Kinerja ICBP Diproyeksi Tetap Positif, Simak Prospek dan Target Harganya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih memiliki ruang untuk membukukan kinerja positif hingga penghujung 2026. Kinerja tersebut ditopang oleh permintaan domestik yang relatif kuat serta ekspansi perseroan ke pasar internasional.

Meski demikian, pertumbuhan laba ICBP diperkirakan tidak akan terlalu agresif. Kenaikan biaya bahan baku dan fluktuasi nilai tukar menjadi sejumlah faktor yang berpotensi menekan margin serta profitabilitas perseroan.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai pertumbuhan penjualan dan permintaan yang tetap solid menjadi katalis utama bagi kinerja ICBP hingga akhir tahun. Selain itu, ekspansi ke pasar internasional menjadi penopang penting karena semakin memperluas diversifikasi sumber pendapatan perseroan.


"Saya melihat kinerja ICBP masih cukup positif, meski pertumbuhan laba kemungkinan belum terlalu agresif mengingat adanya tekanan biaya dan nilai tukar," ujar Azis kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga: Kalbe Farma (KLBF) Siapkan Rp 500 Miliar untuk Buyback Saham Tanpa RUPS

Ketahanan penjualan ICBP tercermin dari kinerja pada semester pertama 2026. Analis Phintraco Sekuritas Vinna N. Rachmawati mencatat pendapatan ICBP tumbuh 11% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 41,86 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan volume penjualan di seluruh segmen.

Segmen mi instan masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp 31,17 triliun. Setelahnya, segmen produk olahan susu atau dairy menyumbang Rp 5,64 triliun.

Namun, tekanan terhadap margin laba berpotensi berlanjut pada semester kedua 2026 seiring dengan dinamika harga komoditas dan kondisi cuaca.

Azis menjelaskan, kenaikan harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) serta risiko El Niño berpotensi meningkatkan biaya bahan baku dan pada akhirnya menekan margin laba ICBP.

Di sisi lain, Analis OCBC Sekuritas Jessica Leonardy menjelaskan bahwa probabilitas terjadinya fenomena El Niño diperkirakan mencapai 80% pada semester II 2026. Kondisi tersebut berisiko membuat harga CPO bertahan pada level tinggi.

Meski demikian, Azis menilai langkah efisiensi biaya dan penyesuaian produksi dapat membantu perseroan meminimalkan dampak kenaikan harga bahan baku terhadap profitabilitas.

Selain biaya produksi, pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu tantangan bagi kinerja bottom line ICBP. Vinna mencatat laba bersih ICBP pada semester I-2026 turun 33% YoY menjadi Rp 3,70 triliun.

Penurunan laba tersebut terjadi di tengah kenaikan beban keuangan sebesar 216% YoY menjadi Rp 4,09 triliun. Kenaikan terutama dipicu oleh rugi selisih kurs yang belum terealisasi atas obligasi global perseroan.

 
ICBP Chart by TradingView

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar domestik sekaligus menjaga pertumbuhan jangka panjang, ICBP terus memperkuat ekspansi internasional. Menurut OCBC Sekuritas, penjualan ICBP di kawasan Asia dan Afrika tumbuh 20,7% YoY pada semester I-2026.

Perseroan juga mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 5,5 triliun pada 2026. Dana tersebut antara lain digunakan untuk menambah kapasitas produksi, termasuk pembangunan pabrik baru di Bogor yang memiliki kapasitas produksi 1,5 miliar bungkus mi instan.

"Ekspansi internasional cukup efektif dalam menopang pertumbuhan jangka panjang karena memberikan sumber pendapatan yang lebih terdiversifikasi dan mengurangi ketergantungan pada pasar domestik," tutur Azis.

Dengan mempertimbangkan prospek pertumbuhan sekaligus berbagai tekanan biaya dan risiko nilai tukar, Abdul Azis Setyo Wibowo merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham ICBP.

Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga saham ICBP di level Rp 7.300 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News