Kinerja Investasi Dana Pensiun Tertekan hingga Juni 2026, Peluang Pulih Masih Terbuka



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja hasil investasi alias Return on Investment (RoI) industri dana pensiun (dapen) konvensional masih mengalami tekanan pada tahun ini.

Staf Ahli Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Mulyadi mengatakan salah satu penyebab utamanya adalah penurunan harga saham dan Surat Berharga Negara (SBN).

"Penyebab utama adalah turunnya harga saham dan Surat Berharga Negara diakibatkan investor asing keluar dari Indonesia dapat dikatakan adanya krisis kepercayaan," ujarnya kepada Kontan, Rabu (12/8/2026).


Baca Juga: BPD DIY Andalkan UMKM untuk Pacu Kredit Produktif

Tekanan RoI dirasakan juga oleh Dana Pensiun BCA yang mencatatkan RoI sebesar 1,65% pada Juni 2026. Menurut Direktur Utama Dapen BCA Budi Sutrisno, capain tersebut memang lebih rendah dibandingkan posisi pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Menurutnya, penurunan RoI dipengaruhi oleh volatilitas pasar uang domestik dan global sehingga menekan nilai portofolio investasi.

"Kondisi ini dipicu oleh harga pasar saham pada akhir Juni 2026 yang mengalami penurunan paling dalam sepanjang tahun ini, sehingga secara langsung berdampak negatif pada portofolio saham," jelasnya pada Rabu (12/8/26).

Di sisi yang sama, tingkat suku bunga dan yield obligasi serta SBN yang tinggi di pasaran turut menyebabkan penyesuaian unrealized mark-to-market pada stok portofolio obligasi dan SBN lama yang sudah dimiliki oleh dana pensiun.

Kombinasi ini menurutnya memberi dampak signifikan terhadap RoI dalam periode jangka pendek.

Baca Juga: Menangkap Peluang Investasi di Tengah Ketidakpastian

Meski begitu, baik ADPI maupun Dapen BCA sama-sama positif akan prospek perbaikan RoI di semester II-2026.

Menurut Bambang, RoI industri dapen konvensional bisa membaik jika nilai saham dan obligasi meningkat di sisa tahun ini.

Begitu juga, kata Budi perbaikan bisa diraih seiring dengan tingkat suku bunga acuan dan yield obligasi yang berada di level tinggi dan menarik dapat dimanfaatkan untuk menempatkan dana pada instrumen pendapatan tetap dengan yield lebih tinggi untuk jangka panjang.

Selain itu, momentum pemulihan bertahap di pasar modal juga diharapkan dapat menopang pemulihan nilai portofolio investasi.

Oleh karena itu, ADPI mengimbau dana pensiun untuk memprioritaskan penjagaan likuiditas dan menambah penempatan pada deposito berjangka sembari menunggu pemulihan pasar saham dan obligasi.

Namun, langkah tersebut tetap dilakukan secara hati-hati dengan tidak terbawa agresivitas pergerakan harga saham, khususnya pada saham yang memiliki fundamental kurang baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News