KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Logindo Samudramakmur Tbk (
LEAD) kembali mencatatkan kerugian hingga US$ 6,22 juta pada semester I-2019. Kerugian LEAD meningkat 19,64% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar US$ 5,2 juta. Emiten kembali merugi karena beban pokok pendapatan masih cukup tinggi, sedangkan pendapatan perusahaan juga turun. Berdasarkan laporan keuangan LEAD, beban pokok pendapatan di semester pertama tahun ini mencapai US$ 11,26 juta. Sementara, pendapatan emiten sektor pelayaran ini turun 22% menjadi US$ 9,95 juta daripada paruh pertama tahun sebelumnya US$ 12,78 juta. Penyebab utamanya karena jasa sewa kapal dan pelayaran perusahaan menurun.
Baca Juga: Harga komoditas turun, ini rekomendasi analis untuk saham emiten pelayaran Presiden Direktur LEAD Eddy Kurniawan Logam membenarkan hal tersebut. Salah satu faktor yang menurunkan pendapatan LEAD ialah berkurangnya utilisasi kapal-kapal berkekuatan besar. Khususnya kapal berkekuatan 8.000 HP dan 12.000 HP (
horsepower). Kendati demikian, utilisasi kapal LEAD meningkat menjadi 65% sesuai dengan target perusahaan di tahun 2019 ini. Kontributor terbesar ada pada kapal-kapal LEAD kategori sedang dan kecil yang berkekuatan di bawah 5,000 HP. LEAD mencatat pendapatan jasa sewa kapal di paruh pertama tahun ini menjadi US$ 9,4 juta, turun 18,61% daripada periode yang sama tahun 2018 mencapai US$ 11,55 juta. Pendapatan jasa pelayaran menurun 55,66% menjadi US$ 543,86 ribu daripada sebelumnya US$ 1,27 juta. Eddy mengatakan manajemen yakin kinerja LEAD akan membaik di semester II ini. Sebab, kapal berkekuatan besar LEAD sudah ada prospek untuk dipakai. Sehingga utilisasi kapal besar juga meningkat. Sekadar informasi, jumlah kapal besar LEAD sebanyak lima unit. Akan tetapi, utilisasi kapal besar yang berkekuatan di atas 8.000 HP mencapai kurang dari 30%. "Dengan naiknya kontribusi kapal besar, kami berharap di semester II hingga akhir tahun ini pendapatan bisa lebih baik," ujar Eddy kepada Kontan.co.id pada Rabu (7/8). Melansir data RTI, secara
year to date saham emiten ini naik 2%. Sementara, indeks sektor saham infrastruktur, utilitas dan transportasi menguat 10,92% per Rabu (7/8). Menguatnya indeks sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi dinilai belum cukup untuk mendorong prospek emiten sektor pelayaran yang merupakan bagian dari indeks tersebut. Sebab, saat ini harga komoditas sedang turun.
Vice President Research Artha Sekuritas Frederick Rasali menyatakan secara fundamental emiten pelayaran masih sulit karena sisi permintaan yang belum pulih akibat harga komoditas yang turun. Terutama bagi perusahaan kapal yang fokus pada
offshore supply vessel (OSV).
Baca Juga: Per 30 Juni 2019 utang Logindo Samudramakmur (LEAD) mencapai US$ 106,98 juta Menurut Frederick, bisnis pelayaran merupakan bisnis derivatif. Oleh karenanya, jika bisnis komoditas belum membaik, maka jasa pelayaran juga tidak banyak digunakan karena permintaan dari pembeli yang masih minim. Meski emiten pelayaran melakukan diversifikasi usaha, belum tentu investor mempertimbangkannya. Emiten pelayaran bergantung dari berbagai komoditas, sedangkan harga komoditas sedang turun. Oleh karena itu, Frederick merekomendasi hold emiten pelayaran. "Emiten pelayaran mengalami keuntungan karena didorong dari peningkatan utilisasi kapal, harga kontrak per DWT, dan juga efisiensi biaya perusahaan. Akan tetapi, saya rekomendasikan
hold karena kondisi harga komoditas sekarang," tutup Frederick. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News