Kinerja HEXA Terkini: Tantangan Industri Hantam Laba, Simak Strateginya.



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten alat berat PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) mengeduk penghasilan neto senilai US$ 401,07 juta hingga akhir tahun 2025. Penghasilan HEXA tumbuh 8,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy), yang kala itu sebesar US$ 369,23 juta.

Sebagai catatan, periode laporan keuangan HEXA mengikuti Hitachi Construction Machinery (HCM) Jepang, sehingga tahun buku kali ini mencakup periode April 2025 - Maret 2026. Dengan begitu, laporan keuangan per 31 Desember 2025 baru menggambarkan kinerja HEXA selama tiga kuartal atau periode sembilan bulan. 

Merujuk laporan keuangan yang rilis di Bursa Efek Indonesia pada Minggu (1/2/2026), penjualan alat berat HEXA kepada pihak ketiga meningkat 23,62% (yoy) dari US$ 216,93 juta menjadi US$ 268,17 juta. Penjualan alat berat kepada pihak ketiga menopang penghasilan HEXA dengan kontribusi 66,86% terhadap total penghasilan HEXA selama sembilan bulan hingga Desember 2025.


Pada periode yang sama, HEXA membukukan penjualan alat berat kepada pihak berelasi sebesar US$ 1,31 juta. Pada periode yang sama di tahun sebelumnya, HEXA tidak mencatat penghasilan dari segmen ini. 

Baca Juga: Hexindo (HEXA) Bidik Pendapatan US$ 609,8 Juta dengan Penjualan 2.900 Unit Ekskavator

Hanya saja meski penghasilan menanjak, tapi laba HEXA mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah beban pokok penghasilan HEXA yang naik lebih tinggi, yakni sebesar 11,84% (yoy) dari US$ 290,01 juta menjadi US$ 324,36 juta.

Hasil ini membuat laba bruto HEXA menyusut 3,18% (yoy) dari US$ 79,22 juta menjadi US$ 76,70 juta. Sejalan dengan itu, laba usaha HEXA turut mengalami penurunan sebanyak 8,13% (yoy) US$ 32,46 juta menjadi US$ 29,82 juta.

HEXA membukukan laba tahun berjalan senilai US$ 18,57 juta hingga Desember 2025. Hasil ini mencerminkan penurunan sebesar 12,36% dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$ 21,19 juta.

Sebelumnya, Manajemen HEXA mengungkapkan bahwa pada periode tahun buku ini Hexindo Adiperkasa membidik penghasilan neto (net revenue) sekitar US$ 609,8 juta. Dengan asumsi tersebut, HEXA mengestimasikan perolehan laba (net profit) senilai US$ 34,9 juta pada akhir Maret 2026.

Baca Juga: Hexindo Adiperkasa Bagikan Dividen Rp 356 Miliar, Setara 70% Laba Bersih

Corporate Secretary Hexindo Adiperkasa, Listiana A. Kurniawati mengungkapkan sejumlah tantangan yang membayangi industri alat berat, terutama pada sektor pertambangan, konstruksi dan kehutanan. Mulai dari pasar yang sedang lesu, aktivitas yang masih terbatas, efisiensi anggaran serta kendala musim hujan.

Di sisi lain, persaingan pasar alat berat - mini ekskavator semakin ketat. Kondisi ini seiring dengan penetrasi dari sejumlah pemain baru, terutama yang berasal dari China. 

HEXA pun mengusung sejumlah strategi. Mulai dari fokus menjaga kesetiaan pelanggan, melengkapi lini produk, hingga memperluas lokasi outlet untuk memperkuat layanan after sales. 

"Hexindo berusaha melengkapi lini produk yang kami ageni. Untuk after sales service, Hexindo berusaha untuk melengkapi lokasi outlet-outletnya yang tersebar dari Aceh – Papua, dengan harapan seluruh pelanggan kami mendapatkan pelayanan yang terbaik sampai di pelosok daerah," kata Listiana kepada Kontan.co.id pada 25 November 2025.

Penjualan ekskavator kelas 6 ton menjadi tumpuan HEXA. Manajemen HEXA memprediksi penjualan alat berat jenis ini bisa meningkat minimal 10% (yoy) atau mencapai 2.900 unit di akhir tahun buku. Dengan estimasi tersebut, market share HEXA akan naik minimal 1% (yoy) dari 17% menjadi 18%.

Baca Juga: Hexindo Adiperkasa (HEXA) Bidik Pendapatan US$ 609,86 Juta pada 2025

Selanjutnya: BP Tapera Catat Penyaluran Rumah Subsidi FLPP Tembus 7.312 Unit per Januari 2026

Menarik Dibaca: Harga emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Minggu (1/2/2026) Kompak Turun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News