Kinerja Instrumen Investasi di Bulan Februari 2024, Aset Kripto Naik Paling Tinggi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aset kripto mencatatkan kinerja terbaik diantara berbagai instrumen investasi selama bulan Februari 2024. Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) mencatatkan lonjakan kenaikan harga lebih dari 40% selama bulan lalu.

Mengutip Coinmarketcap, harga Bitcoin telah melonjak sekitar 43,46% secara bulanan, dari level penutupan akhir Januari pada US$43,485 ke level US$62,383 pada penutupan bulan Februari 2024.

Sementara Ethereum mencatatkan lonjakan harga sekitar 46,52% secara bulanan dari level penutupan Januari sebesar US$2.341 ke level US3.430 di akhir Februari 2024.


Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan Bitcoin memang telah mengalami pergerakan yang mengesankan sejak awal tahun 2024. Performa positif ini berlanjut di Februari yang menjadi bulan luar biasa bagi BTC. Kenaikan harga secara bulanan lebih dari 40% merupakan kinerja terbaik BItcoin sejak Desember 2020 lalu.

“Raja kripto ini menunjukkan ketahanannya dengan mengamankan keuntungan selama enam bulan berturut-turut, menetapkan tren kuat yang menantang ekspektasi pasar,” ucap Fyqieh saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (4/3).

Baca Juga: Harga Bitcoin Sudah Tembus Rp 1 Miliar, Masih Bisa Naik Lagi?

Fyqieh melihat, optimisme pada Bitcoin ini turut meluas kepada alternative coin (altcoin) seperti Ethereum. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar nomor dua terbesar tersebut mencapai harga US$3.500 untuk pertama kalinya sejak April 2022.

Adapun Fyqieh mencermarti banyak sentimen pendorong bagi kinerja BTC selama bulan lalu.  Derasnya aliran dana ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat salah satu pendorong utamanya.

“Persetujuan dan peluncuran ETF Bitcoin spot tahun ini dinilai telah membuka kelas aset bagi investor baru dan menghidupkan kembali kegembiraan yang menguap, ketika harga BTC sempat jatuh di crypto winter pada tahun 2022 silam,” jelasnya.

Ditambah lagi, lanjut Fyqieh, momen halving bitcoin akan segera hadir. Antisipasi halving biasanya menghasilkan lebih banyak sensasi, lebih banyak minat investor, dan lebih banyak keuntungan.

Halving ini dapat memicu volatilitas pasar karena penurunan pasokan Bitcoin yang baru diciptakan menimbulkan ketidakpastian tentang bagaimana hal ini akan mempengaruhi keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Selain itu, prospek The Fed untuk melakukan serangkaian penurunan suku bunga tahun ini telah menurunkan imbal hasil obligasi dan meningkatkan minat investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk saham-saham teknologi yang tumbuh pesat.

“Saham-saham yang terkait dengan Bitcoin juga menuai keuntungan selama bulan Februari. Saham di bursa perdagangan Coinbase dan perusahaan pertambangan Marathon Digital Holdings juga meningkat,” tambah Fyqieh.

Kendati demikian, performa pasar saham domestik tidak kalah mengesankan selama bulan Februari lalu. Optimisme pasar saham dibuktikan dengan pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 1,50% Month on Month (MoM) di Februari 2024.

Chief Executive Officer (CEO) Pinnacle Investment Guntur Putra menyebutkan, reksadana saham turut mencatatkan peningkatan signifikan di bulan Februari 2024. Positifnya pasar saham ini salah satunya dipengaruhi faktor pemilihan umum (pemilu).

Guntur menilai, kondisi pasar saham saat ini karena merespons hasil hitung cepat (quick count) pemilu yang mengindikasikan hanya terjadi 1 putaran.

Kinerja reksadana saham yang tinggi ini dianggap merupakan respons hasil hitung cepat (quick count) pemilu yang mengindikasikan hanya terjadi 1 putaran. Hasil quick count pemilu kemarin dipandang telah membawa sentimen positif salah satunya di pasar saham

“Pemilu satu putaran secara tidak langsung mengurangi ketidakpastian, sehingga disambut baik oleh pasar,” imbuh Guntur kepada Kontan.co.id, Senin (4/3).

Baca Juga: Harga Emas Spot ke US$2.084,13 Senin (4/3), di Dekat Level Tertinggi 2 Bulan

Fund Manager Syailendra Capital Rendy Wijaya mengamati, penguatan IHSG sejalan dengan dana asing yang mengalir ke pasar saham tanah air cukup signifikan. Sehingga, net foreign inflow selama bulan lalu mendorong kenaikan saham-saham kapitalisasi besar (big caps) seperti sektor perbankan yang mencatakan kenaikan harga yang solid.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), dana asing mengalir ke pasar saham Indonesia cukup signifikan dari awal tahun hingga 29 Februari 2024. Dana asing terpantau masuk dengan non residen melakukan beli bersih sekitar Rp 20,02 triliun di pasar saham dan Rp 25,51 triliun di SRBI. Namun, dana asing terpantau keluar sebesar Rp 4,93 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Sementara, Rendy menilai, kondisi pasar surat utang tergolong relatif flat selama bulan Februari lalu. Indeks obligasi pemerintah catatkan pertumbuhan sekitar 0,44% MoM, sedangkan indeks obligasi korporasi catatkan pertumbuhan sekitar 0,55% MoM pada bulan lalu.

“Jika dilihat dari awal tahun ini, yield surat utang pemerintah (INDOGB) tenor 10 tahun masih berada dalam rentang 6.5% - 6.7%. Pasar masih melihat terkait kepastian penurunan suku bunga The Fed dan kondisi ekonomi AS pada tahun ini,” ungkap Rendy kepada Kontan.co.id, Senin (4/3).

Adapun di luar performa aset kripto, pasar saham dan pasar surat utang, pergerakan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) cenderung terkoreksi selama bulan Februari 2024. Harga emas spot terpantau turun sekitar 0,61%MoM ke level US$2.054 per ons troi, sedangkan emas antam turun sekitar 0,52% ke level Rp 1,14 juta per akhir Februari lalu.

Kalau instrumen investasi valuta asing (valas) terjegal rupiah yang menguat selama Februari 2024. Investasi yang memanfaatkan selisih nilai tukar ini tidak cukup memberikan imbal hasil karena rupiah cukup tangguh dibandingkan beberapa mata uang.

Baca Juga: Bitcoin Tembus US$ 65.000, Kian Dekati Level Harga Tertinggi Sepanjang Masa

Rupiah dibandingkan dolar AS (USD) terpantau menguat sekitar 0,41%MoM ke level harga Rp15.719 per dolar AS di Februari 2024. Mata uang garuda juga lebih kuat daripada Poundsterling (GBP) sekitar 0,55%, mata uang Euro (EUR) sekitar 0,19%, mata uang Singapura (SGD) sekitar 0,72%, mata uang Jepang (JPY) sekitar 1,85%, hingga mata uang China (CNY) sekitar 5,42%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat