Kinerja Grup Merdeka Diproyeksi Berlanjut, Tambang Emas Pani dan HPAL Jadi Katalis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemulihan kinerja emiten Grup Merdeka mulai terlihat pada semester I 2026. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berhasil membalikkan rugi bersih menjadi laba, sementara PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat lonjakan laba hingga 830% secara tahunan.

MDKA membukukan laba bersih US$ 102 juta pada semester I 2026, berbalik dari rugi bersih US$ 16 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, pendapatan MDKA meningkat 64% menjadi US$ 1,40 miliar, sedangkan EBITDA melonjak 191% menjadi US$ 512 juta.

Sementara itu, MBMA mencatat laba bersih US$ 54 juta atau tumbuh 830% secara tahunan. Kinerja tersebut didukung peningkatan produksi nikel terintegrasi, kenaikan penjualan produk hilirisasi, serta kontribusi dari fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel.


Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai pemulihan tersebut menunjukkan MDKA dan MBMA mulai memasuki fase peralihan dari periode investasi dan pembangunan proyek menuju peningkatan kontribusi produksi dan laba.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.978 Per Dolar AS Hari Ini (28/9), Asia Terkoreksi

“Pemulihan kinerja Grup Merdeka pada semester I 2026 menunjukkan bahwa MDKA dan MBMA mulai memasuki fase penting, yaitu peralihan dari periode investasi dan pembangunan proyek menuju peningkatan kontribusi produksi dan laba,” ujar Hendra kepada Kontan, Minggu (27/9/2026).

Menurut Hendra, pertumbuhan kedua emiten ke depan tidak hanya bergantung pada pergerakan harga emas dan nikel. Volume produksi, utilisasi fasilitas pengolahan, efisiensi biaya, serta keberhasilan proyek baru mencapai kapasitas optimal juga menjadi faktor penting.

Untuk MDKA, Tambang Emas Pani menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama hingga 2027. Proyek tersebut masih berada dalam tahap ramp-up sehingga ruang peningkatan produksinya masih terbuka.

Hendra menilai peningkatan produksi Pani dapat menambah volume penjualan emas sekaligus memperbesar kontribusi segmen emas terhadap pendapatan dan laba MDKA. Jika peningkatan kapasitas berjalan sesuai rencana, kontribusi Pani terhadap kinerja MDKA pada 2027 diperkirakan akan lebih terasa dibandingkan 2026.

“Selain meningkatkan produksi, Pani juga dapat memperkuat profil arus kas MDKA karena perusahaan mulai memiliki sumber pendapatan dari tambang emas baru yang skalanya semakin besar,” jelas Hendra.

Baca Juga: Buyback Saham Rp 500 Miliar Jadi Katalis Positif, Cek Rekomendasi Saham KLBF

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand juga menyebut Pani masih berada dalam tahap ramp-up. Manajemen MDKA sebelumnya menyebut kontribusi produksi Pani akan lebih besar pada semester II 2026.

Produksi emas Grup Merdeka pada semester I 2026 meningkat 32% menjadi 66.814 ons. Sementara itu, fasilitas carbon-in-leach atau CIL Pani masih dalam tahap pengembangan dan diharapkan mendukung peningkatan produksi berikutnya.

Di sisi MBMA, HPAL Sulawesi Nickel Cobalt atau SLNC menjadi salah satu katalis penting. Proyek tersebut memiliki kapasitas 90.000 ton per tahun dan ditargetkan menghasilkan produk mixed hydroxide precipitate atau MHP pertama pada semester II 2026, sebelum mencapai ramp-up penuh menjelang akhir tahun.

Abida menyebut kontribusi penuh proyek tersebut baru akan lebih terlihat pada 2027. Pada kuartal II 2026, PT ESG telah memproduksi 4.831 ton nikel dalam bentuk MHP.

“Proyek SLNC 90ktpa hampir rampung, dengan MHP pertama ditargetkan H2-2026 dan ramp-up penuh menjelang akhir tahun. Kontribusi penuh baru terlihat di 2027, sehingga H2-2026 berfungsi sebagai fase transisi volume,” kata Abida.

Hendra menilai peningkatan utilisasi HPAL dapat memperkuat integrasi bisnis MBMA dari tambang hingga produk material baterai. Dengan bertambahnya kontribusi MHP, HGNM, dan AIM, pertumbuhan MBMA berpotensi semakin bergeser dari sekadar peningkatan volume produksi nikel menuju peningkatan nilai tambah.

Meski demikian, momentum pemulihan kinerja kedua emiten tidak berjalan tanpa tantangan. Abida menyoroti bahwa kinerja MBMA pada semester I 2026 juga dipengaruhi faktor kebijakan, terutama perubahan harga patokan mineral atau HPM.

Harga jual rata-rata saprolite MBMA meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$58,9 per wet metric ton setelah penerapan Kepmen ESDM 144 2026. Kondisi tersebut meningkatkan cash margin saprolite dari US$4 menjadi US$26,7 per wet metric ton.

Namun, perbaikan margin tersebut belum terjadi secara merata di seluruh lini. Cash margin NPI turun sekitar separuh menjadi US$1.981 per ton nikel, sedangkan margin HGNM menjadi negatif US$542 per ton nikel akibat kenaikan biaya input.

“Laba Q2 MBMA US$24,5 juta, melemah 18% secara kuartalan, menunjukkan momentum tidak linier,” ujar Abida.

Menurut Hendra, MBMA masih memiliki peluang pertumbuhan melalui peningkatan produksi MHP, HGNM, serta pengembangan fasilitas pengolahan lainnya. Namun, harga nikel global tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena pertumbuhan pasokan, terutama dari Indonesia, dapat membatasi kenaikan margin.

Untuk MDKA, risiko lebih berkaitan dengan volatilitas harga emas dan eksekusi proyek. Jika harga emas tetap berada pada level kuat, kenaikan volume produksi Pani dapat menjadi pengungkit pendapatan dan laba. Sebaliknya, normalisasi harga emas dapat menekan pertumbuhan apabila tidak diimbangi peningkatan volume dan efisiensi biaya.

Abida menambahkan, selain Pani dan SLNC, proyek Tujuh Bukit Copper masih menjadi opsi pertumbuhan jangka panjang MDKA karena saat ini masih berada pada tahap studi kelayakan.

Adapun katalis MDKA hingga 2027 mencakup ramp-up Pani, harga emas, peningkatan efisiensi produksi, serta perkembangan proyek Tujuh Bukit Copper. Sementara bagi MBMA, katalisnya antara lain peningkatan utilisasi SLNC HPAL, pertumbuhan produksi MHP dan HGNM, optimalisasi fasilitas RKEF, serta peningkatan produksi tambang.

Risiko yang perlu diperhatikan mencakup volatilitas harga emas dan nikel, kenaikan biaya energi dan operasional, keterlambatan ramp-up proyek, risiko teknis fasilitas pengolahan, kebutuhan belanja modal, perubahan regulasi, serta kondisi permintaan global.

Dari sisi rekomendasi, Abida memberikan target harga Rp3.200 per saham untuk MDKA. Diversifikasi bisnis emas, nikel, dan tembaga dinilai dapat menjadi penyeimbang risiko dari ketergantungan pada satu komoditas.

Untuk MBMA, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp880 per saham. Target tersebut ditopang oleh repricing bijih nikel dan kontribusi HPAL sebagai pendorong pertumbuhan pada semester II 2026.

Sementara itu, Hendra memberikan strategi speculative buy untuk MDKA dengan target harga Rp 3.300 per saham.

Untuk MBMA, ia merekomenasikan strategi buy on weakness pada kisaran Rp 486–Rp 492 per saham dengan target Rp 600 per saham, dengan pertimbangan pertumbuhan produksi terintegrasi, peningkatan kontribusi HGNM, ekspansi HPAL, dan AIM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News