Kinerja Indah Kiat (INKP) dan Tjiwi Kimia (TKIM) Diuntungkan Kurs, Ini Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi sentimen positif bagi emiten pulp and paper seperti PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).

Maklum, kedua emiten grup Sinarmas ini memiliki porsi pendapatan ekspor yang dominan dalam dolar AS, sehingga berpotensi mendongkrak kinerja saat kurs rupiah melemah.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai pelemahan rupiah menjadi katalis positif bagi kinerja topline kedua emiten tersebut.


Baca Juga: Tekanan Perak Berlanjut, Skenario Terburuk Jika Negosiasi AS-Iran Buntu

“Pendapatan yang berbasis dolar akan langsung terdorong dalam rupiah. Namun efeknya tidak sepenuhnya karena sebagian besar biaya produksi seperti bahan kimia, energi, dan suku cadang juga dalam dolar AS,” katanya kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).

Ia menambahkan, perbaikan margin sangat bergantung pada kemampuan emiten mengelola biaya.

Dalam hal ini, INKP dinilai lebih diuntungkan karena memiliki struktur biaya yang lebih efisien, terutama pasca ekspansi pabrik Karawang.

Senada, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menyebut penguatan dolar AS dapat menopang margin jika kenaikan pendapatan lebih besar dibanding biaya.

“INKP relatif lebih optimal memanfaatkan momentum ini dibanding TKIM karena skala usaha dan efisiensi yang lebih baik,” jelasnya.

Meski sama-sama diuntungkan oleh pelemahan rupiah, kinerja laba bersih INKP dan TKIM menunjukkan arah berbeda.

INKP mencatat pertumbuhan pendapatan 4,29% menjadi US$816,29 juta dengan laba bersih naik 11,43% menjadi US$156,12 juta.

Sementara TKIM mencatat pendapatan tumbuh 2,47% menjadi US$261,54 juta, namun laba bersihnya turun 17,19% menjadi US$81,71 juta.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,31% ke Rp 17.857 per Dolar AS Kamis (28/5) Pagi

Wafi menjelaskan, perbedaan ini lebih disebabkan oleh struktur biaya dan tingkat leverage masing-masing emiten.

“INKP mampu menjaga efisiensi dan margin seiring peningkatan volume. Sementara TKIM terbebani oleh kenaikan beban keuangan dan margin operasional yang lebih tipis,” katanya.

Selain itu, TKIM masih lebih bergantung pada harga pulp global yang fluktuatif, sedangkan INKP mulai bergeser ke segmen kertas industri dengan margin lebih stabil.

Prospek Kuartal II dan Rekomendasi Saham

Memasuki kuartal II-2026, Wafi memperkirakan kinerja INKP akan lebih menarik dibanding TKIM.

Utilisasi pabrik Karawang diproyeksikan meningkat hingga 30%, dengan estimasi pendapatan sepanjang 2026 mendekati US$3,8 miliar dan laba bersih hampir US$700 juta, serta margin EBITDA sekitar 30%.

Sebaliknya, kinerja TKIM diperkirakan cenderung stagnan karena belum ada tambahan kapasitas baru dan beban utang yang masih membebani profitabilitas.

Sukarno menambahkan, pendapatan kedua emiten masih berpotensi tumbuh moderat didukung ekspor dan kurs dolar, namun margin tetap tertekan oleh biaya energi, logistik, dan fluktuasi harga pulp global.

Dari sisi investasi, analis menilai saham sektor ini masih menarik secara selektif.

“INKP masih lebih compelling dengan valuasi PER sekitar 8,8 kali, di bawah rata-rata global 13,4 kali, dan belum sepenuhnya mencerminkan kontribusi pabrik Karawang,” ungkap Wafi.

Ia merekomendasikan target harga INKP di level Rp9.800, sementara TKIM lebih cocok untuk trading jangka pendek.

Adapun Sukarno merekomendasikan beli untuk INKP dengan target harga Rp 10.000, serta akumulasi beli untuk TKIM dengan target Rp 6.400.

Dengan berbagai faktor tersebut, investor disarankan mencermati dinamika nilai tukar, harga pulp global, serta perkembangan permintaan ekspor dalam menentukan strategi investasi di sektor pulp and paper.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News