam jangka menengah hingga panjang, terutama jika sektor baru yang digarap memiliki karakter pendapatan yang lebih stabil,” ucapnya.
Baca Juga: IHSG Melemah 2,61% ke 7.509 pada Sesi I Jumat (6/3), BRPT, INKP, MAPI Top Losers LQ45 Yakni, PT Indika Energy Tbk (
INDY), PT Bukit Asam Tbk (
PTBA) dan PT TBS Energi Utama Tbk (
TOBA) yang sudah mulai menggelar ekspansi. Ketiganya mulai memperluas sumber pendapatan di luar bisnis inti batubara, meski dengan pendekatan dan fokus yang berbeda-beda. INDY misalnya, secara bertahap melakukan pergeseran dari bisnis batubara menuju portofolio yang lebih terdiversifikasi. INDY merambah ke sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, logistik, hingga investasi di sektor teknologi dan infrastruktur hijau. Contoh lain, PTBA yang juga mulai mengembangkan proyek-proyek hilirisasi batubara dan energi baru terbarukan. PTBA menjajaki pengembangan pembangkit listrik berbasis energi bersih. Sementara TOBA secara terbuka menyatakan transformasi fundamental dalam model bisnisnya. TOBA ini merombak bisnisnya dari batubara menjadi perusahaan yang berorientasi pada keberlanjutan (
sustainability). Sebagai bagian dari strategi tersebut, TOBA telah mendivestasi sejumlah aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara yang dimilikinya di Sulawesi Utara yakni PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL) dan PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP) yang diselesaikan pada Mei 2025. TOBA mengalihkan fokus ke bisnis pengelolaan limbah domestik maupun regional, termasuk melalui akuisisi aset pengolahan limbah dari Sembcorp di Singapura, yang sekarang bernama Cora Environment. Raka mengatakan dari perspektif pasar, emiten-emiten yang sudah melakukan diversifikasi dan transformasi ke sektor bisnis di luar batubara cenderung mendapatkan penilaian lebih positif. “Investor melihat adanya upaya mitigasi risiko siklus komoditas serta peluang pertumbuhan baru yang dinilai lebih berkelanjutan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Menurutnya, dengan bergeser dari sektor batu bara yang sangat siklikal, lini bisnis berbasis
sustainability dinilai mampu menghadirkan stabilitas pendapatan dan laba yang lebih solid dalam jangka menengah hingga panjang. “Selain itu, pendapatan dan arus kas dari sektor seperti pengelolaan limbah atau energi terbarukan relatif lebih bisa diprediksi dan tidak terlalu fluktuatif dibandingkan bisnis komoditas,” ucap Raka. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News