Kinerja keuangan Intiland melambat sepanjang 2017



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Intiland Development Tbk (DILD) sepanjang 2017 masih stagnan dan cenderung melambat. Perusahaan beralasan, perlambatan tersebut terjadi akibat bisnis properti belum sepenuhnya pulih tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan 2017 yang di rilis DILD, Selasa (27/3), perusahaan hanya mencatatkan laba bersih Rp 297,49 miliar,turun 0,4% dari laba bersih tahun 2016 yang sebesar Rp 298,8 miliar.

Perlambatan laba bersih itu sejalan dengan pendapatan usahanya. Tahun lalu, pendapatan Intiland Rp 2,20  triliun, turun 3,2% dari tahun 2016 yang sebesar Rp 2,27 triliun.


Di sisi lain, beban bunga yang ditanggung perusahaan membengkak 38,3% dari Rp 173,8 miliar menjadi Rp 240,4 miliar pada 2017.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menilai kondisi pasar properti secara umum belum sepenuhnya pulih di tahun 2017. Pasar properti nasional masih menghadapi sejumlah tantangan pertumbuhan, selain juga disebabkan konsumen dan investor yang cenderung masih mengambil sikap menunggu (wait and see) terhadap perubahan kondisi pasar.

“Segmen pengembangan kawasan industri dan recurring income (pendapatan berkelanjutan) menjadi pendorong utama pencapaian kinerja keuangan tahun 2017. Hasil penjualan lahan kawasan industri sepanjang tahun lalu bisa langsung dibukukan sebagai pendapatan usaha,” ungkap Archied dalam keterangan resminya, Selasa (27/3).

Segmen pengembangan kawasan industri mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 550,9 miliar, atau memberikan kontribusi 25% dari keseluruhan. Jumlah tersebut melonjak 578% dibandingkan pencapaian tahun 2016 yang sebesar Rp 81,3 miliar.

Segmen properti investasi yang merupakan sumber recurring income memberikan kontribusi Rp 528,2 miliar atau 24% dari keseluruhan. Segmen ini meraih pertumbuhan pendapatan usaha sebesar Rp 180,6 miliar atau 52% dari pencapaian tahun 2016 senilai Rp 347,6 miliar. 

Peningkatan yang cukup signifikan ini, terutama dipicu oleh meningkatnya kontribusi dari pendapatan sewa perkantoran serta pengelolaan fasilitas gedung dan kawasan.

Segmen pengembangan mixed-use & high rise mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp703,6 miliar, atau memberikan kontribusi 31,9%. Segmen pengembangan kawasan perumahan tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp 420 miliar atau 19,1%.

Menurut Archied, penjualan pada dua segmen ini turun masing-masing sebesar 37% dan 43%. Penurunan ini lebih disebabkan marketing sales yang diperoleh dari kedua segmen tersebut belum bisa diakui sebagai pendapatan usaha.

“Penurunan ini karena marketing sales pada segmen mixed-use and high rise dan kawasan perumahan belum bisa dibukukan sebagai pendapatan usaha tahun 2017, karena menunggu progres pembangunan,” ungkap Archied.

Pada tahun lalu, DILD memperoleh kinerja marketing sales cukup baik, yakni sebesar Rp 3,3 triliun, atau 106,3% lebih tinggi dari tahun 2016. Segmen pengembangan mixed-use & high rise serta kawasan perumahan memberikan kontribusi marketing sales masing-masing sebesar Rp 1,9 triliun dan Rp 483 miliar.

Ditinjau berdasarkan tipenya, pendapatan dari pengembangan (development income) memberikan kontribusi sebesar Rp 1,67 triliun atau 76% dari keseluruhan.  Sementara pendapatan berkelanjutan yang berasal dari segmen properti investasi seperti penyewaan perkantoran, pengelolaan sarana olah raga, pengelolaan kawasan dan gedung, serta penyewaan pergudangan memberikan kontribusi Rp 528,2 miliar atau 24%.

Menghadapi kondisi pasar di 2018, menurut Archied Perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi kunci untuk menjaga pertumbuhan kinerja usaha. Salah satunya adalah melalui pengembangan dan peluncuran proyek-proyek baru yang akan dilakukan tahun ini.

“Untuk meluncurkan proyek-proyek baru, kami tentu tetap mempertimbangkan perubahan arah dan kondisi pasar. Namun kami yakin kondisinya akan berangsur membaik, sehingga pasar properti akan kembali bergairah dan kondusif bagi investasi,” kata Archied.

Intiland berkeyakinan kondisi pasar properti nasional akan bergerak membaik tahun ini. Perubahan ke arah positif tersebut antara lain ditopang oleh sejumlah faktor, antara lain arah perkembangan indikator perekonomian dan iklim investasi Indonesia yang cenderung tumbuh positif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi