KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada kuartal III-2026 diperkirakan masih berada dalam tren positif. Pertumbuhan perusahaan teknologi tersebut ditopang oleh segmen layanan on-demand dan fintech yang terus berkembang, disertai berlanjutnya upaya efisiensi operasional. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, memperkirakan kinerja GOTO masih akan mencatatkan pertumbuhan pada kuartal III-2026.
"Kinerja GOTO pada kuartal III-2026 masih berpotensi tumbuh positif dengan dukungan dari segmen on-demand services dan fintech, serta efisiensi operasional yang berlanjut. Namun pertumbuhannya kemungkinan lebih moderat karena persaingan yang tetap ketat," ujar Azis kepada Kontan, Rabu (24/6/2026). Pada kuartal I-2026, GOTO membukukan laba bersih Rp 171 miliar. Ini merupakan laba kuartalan pertama sejak perseroan melantai di Bursa Efek Indonesia. Pada periode yang sama, adjusted EBITDA grup melonjak 131% secara tahunan menjadi Rp 907 miliar.
Baca Juga: Regulasi Komisi 8% Bayangi GOTO, Fintech Jadi Andalan Pertumbuhan Kontributor terbesar pertumbuhan tersebut datang dari segmen fintech. Pendapatan bersih segmen ini mencapai Rp 1,9 triliun atau tumbuh 58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, bisnis on-demand services (ODS) yang mencakup layanan transportasi dan pesan antar mencatat pendapatan Rp 3,4 triliun, naik 12% secara tahunan, dengan adjusted EBITDA sebesar Rp 439 miliar atau meningkat 40%. Menurut Azis, terdapat sejumlah faktor yang perlu dicermati investor dalam melihat prospek perseroan ke depan. Mulai dari perkembangan regulasi terkait pembatasan komisi platform transportasi online maksimal 8%, dinamika persaingan industri, kondisi konsumsi domestik, hingga perkembangan bisnis fintech. Selain itu, arah suku bunga dan kondisi makroekonomi juga dinilai akan memengaruhi kinerja perusahaan dalam beberapa kuartal mendatang. Di sisi pasar modal, Azis menilai penurunan harga saham GOTO sejak awal tahun tidak sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental perusahaan. Ia melihat tekanan terhadap saham lebih banyak dipicu oleh faktor sentimen dibandingkan pelemahan operasional.
Baca Juga: Terjerembab Di Saham Gocap, Inilah Deretan Investor Pemilik Saham GOTO Per April 2026 "Koreksi harga saham GOTO sejak awal tahun relatif lebih besar dibanding perubahan fundamentalnya. Tekanan harga lebih banyak berasal dari sentimen regulasi, rotasi sektor, dan arus keluar investor asing," ujar Azis. Lebih lanjut, ia menyoroti rencana pembatasan komisi platform transportasi online menjadi maksimal 8% oleh pemerintah. Kebijakan tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap pendapatan dan margin bisnis transportasi online GOTO apabila diterapkan. Dalam kondisi tersebut, Azis menilai segmen fintech diperkirakan akan memiliki peran yang semakin penting dalam menopang pertumbuhan laba perusahaan. "Jika pembatasan komisi platform diberlakukan, bisnis fintech berpotensi menjadi pendorong utama pertumbuhan laba melalui monetisasi layanan pembayaran dan berbagai layanan keuangan digital," kata Azis.
Meski prospek bisnis masih relatif positif, Azis belum merekomendasikan aksi agresif pada saham GOTO. Ia memilih bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan lebih lanjut terkait regulasi dan kinerja perusahaan. "Untuk saat ini rekomendasi kami masih wait and see terhadap saham GOTO," tutup Azis.
Baca Juga: GOTO Siapkan Empat Strategi Hadapi Aturan Komisi Tarif, Simak Rekomendasi Sahamnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News