KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Indosat Tbk (
ISAT) diperkirakan masih akan melanjutkan tren positif pada 2026, meskipun laju pertumbuhannya berpotensi lebih moderat dibandingkan capaian solid tahun sebelumnya. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai kinerja ISAT tetap ditopang oleh konsumsi data yang terus meningkat, seiring ekspansi jaringan dan peningkatan kualitas layanan. Selain itu, kontribusi segmen
Multimedia, Data Communication, and Internet (MIDI) diperkirakan semakin besar.
“Kami melihat kineria ISAT di 2026 tetap berada dalam tren positif, meski laju pertumbuhan berpotensi normalisasi pasca kinerja solid di 2025,” ujar Sukarno kepada Kontan, Senin (27/4/2026).
Baca Juga: Personel Alih Daya (PADA) Kantongi Pinjaman Rp 150 Miliar, Setara 125% dari Ekuitas Menurutnya, penguatan bisnis ICT dan solusi digital, termasuk inisiatif berbasis kecerdasan buatan (AI), akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan segmen MIDI ke depan. Dari sisi pendapatan, kinerja ISAT diproyeksikan tetap ditopang oleh optimalisasi belanja modal (
capex) besar yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, strategi ekspansi di luar Pulau Jawa diharapkan mampu meningkatkan monetisasi layanan data. Melansir laporan keuangan, ISAT membukukan pendapatan sebesar Rp 56,52 triliun pada 2025, tumbuh 1,1% secara tahunan. Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan melonjak 12,2% secara tahunan menjadi Rp 5,51 triliun. Dari sisi profitabilitas, margin ISAT diperkirakan relatif stabil sepanjang tahun ini. Efisiensi operasional yang berlanjut dinilai mampu menjaga kinerja, sehingga pertumbuhan ke depan akan lebih bertumpu pada ekspansi EBITDA. Sukarno menambahkan, sejumlah katalis utama yang menopang kinerja ISAT antara lain pertumbuhan trafik data yang konsisten, ekspansi bisnis MIDI, serta efisiensi biaya.
Baca Juga: Eastparc (EAST) Bagi Dividen Interim dengan Potensi Yield 4,13%, Simak Jadwalnya Peluang peningkatan
average revenue per user (ARPU) juga masih terbuka, seiring perbaikan kualitas jaringan.
Namun demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Persaingan tarif yang masih ketat di industri telekomunikasi, kebutuhan belanja modal (
capex) yang tinggi, hingga potensi tekanan dari pelemahan daya beli masyarakat menjadi faktor yang bisa membayangi kinerja. Selain itu, fluktuasi nilai tukar juga berpotensi memberikan tekanan tambahan. Dari sisi rekomendasi, Sukarno menyarankan investor untuk melakukan akumulasi
buy saham ISAT target harga 12 bulan di Rp 2.300 per saham. Sukarno juga memberi saran investor untuk lebih selektif mengingat valuasi saat ini relatif telah mencerminkan perbaikan kinerja. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News