KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Hartadinata Abadi Tbk (
HRTA) masih dinilai menarik oleh sejumlah analis meski perseroan melakukan revisi panduan kinerja 2026. Pertumbuhan penjualan emas, tingginya harga emas, serta ekspansi jaringan menjadi sejumlah faktor yang menopang prospek kinerja HRTA hingga akhir tahun. Kinerja HRTA sepanjang semester I 2026 juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pendapatan perseroan dari Pegadaian pada kuartal II 2026 mencapai Rp 8,4 triliun atau tumbuh 75,6% secara tahunan (YoY). Sementara itu, pendapatan dari Bank Syariah Indonesia (BSI) meningkat 37,7% secara kuartalan (QoQ) menjadi Rp 3,3 triliun pada kuartal II 2026, dari Rp 2,4 triliun pada kuartal I 2026.
Jika digabungkan, kontribusi Pegadaian dan BSI mencapai 85,8% dari total pendapatan HRTA pada kuartal II 2026. Kontribusi tersebut meningkat dibandingkan kuartal I 2026 yang sebesar 76,7%.
Baca Juga: Suahasil Nazara Gantikan Purbaya, Ini Respons Pasar dan Tantangannya Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, pendapatan HRTA pada semester I 2026 mencapai Rp33,8 triliun atau tumbuh 124,61% YoY. Laba bersih juga melonjak 100,86% YoY menjadi Rp 700,01 miliar, didukung kenaikan volume penjualan emas 46,74% dan harga jual rata-rata 53,21% YoY. Abida menilai prospek jangka panjang HRTA masih kuat seiring dengan ekspansi jaringan gerai dan perkembangan ekosistem emas domestik. Harga emas yang bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi serta penguatan fasilitas kredit Bank Mandiri menjadi Rp2,17 triliun juga dinilai menjadi katalis positif bagi perseroan. “HRTA tetap layak dikoleksi sebagai pemain integrated gold ecosystem terbesar di Indonesia dengan valuasi masih di bawah wajarnya, meski panduan kinerja 2026 sudah direvisi lebih konservatif,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (14/9/2026). Di sisi lain, Research Analyst MNC Sekuritas, Raka Junico W. melakukan penyesuaian terhadap proyeksi volume penjualan emas HRTA tahun 2026. Raka memangkas estimasi volume penjualan menjadi 26,3 ton dari proyeksi sebelumnya sebesar 32,1 ton. Namun, asumsi harga jual rata-rata dinaikkan menjadi Rp 2,4 juta per gram dari sebelumnya Rp 2,19 juta per gram. “Penurunan secara kuartalan terutama disebabkan oleh penurunan margin bisnis grosir menjadi 2,7% pada 2Q26, dibandingkan 3,0% pada 1Q26 dan 3,6% pada 2Q25,” tulis Raka dalam risetnya (12/8/2026). Kendati menghadapi tekanan margin, Raka masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek HRTA. Tambahan permintaan yang berpotensi berasal dari dua bank baru pada paruh kedua 2026 hingga awal 2027 menjadi salah satu katalis yang diperhitungkan.
Selain itu, ekspansi jaringan gerai hingga mencapai 100 gerai juga diperkirakan dapat mendukung pertumbuhan bisnis HRTA ke depan. “Kami masih melihat prospek HRTA tetap positif karena harga emas tampaknya telah mencapai titik terendahnya. Meskipun retorika bank sentral masih cenderung hawkish, permintaan global tetap kuat berdasarkan pengamatan kami,” tulis Raka. Berdasarkan asumsi tersebut, Raka memproyeksikan pendapatan HRTA pada 2026 mencapai Rp 63,27 triliun. Sementara itu, laba bersih diperkirakan mencapai Rp 1,36 triliun.
Proyeksi tersebut mencerminkan pertumbuhan pendapatan sekitar 42% dan laba bersih sekitar 38,7% secara tahunan. Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Raka memberikan rekomendasi Buy untuk saham HRTA dengan target harga Rp 2.800 per saham. Senada, Abida juga mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham HRTA. BRI Danareksa Sekuritas menetapkan target harga yang lebih tinggi, yakni sebesar Rp 3.300 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News