Kinerja IDX80 lebih tinggi dari LQ45 dan IDX30, ini kata analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja indeks baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yakni IDX80 lebih tinggi ketimbang indeks LQ45 dan IDX30. Pada penutupan pasar Jumat lalu (22/2), IDX80 telah naik 4,13% secara year to date (ytd), lebih tinggi dari LQ45 3,33% ytd dan IDX30 sebesar 3,19% ytd.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji menilai, kenaikan IDX80 mengindikasikan animo dari para pelaku pasar memburu saham-saham dengan free float  besar. Kata Nafan, keuntungan saham-saham dengan free float yang besar bagi para pelaku pasar adalah pergerakan harga saham benar-benar merupakan cermin aktivitas pasar.

Senada, analis Indo Premier Sekuritas Mino mengatakan, investor akan lebih menyukai saham dengan fundamental dan prospek yang bagus serta memiliki likuiditas yang oke juga.


“Untuk membeli saham memang ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, tentang fundamentalnya mempunyai historikal dan prospek yang bagus apa tidak. Kedua, masalah likuiditas (free float). Jadi, investor akan lebih suka terhadap saham yang fundamental dan prospeknya baik serta likuid,” ujar Mino kepada Kontan.co.id, Sabtu (23/2).

Beberapa saham yang menjadi pendorong kenaikan IDX80, di antaranya saham PT Timah Tbk (TINS) dan PT Bank Permata Tbk (BNLI). “TINS dan BNLI memang mengalami penguatan harga yang sangat signifikan,” jelas Nafan kepada Kontan.co.id, Jumat (22/2).

Menurut Nafan, TINS berencana meningkatkan kapasitas produksi timah pada tahun 2019 sebesar 36,4% dalam rangka meningkatkan kinerja fundamental emiten tersebut. “Di sisi lain, pemerintah juga berkomitmen untuk memberantas praktek-praktek illegal mining,” katanya.

Mengenai BNLI, Nafan menyebut, isu Bank Permata yang akan diakuisisi oleh sebuah bank besar memberikan katalis positif bagi meningkatnya harga saham BNLI.

Nafan bilang, IDX80 ini menarik untuk dijadikan acuan bagi para pelaku pasar di samping indeks-indeks yang lainnya. Setali tiga uang, Mino juga mengatakan, indeks ini cukup ideal untuk dijadika acuan para investor.

“Untuk IDX80 saya pikir mempunyai prospek yang bagus karena kriteria saham yang masuk indeks ini memenuhi syarat dasar saham yang layak dikoleksi baik untuk trading (jangka pendek) maupun investasi. Selain itu, jumlah saham yang masuk indeks ini lebih banyak daripada IDX30 dan LQ45,” jelas Mino.

Untuk IDX80, Nafan menjagokan beberapa saham, di antaranya ADHI, ASRI, ASII, ADRO, BBCA, BBNI, BMRI, BBTN, BBRI, BSDE, HMSP, GGRM, ICBP, INCO, INDY, ITMG, JPFA, JSMR, LSIP, MYOR, PGAS, PTBA, SRIL, TLKM, WIKA, WSKT, WTON.

Mino juga merekomendasikan sejumlah saham yang menarik untuk dicermati. Berikut daftarnya:

1. SMGR Beli dengan target harga 14.000; 2. INTP hold dengan target harga 17.400; 3. BSDE Beli dengan target harga 1.600; 4. CTRA Beli dengan target harga 1.400; 5. PWON Beli dengan target harga 740; 6. SMRA hold dengan target harga 900; 7. ADRO Beli dengan target harga 1.800; 8. ITMG Beli dengan target harga 27.500; 9. PTBA Beli dengan target harga 5.100; 10. UNTR Beli dengan target harga 41.000; 11. INCO Beli dengan target harga 4.500; 12. AALI Beli dengan target harga 16.000; 13. LSIP Beli dengan target harga 1.650; 14. WSKT Beli dengan target harga 2.100; 15. PTPP Beli dengan target harga 2.600; 16. WIKA Beli dengan target harga 2.300; 17. WSBP Beli dengan target harga 480; 18. WTON Beli dengan target harga 570; 19. BMRI Beli dengan target harga 8.600; 20. BBNI hold dengan target harga 9.575; 21. BBTN Beli dengan target harga 2.900 22. ASII Beli dengan target harga 9.800; 23. ICBP Beli dengan target harga 11.500; 24. HMSP Beli dengan target harga 4.200; 25. GGRM Beli dengan target harga 92.000; 26. ACES Beli dengan target harga 2000.

Sebagai Informasi IDX80 diluncurkan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (1/2). Indeks ini berisi 80 saham perusahaan tercatat yang mempunyai likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

Konstituen Indeks IDX80 dipilih dengan mempertimbangkan faktor likuiditas, yaitu nilai dan frekuensi transaksi di pasar reguler, jumlah hari transaksi di pasar reguler dan kapitalisasi pasar saham free float, serta faktor-faktor fundamental yang mencakup kinerja keuangan serta kepatuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat