KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren positif menghampiri indeks kumpulan saham anggota BPI Danantara pilihan atau IDX BUMN20 di tengah risiko volatilitas pasar yang masih rentan terjadi. Kinerja indeks ini juga mencerminkan perbaikan fundamental sebagian konstituennya. Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX BUMN20 mampu tumbuh 9,55%
year to date (ytd) ke level 417,443 hingga Rabu (25/2/2026). Kinerja indeks ini unggul jauh dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih terkoreksi 3,76% ytd ke level 8.322,229. Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, penguatan IDX BUMN20 hingga pertengahan Februari 2026 didorong oleh kenaikan signifikan pada saham komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), serta
rebound saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Indeks ini juga mendapat katalis positif berupa valuasi saham-saham BUMN yang relatif murah dan ekspektasi perbaikan ekonomi dalam negeri.
Baca Juga: Harga Bitcoin Turun, Pintu Futures Rilis Fitur Manajemen Risiko untuk Trader "Secara umum penguatan indeks masih mencerminkan fundamental emiten yang stabil dan cukup tahan banting," ujarnya, Rabu (25/2/2026). Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebut, lonjakan IDX BUMN20 dipengaruhi oleh penguatan harga emas dan ekspektasi keberlanjutan hilirisasi mineral yang berdampak positif bagi saham Danantara di sektor tersebut. Selain itu, sektor perbankan pelat merah seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan BMRI yang punya bobot besar dalam indeks juga mencatat kinerja relatif stabil dari sisi pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan profitabilitas. Peluang berlanjutnya tren positif IDX BUMN20 masih cukup terbuka, terutama jika ada perbaikan sentimen global, seperti arah suku bunga acuan The Fed yang lebih akomodatif dan stabilitas nilai tukar rupiah. "Indeks ini cenderung diuntungkan dalam fase pasar yang mencari saham defensif dengan valuasi relatif murah dan dividen menarik," terang Hendra, Rabu (25/2/2026). Musim laporan keuangan tahun 2025 maupun kuartal I-2026 dapat menjadi katalis tambahan jika emiten-emiten penghuni IDX BUMN20 menunjukkan pertumbuhan pendapatan, laba, serta efisiensi yang konsisten. Namun, kembali lagi, pergerakan indeks ini tetap akan dipengaruhi oleh dinamika global dan harga komoditas.
Baca Juga: OJK Dalami 32 Kasus Manipulasi Pasar, Peran Influencer Jadi Sorotan Abida bilang, sepanjang 2026 saham pelat merah dari sektor komoditas berpotensi menjadi penopang utama IDX BUMN20, khususnya ANTM yang diuntungkan oleh tren kenaikan harga emas dan nikel serta agenda hilirisasi mineral nasional. "Eksposur terhadap komoditas strategis memberi ruang pertumbuhan kinerja apabila permintaan global tetap terjaga dan harga komoditas bertahan di level tinggi," tutur dia. Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su juga menjagokan ANTM sebagai penopang IDX BUMN20 tahun ini seiring lonjakan harga emas di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia. Namun, investor perlu mencermati risiko dari masalah rantai pasok akibat bencana longsor yang sempat dialami PT Freeport Indonesia selaku pemasok bahan baku emas ANTM. Selain itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga akan menikmati katalis positif dari pemulihan harga batubara dunia akibat pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi nasional. "PTBA sebagai pemegang IUP dari BUMN diperkirakan tidak akan terkena dampak dari kebijakan RKAB tersebut," imbuh Harry, Rabu (25/2/2026). Sebaliknya, Hendra memprediksi saham perbankan dan energi bakal tetap menjadi tulang punggung IDX BUMN20. Di luar itu, ada potensi menarik dari saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR) yang bisa jadi unggulan di indeks ini jika volume lalu lintas jalan tol meningkat dan perbaikan struktur keuangan yang terus berlanjut.
Baca Juga: Bumi Serpong Damai (BSDE) Pasang Target Marketing Sales Rp 10 Triliun di 2026 Lantas, Hendra merekomendasikan
trading buy saham BBRI dan PGAS dengan target harga di level Rp 4.200 per saham dan Rp 2.400 per saham. Saham JSMR dan ANTM turut direkomendasikan
speculative buy dengan target harga masing-masing di level Rp 3.980 per saham dan Rp 4.700 per saham.
Di lain pihak, Abida menyebut saham BMRI dan ANTM dapat dijadikan pilihan bagi investor dengan target harga Rp 6.200 per saham dan Rp 4.800 per saham. Keduanya dinilai memiliki fundamental kuat dan posisi strategis di sektornya, sehingga tetap menarik bagi investor jangka menengah dan panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News