KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Awal kuartal IV-2026 belum membawa kabar baik bagi pasar saham domestik. Seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih tercatat negatif secara
year to date (ytd) hingga penutupan Jumat (2/10/2026), tanpa satu pun yang berhasil naik. Indeks teknologi menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 39,92%. Adapun koreksi paling tipis dicatat sektor transportasi dan logistik, yakni 14,76%. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan penurunan indeks sektoral bukan semata-mata karena gejolak pasar. Tekanan global seperti kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar, dan
risk appetite investor yang menurun memang membuat
capital flow keluar dari aset berisiko.
Baca Juga: OJK Catat Transaksi Kripto Naik 12,87% pada Agustus 2026 Tapi faktor sektoral juga berpengaruh. Sektor energy misalnya tertekan karena outlook komoditas dan profit taking, sementara sektor yang sensitif terhadap daya beli atau suku bunga ikut terdampak dari ketidakpastian domestik. Memasuki kuartal IV, peluang terjadi rotasi sektoral tetap terbuka. Biasanya investor mulai mencari sektor atau saham yang sudah terkoreksi cukup dalam tetapi memiliki fundamental dan katalis yang masih kuat. "
Window dressing juga bisa menjadi katalis tambahan, meski saya melihat efeknya tidak akan merata ke seluruh sektor," kata Elandry kepada Kontan, Senin (5/10/2026). Secara terpisah, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang turut menyampaikan penurunan mayoritas indeks sektoral merupakan kombinasi antara tekanan makro, foreign outflow, pelemahan rupiah, serta sentimen spesifik masing-masing sektor. IDX Energy misalnya, selain terkena
risk-off, juga tertekan normalisasi harga dan prospek komoditas, terutama batubara. Sementara sektor teknologi dan properti lebih sensitif terhadap kenaikan
risk premium dan tekanan likuiditas. Maka dari itu, dampaknya memang berbeda antar sektor.
Peluang Pemulihan Indeks Alrich menerangkan peluang
technical rebound dan rotasi sektoral masih terbuka di kuartal IV, terutama karena koreksi sepanjang tahun sudah cukup signifikan. Namun, dirinya tidak melihat
window dressing sebagai katalis utama, karena investor asing masih menjadi sorotan utama. "Jika rupiah mulai stabil dan aksi jual asing mereda, sektor yang sudah mengalami de-rating berpotensi menjadi sasaran rotasi. Sebaliknya, jika tekanan eksternal berlanjut, window dressing kemungkinan hanya menghasilkan rebound jangka pendek," terang Alrich. Sementara itu, Elandry bilang sektor perbankan, consumer, telekomunikasi dan beberapa saham komoditas yang valuasinya sudah relatif terdiskon berpeluang mengalami pemulihan. "Sektor yang perlu lebih selektif adalah sektor yang masih menghadapi tekanan
earnings atau harga komoditas. Jadi bukan sekadar sektor yang sudah turun paling dalam otomatis menjadi yang paling menarik," ucap Elandry. Dus, Elandry menyarankan agar investor jangan hanya melihat besarnya penurunan secara tahun berjalan. Investor sebaiknya melihat kombinasi valuasi, tren earnings, katalis 3–6 bulan ke depan, arus dana asing dan likuiditas saham. Sektor yang sudah oversold tetapi belum punya katalis belum tentu langsung rebound. Jadi lebih baik masuk bertahap dan tetap memperhatikan volatilitas. Adapun Alrich merekomendasikan investor sebaiknya tidak hanya mengejar sektor dengan penurunan terdalam. Prinsipnya adalah mencari kombinasi valuasi yang sudah tertekan, fundamental kuat,
earnings visibility, dan katalis yang jelas. "Secara teknikal, tunggu adanya
base atau reversal sebelum melakukan akumulasi. Strateginya lebih tepa
t buy on weakness," ujar Alrich.
Rekomendasi Saham Alrich merekomendasikan sejumlah saham yang menarik dilirik pada kuartal IV-2026, antara lain BMRI dengan target Rp 4.700–Rp 5.000, BBRI Rp 3.600, TLKM Rp 3.400, PTBA Rp 3.700–Rp 3.870 dan UNTR Rp 30.000.
Menurut Alrich, BMRI dan BBRI menarik dari sisi valuasi serta peluang pemulihan sektor perbankan. Sedangkan TLKM lebih defensif, serta PTBA dan UNTR memiliki katalis dari sektor komoditas dan pertambangan. Disamping itu, Elandry cenderung memilih big caps dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Untuk sektor perbankan bisa mencermati BBCA, BMRI dan BBRI, lalu sektor
consumer seperti ICBP dan INDF, telekomunikasi TLKM, serta untuk komoditas bisa selektif di ADRO dan beberapa big caps lainnya. Target harga sebaiknya mengikuti
recovery earnings dan valuasi masing-masing saham, bukan sekadar mengejar rebound teknikal. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News