Kinerja ERAA Bakal Bertumbuh Hingga Akhir Tahun, Ini Pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) masih berpotensi bertumbuh tahun ini. Proyeksi tersebut didorong ekspansi, kontribusi anak usaha PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), dan strategi Erajaya.

Analis KGI Sekuritas Indonesia Rovandi mengatakan, tahun ini ERAA terbilang ekspansif. Sebab dari target pembukaan 400 gerai, sudah terealisasikan 343 gerai baru pada akhir Juni 2023.

Ditambah, Erajaya juga akan berekspansi di Malaysia dan Singapura. Langkah tersebut dinilai akan memberikan efek pertumbuhan terhadap kinerja keuangan.


Guna memuluskan ekspansinya di luar negeri, ERAA merilis obligasi senilai S$ 50 juta dengan bunga 4,5%. "Ini akan meningkatkan kewajiban, tetapi juga juga akan meningkatkan performa pendapatan karena dana tersebut akan digunakan sebagai modal ekspansi," kata Rovandi kepada Kontan.co.id, Senin (4/9).

Baca Juga: Investindo Nusantara Berikan Outlook Netral Saham ERAA, Begini Alasannya

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rut Yesika Simak juga menilai ekspansi yang dilakukan ERAA positif untuk mendukung kinerja. Meski memang, dia juga tidak menampik bahwa ekspansi tersebut harus mengorbankan margin terlebih dahulu lantaran biaya operasional yang relatif lebih tinggi.

"Apalagi kinerja dari gerai baru yang dibuka belum serta merta dirasakan tahun ini, paling cepat seharusnya tahun depan, tergantung toko dan brand," sambung Yesika.

Namun, dia melihat ERAA masih mampu mengatur utangnya dengan baik. Bahkan adanya penerbitan surat utang di luar negeri juga dilihat masih relatif lebih menguntungkan untuk Erajaya.

"Saya lihat perkembangan yang lebih baik setelah adanya struktur permodalan yang baru, baik dari bond ataupun dari IPO ERAL. Seharusnya masih bisa diatur dengan baik terkait dengan interest expense nantinya dan lebih jauh untuk kinerja fundamental perusahaan," ujar dia.

Baca Juga: Sinar Eka Selaras (ERAL) Dirikan Usaha Peralatan Golf Bersama Perusahaan Malaysia

Di sisi lain, terdapat bahaya inflasi akibat El Nino dan harga BBM yang meningkat awal September ini. Yesika mencermati, hal tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap bisnis ERAA. Ini mengingat produk yang ditawarkan kebanyakan untuk menengah ke atas yang relatif lebih tangguh terkait kenaikan bahan bakar atau soft commodity lainnya.

Ketangguhan ERAA juga, kata Rovandi, dilihat dari hasil kinerja 2022. "Di tengah inflasi yang tinggi seperti di tahun 2022, dengan harga pangan dan harga BBM naik tinggi, tetapi penjualan ERAA stabil," katanya.

Analis RHB Sekuritas Vanessa Karmajaya menambahkan, katalis positif lainnya dari strategi perseroan dalam memperkuat hubungannya dengan merek Infinix dan Tecno. Sebab, kedua merek tersebut agresif mengisi kekosongan peluncuran produk baru untuk segmen menengah dan bawah dari Oppo, Vivo, Xiaomi, dan Realme.

Baca Juga: Simak Jurus Erajaya Swasembada (ERAA) Genjot Ekspansi di Sisa Tahun Ini

Apalagi katanya, sebesar 80% produk dari dua merek tersebut adalah smartphone dengan harga kurang dari Rp 3 juta. "Berdasarkan data IDC, gawai dengan harga di bawah Rp 3 juta mendominasi pasar domestik atau sekitar 74%," tulinya dalam riset, Senin (4/9).

RHB Sekuritas memproyeksikan kinerja ERAA masih bertumbuh positif dengan pendapatan Rp 56,73 triliun. Sementara laba bersih diprediksi Rp 1,01 triliun.

Vanessa mempertahankan rating buy ERAA dengan target harga Rp 620 per saham. Rovandi juga merekomendasikan ERAA dengan target harga Rp 560 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati