Kinerja Kuartal III Beragam, Investor Selektif Mengempit Saham Emiten Grup Lippo



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten Grup Lippo mencetak kinerja yang beragam dalam laporan keuangan kuartal III-2023. PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) memimpin dengan lonjakan signifikan dari sisi bottom line dalam periode sembilan bulan 2023.

LPKR mampu membalikkan kerugian Rp 1,92 triliun menjadi laba bersih Rp 787,79 miliar. Tiga segmen bisnis LPKR yakni real estate development, healthcare, dan lifestyle kompak menanjak.

Hasil itu mengerek naik pendapatan neto LPKR sebanyak 17,99% menjadi Rp 12,33 triliun. Lonjakan bottom line LPKR ikut terdongkrak meroketnya bagian penghasilan lain, yang didapat dari keuntungan pembelian kembali obligasi dan keuntungan selisih kurs. Pada saat yang sama, pos beban lainnya menyusut signifikan.


Beda nasib dengan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK). Dalam kurun sembilan bulan 2023 LPCK mengantongi pendapatan neto Rp 784,92 miliar dan laba bersih Rp 106,30 miliar, masing-masing merosot 20,86% dan 61,23%.

Baca Juga: Lippo Karawaci (LPKR) Berbalik Laba Rp 787,79 Miliar Per Kuartal III, Ini Sebabnya

Nasib serupa dialami PT Multipolar Technology Tbk (MLPT). Top line dan bottom line MLPT kompak menukik sebanyak 6,74% dan 58,28%. MLPT meraup penjualan bersih dan pendapatan jasa Rp 2,35 triliun dan meraih laba bersih Rp 148,96 miliar.

Keuntungan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) juga terpangkas. Ketika pendapatan bersih hanya naik tipis, 0,40% jadi Rp 4,98 triliun, laba bersih LPPF menukik sebanyak 40,18% jadi sebesar Rp 630,51 miliar.

Capaian PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) lebih solid. Emiten rumah sakit ini mengantongi pendapatan Rp 8,24 triliun dan meraih laba bersih Rp 858,90 miliar. Masing-masing melejit 18,90% dan 91,20%.

Baca Juga: Laba SILO Melejit Jadi Rp 858,90 Miliar

Dari sisi pergerakan saham, pada perdagangan Senin (30/10) hanya LPCK yang berhasil menguat tipis 0,61%. Sisanya, ditutup memerah. LPPF paling parah, ambles 7,41%.

Pengamat pasar modal & Founder WH-Project William Hartanto mengamati, meski tergolong grup konglomerasi besar, tapi investor cukup selektif dalam mengoleksi saham-saham dari Grup Lippo. Dalam pengamatan William, hanya SILO yang terbilang atraktif.

Selain soal kinerja, katalis sektoral turut memegang peran dalam memoles daya pikat saham. "Mungkin ada sentimen lain. Respons pasar kadang nggak bisa ditebak. Misalnya untuk LPKR seperti tidak direspons, mungkin karena momentum properti belum ada," kata William kepada Kontan.co.id, Senin (30/10).

Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei juga belum melirik saham properti Grup Lippo. Dia lebih tertarik mengamati SILO yang masih prospektif sampai tutup tahun nanti. Dengan tingkat kunjungan pasien yang lebih tinggi, kinerja emiten rumah sakit pada semester II biasanya lebih baik ketimbang semester I.

Baca Juga: Kinerja Keuangan LPPF Masih Tertekan

Analis Kanaka Hita Solvera Raditya Krisna Pradana punya pandangan serupa. Kinerja SILO relatif solid. Berbeda dengan emiten Grup Lippo lainnya yang lebih rawan mengalami fluktuasi.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda menimpali, sejumlah saham dari Grup Lippo masih cenderung undervalued atau di bawah rata-rata industri. Meski begitu, harus selektif dalam memilah saham yang layak untuk trading maupun investasi.

Vicky menyarankan untuk terlebih dulu menjauhi saham emiten ritel yakni LPPF dan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA). Saran yang sama, sebaiknya hindari dulu saham MLPT, PT Multipolar Tbk (MLPL) dan PT First Media Tbk (KBLV). 

Baca Juga: Cek Prospek Kinerja Emiten yang Punya Utang Dolar AS di Tengah Pelemahan Rupiah

Sedangkan untuk saham properti Grup Lippo, Vicky menyarankan koleksi LPKR dengan strategi buy on weakness dan buy untuk LPCK. Terhadap saham SILO, Vicky merekomendasikan taking profit. "Lalu buy kembali ketika harga sudah kembali rendah," ungkapnya.

Jono juga menjagokan saham SILO. Secara teknikal, masih ada potensi melanjutkan uptrend dengan target terdekat di Rp 2.600. Untuk jangka pendek, William menyarankan buy on weakness SILO di area support Rp 2.340-Rp 2.300 untuk target harga ke Rp 2.500.

Sementara itu, Raditya merekomendasikan buy on weakness saham SILO dan LPKR, serta buy LPCK dengan masing-masing target harga di Rp 2.600, Rp 100 dan Rp 1.000 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati