KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja operasional dan arus kas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (
PGAS) diproyeksikan tetap tangguh berkat kenaikan volume distribusi, sehingga diperkirakan sanggup meredam risiko denda sengketa hukum Gunvor. Analis Sucor Sekuritas Giovanus Marcell Lie memproyeksikan bahwa volume distribusi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) akan mencapai 878 BBTUD pada tahun fiskal 2026. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan volume penyaluran gas sebesar lima persen secara tahunan. Tren positif ini salah satunya didukung oleh penurunan harga gas alam cair atau LNG menjadi US$ 13 per MMBTU.
Baca Juga: Ini Dampak Putusan FTSE Russel ke Pasar Saham di Akhir 2026 Penyesuaian tarif tersebut secara khusus memberikan keuntungan bagi sektor industri di wilayah Jawa, Banten, dan DKI Jakarta. Dari sisi neraca keuangan, likuiditas yang dimiliki emiten migas pelat merah ini tergolong sangat kokoh. Saat ini, PGAS diproyeksikan terus menggenggam posisi kas bersih di kisaran US$ 0,9 miliar. Arus kas operasi tahunan perusahaan juga diprediksi terjaga stabil pada level US$ 0,7 miliar. Kapasitas finansial ini menjadi katalis penting di tengah sentimen negatif sengketa kontrak penjualan LNG dengan pihak Gunvor Singapore. "Oleh karena itu, kami memandang sengketa Gunvor sebagai risiko pemberitaan yang bersifat sementara, bukan sebagai gangguan struktural terhadap laba atau neraca PGAS," kata Giovanus dalam risetnya, (2/9/2026). Masalah ini bermula dari perjanjian tahun 2022 untuk pasokan delapan kargo LNG per tahun yang berlaku mulai 2024 hingga 2027.
Baca Juga: IHSG Turun 0,80% ke 6.097 Sesi I, Top Losers LQ45: GOTO, CUAN, WIFI, Kamis (8/10) Perusahaan sempat mendeklarasikan keadaan kahar akibat adanya penundaan transfer pasokan portofolio dari pihak Pertamina. Sayangnya, pihak Gunvor menolak status keadaan kahar tersebut sehingga perselisihan kontrak ini berlanjut ke tahap arbitrase internasional. Nilai ganti rugi yang diajukan oleh pihak Gunvor ke arbitrase diperkirakan mencapai US$ 130,4 juta. Manajemen perusahaan sudah mengantisipasi kejadian ini dengan mencadangkan dana sekitar US$ 72 juta sejak periode 2022 hingga 2024. Sementara itu, Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana menuturkan bahwa PGAS masih berpotensi membukukan beban provisi tambahan. Menurutnya, tambahan beban untuk menambal kekurangan provisi ini bisa mencapai US$ 58,4 juta apabila denda ditetapkan sepenuhnya. Pihaknya menilai sisa porsi pembayaran denda tersebut berpotensi menekan pencapaian laba bersih tahun berjalan. Apabila denda diakui sepenuhnya pada tahun 2026, laba inti PGAS dapat mengalami koreksi tajam. Skenario terburuk menunjukkan bahwa laba inti perusahaan bisa menurun sebesar 19,3% menjadi US$ 244,6 juta. Tertekannya pos keuntungan ini secara otomatis akan berpotensi besar menggerus tingkat imbal hasil dividen yang ditebar kepada investor.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp 15.000 Jadi Rp 2.565.000 per Gram Kamis (8/10) "Meskipun ini merupakan dampak satu kali, kami menganggapnya material mengingat manajemen PGN menetapkan dividen berdasarkan laba bersih (NPAT) yang dilaporkan, sehingga berpotensi menurunkan estimasi imbal hasil dividen tahun 2026 dari 11,9% menjadi 9,5%," terang Abdusshomad dalam risetnya, (28/8/2026). Walau dibayangi risiko denda, prospek bisnis distribusi gas PGAS diyakini masih sangat atraktif bagi investor. Beban perselisihan hukum ini sama sekali tidak berdampak pada perolehan volume gas berulang perusahaan. Tarif distribusi dan perolehan margin perdagangan perusahaan juga dikonfirmasi aman dari imbas negatif provisi sengketa ini. Secara operasional, kontribusi LNG perusahaan perlahan mulai terdilusi oleh porsi gas HGBT yang terus mengalami peningkatan. Proyeksi margin campuran perseroan diprediksi akan terus stabil pada level US$ 1,4 per MMBTU.
Baca Juga: Prospek Harga SUN Bervariasi, Yield 10 Tahun Diprediksi 7,10%–7,25% Dengan demikian, tambahan beban hukum satu kali ini dipastikan tidak akan menekan kelangsungan operasional utama perseroan. Kinerja bisnis inti PGAS secara utuh diperkirakan akan tetap tangguh sepanjang tahun ini.
Menyikapi ketahanan operasional tersebut, respons positif tetap diberikan kepada saham emiten energi ini. Giovanus merekomendasikan
buy untuk saham PGAS dengan target harga Rp 2.020 per saham. Sementara itu, Abdusshomad merekomendasikan
buy untuk saham PGAS dengan target harga Rp 1.900 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News