Kinerja Kredit Citi Indonesia Mulai Pulih, Ini Sektor Pendorongnya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Citibank Indonesia berhasil mendorong kinerja kreditnya lebih baik tahun lalu. Kendati begitu, bank tetap mengedepankan prinsip prudential banking untuk menghadapi berbagai ketidakpastian tahun ini. 

Hingga Desember 2025, penyaluran kredit Citi Indonesia terkoreksi 1,68% yoy menjadi Rp 26,92 triliun. Namun begitu, capaian kali ini setidaknya lebih baik ketimbang koreksi 22,63% yoy pada tahun sebelumnya. 

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi menjelaskan, kinerja kredit tahun lalu utamanya ditopang oleh perbaikan pada sejumlah sektor, yakni manufaktur yang tumbuh 2,24% yoy, telekomunikasi yang tumbuh 2,16% yoy, dan sektor agribisnis yang naik 1,22% yoy tahun lalu. 


Baca Juga: Sambut Rencana Aturan Baru, Citi Indonesia Siap Sesuaikan RBB Jika Diperlukan

Batara bilang kredit tahun lalu turun utamanya karena bank mengambil sikap hati-hati. “Memang kita continue to be very cautious dan prudential,” kata Batara dalam paparan kinerja di Jakarta, Kamis (30/4/2026). 

Di samping itu, Batara bilang memang ada berbagai faktor lainnya yang menahan pertumbuhan kredit tahun lalu, salah satunya ialah debitur tak mengambil refinancing karena lebih memilih mengambil pendanaan lewat pasar modal. 

Contohnya, lanjut Batara, ketika Citi Indonesia juga menjadi Joint Lead Manager dan Bookrunner dalam Penerbitan Obligasi Global Perdana senilai Rp 1 miliar untuk PT Pertamina Hulu Energi (PHE). 

“Kalau itu sudah sukses, mereka cenderung tidak mengubah (sumber pendanaannya),” jelas Batara. 

Secara umum, meski kinerja kreditnya terbatas, Citi Indonesia berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 2,84 triliun, tumbuh 9,61% secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Capaian tersebut di antaranya ditopang oleh penurunan beban bunga bank hingga 22,92% yoy menjadi Rp 1,12 triliun. Dus, meski pendapatan bunga bank sejatinya terkoreksi tipis 0,93% yoy menjadi Rp 5,3 triliun, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) bank berhasil tumbuh 7,27% yoy menjadi Rp 4,18 triliun. 

Dari sisi operasional, kinerja bank sebenarnya diberatkan oleh lonjakan beban impairment menjadi Rp 75,39 miliar dari Rp 2,79 miliar pada akhir 2024. Pendapatan komisi bank juga turun 9,81% yoy menjadi Rp 457,11 miliar dalam periode ini. 

Hanya saja, itu dikompensasi oleh lonjakan pada pos keuntungan penjualan aset keuangan, yang naik hingga 794,66% yoy menjadi Rp 767,15 miliar, serta keuntungan transaksi spot dan derivatif/forward yang naik 33,25% yoy menjadi Rp 3,54 triliun. 

Alhasil, secara keseluruhan beban operasional bank berhasil ditekan turun 4,91% yoy menjadi Rp 509,77 miliar, sehingga laba operasionalnya pun naik 9,2% yoy menjadi Rp 3,67 triliun. 

Baca Juga: Dongkrak Dana Murah, Nilai Transaksi BRImo Tembus Rp 2.042 Triliun Kuartal I-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News