Kinerja Grup Triputra Positif Sepanjang 2025, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja mayoritas emiten Grup Triputra tercatat positif sepanjang tahun 2025. Tren positif kinerja mereka diproyeksikan berlanjut di tahun 2026, meskipun punya sentimen berbeda di masing-masing sektor industrinya.

Tengok saja, emiten sawit Grup Triputra, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang cetak kinerja moncer di sepanjang tahun 2025 silam. 

Di mana, TAPG catat pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 11,40 triliun di tahun 2025, naik 17,89% dari Rp 9,67 triliun pada tahun sebelumnya.


TAPG pun membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar Rp 3,7 triliun di 2025, naik 18,65% YoY dari Rp 3,12 triliun.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Teknikal ISAT, UNTR, AMRT untuk Jumat (27/3)

PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) juga mencatatkan kinerja cemerlang dengan pendapatan di sepanjang tahun lalu sebesar Rp 5,98 triliun, naik 20,80% YoY. Laba bersih emiten transportasi dan logistik ini sebesar Rp 417,74 miliar pada tahun 2025, melonjak 71,38% YoY.

Tak ketinggalan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) yang mencetak penjualan neto DRMA naik 7,81% YoY dari Rp 5,50 triliun menjadi Rp 5,93 triliun sepanjang tahun lalu. Emiten komponen otomotif ini meraih laba bersih sebesar Rp 652,58 miliar pada tahun 2025, meningkat 12,65% YoY.

PT Kirana Megatara Tbk (KMTR) pun raih kinerja mantap dengan mengantongi penjualan bersih Rp12,82 triliun, melonjak 13,95% YoY. Sayangnya, laba bersih emiten produsen karet ini menyusut 4,99% YoY menjadi Rp185,1 miliar.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan melihat, pelemahan laba KMTR disebabkan oleh margin yang menyempit, kenaikan beban operasional, serta rugi selisih kurs yang membesar, bukan karena pelemahan pendapatan.

“Sementara, kenaikan kinerja TAPG ditopang kenaikan harga crude palm oil (CPO). Untuk ASSA, pendorong kinerjanya berasal dari transformasi bisnis logistik,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (26/3/2026).

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi melihat, peningkatan kinerja TAPG, ASSA, dan DRMA masing-masing terdorong stabilitas produksi CPO, efisiensi beban logistik dan pertumbuhan rental, serta lonjakan pangsa pasar komponen otomotif dan electric vehicle (EV).

“Sementara KMTR tertekan oleh pelemahan permintaan karet global dan volatilitas harga bahan baku,” katanya kepada Kontan, Kamis.

Di tahun 2026, Ekky melihat, kinerja TAPG masih paling menarik. Ini lantaran industri sawit masih mendapat dukungan dari program B40 yang tetap berjalan pada tahun 2026.

“Permintaan domestik relatif terjaga, walaupun tetap ada risiko dari kenaikan levy ekspor yang bisa menekan netback produsen,” katanya.

Baca Juga: Temukan Cadangan Minyak Baru, Prospek Kinerja Energi Mega (ENRG) 2026 Kian Menarik

Kinerja ASSA juga diproyeksikan masih positif di tahun 2026 karena transformasi ke logistik semakin kuat, sementara industri logistik sendiri masih diproyeksikan tumbuh 6%–8% pada 2026. 

Kemudian, kinerja DRMA juga masih cukup menarik karena manajemen menargetkan pertumbuhan penjualan sekitar 10% pada 2026 yang ditopang penguatan ekspor dan pengembangan segmen EV. 

“Prospek kinerja KMTR lebih mixed, karena selama fokusnya tetap pada bisnis karet, pasar masih akan menunggu bukti bahwa margin dan profitabilitasnya benar-benar pulih,” katanya.

Ekky pun melihat saham TAPG layak untuk dicermati dengan target harga di Rp 2.000 per saham.

Sementara, Wafi bilang, tren positif emiten Grup Triputra di tahun 2026 bisa berlanjut secara selektif. 

Katalis positif pendorong kinerjanya berasal dari percepatan lokalisasi komponen EV, ekspansi B2B logistik, dan cuaca mendukung panen sawit. Sedangkan, risikonya berasal dari pelemahan rupiah dan stagnasi daya beli masyarakat. 

“Emiten paling unggul di tahun ini adalah DRMA didukung pertumbuhan struktural otomotif dan ASSA didukung pemulihan profitabilitas logistik,” ungkapnya.

Wafi merekomendasikan beli untuk DRMA, ASSA, dan TAPG dengan target harga masing-masing Rp 1.400 per saham, Rp 1.000 per saham, dan Rp 2.250 per saham.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan, di antara emiten Grup Triputra, kinerja TAPG berpotensi tetap unggul lantaran didukung harga CPO dan ekspansi kapasitas.

ASSA Chart by TradingView

Kinerja ASSA juga diuntungkan pertumbuhan logistik dan ekosistem digital, sementara DRMA didorong oleh potensi kendaraan listrik.

“Tantangan utama untuk kinerja emiten Grup Triputra datang dari volatilitas komoditas global dan perlambatan ekonomi,” katanya kepada Kontan, Kamis.

Azis pun merekomendasikan trading buy untuk DRMA dengan target harga Rp 1.030 - Rp 1.060 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News