KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga saham PT Medikaloka Hermina Tbk (
HEAL) terkoreksi sekitar 15% sepanjang tahun lalu. Meski demikian, prospek emiten rumah sakit ini diperkirakan tetap solid memasuki 2026 seiring ekspansi jaringan dan perbaikan kinerja operasional. Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, pelemahan harga saham lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi jangka pendek daripada perubahan fundamental. Ia mencatat bahwa sampai kuartal III 2025, laba bersih HEAL telah mencapai 83% dari estimasi setahun penuh.
Pendorongnya berasal dari pemulihan volume pasien serta efisiensi biaya tenaga kerja setelah implementasi sistem ERP.
Baca Juga: Reksadana Pendapatan Tetap Masih Primadona, Risiko Kredit Jadi Penentu Utama di 2026 “Untuk tahun 2026, laba bersih HEAL diperkirakan tumbuh dua digit sekitar 12,5%
year-on-year (YoY) dengan margin EBITDA stabil di kisaran 25,9%. Artinya, tekanan harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi operasional yang justru membaik,” ujar Abida kepada Kontan, Selasa (13/1/2026). HEAL berencana menambah tiga rumah sakit baru pada tahun ini. Namun kontribusi pendapatan dari fasilitas baru diperkirakan masih bertahap. “Pertumbuhan pendapatan 2026 sekitar 9,9% YoY lebih banyak ditopang rumah sakit
existing, sedangkan rumah sakit baru biasanya menekan margin di awal sebelum mencapai utilisasi optimal,” jelasnya. Abida menambahkan, ekspansi tetap memberi potensi peningkatan utilisasi grup dalam jangka menengah berkat
economies of scale. Efisiensi dari ERP juga menjadi katalis positif karena menurunkan rasio biaya gaji terhadap pendapatan, sehingga margin tetap terjaga.
Baca Juga: Rupiah Anjlok Sentuh Rp 16.877 per Dolar AS, Siap Menguji Level Krusial Rp 17.000 Sejumlah katalis yang dapat menggerakkan saham tahun ini mencakup percepatan pemulihan volume pasien, peningkatan efisiensi operasional, implementasi KRIS dan
coordination of benefit (CoB), serta potensi sinergi jaringan Djarum–Astra yang dapat menambah volume rawat jalan. Adapun risiko utama yang perlu dicermati investor antara lain potensi kenaikan
capex dan biaya operasional seiring ekspansi agresif hingga 2030, lambatnya peningkatan pasien non-BPJS, serta tekanan dari ketatnya regulasi klaim BPJS. Selain itu, jika rumah sakit baru lebih lambat mencapai
break-even point, margin jangka pendek bisa kembali tertekan. Dari valuasi, Abida menilai harga HEAL di sekitar Rp 1.500 saat ini mencerminkan PER proyeksi 2026 sekitar 40 kali dan EV/EBITDA 12,7 kali.
“Valuasinya premium, tetapi sejalan dengan kualitas aset dan prospek pertumbuhan laba dua digit. Dengan target harga Rp 1.950, kami mempertahankan rekomendasi
buy,” ujar Abida.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News