KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Medikaloka Hermina Tbk (
HEAL) membukukan laba bersih sebesar Rp 303 miliar sepanjang Januari–September 2026. Angka tersebut turun 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski secara kumulatif masih tertekan, kinerja laba HEAL mulai menunjukkan pemulihan pada kuartal III-2026. Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 110 miliar pada Juli–September 2026, meningkat 20% dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, laba bersih tersebut masih turun 16%. Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, realisasi laba bersih HEAL hingga September 2026 baru mencapai 69% dari estimasi sekuritas tersebut dan sekitar 64% dari konsensus laba bersih tahun buku 2026.
Baca Juga: Rupiah Berbalik Melemah ke Rp 18.157 Per Dolar AS Tengah Hari Ini (30/10), Asia Naik Dari sisi pendapatan, HEAL mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1,9 triliun pada kuartal III-2026 atau tumbuh tipis 0,7% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan yang terbatas ini terjadi di tengah penurunan volume layanan rawat inap sebesar 5% yoy. Sementara itu, jumlah kunjungan rawat jalan masih tumbuh 3,8% yoy. Kondisi tersebut juga tercermin dari pendapatan per layanan. Pendapatan per hari rawat inap meningkat 6% yoy, sedangkan pendapatan per kunjungan rawat jalan justru turun 4% yoy. Di tengah pertumbuhan pendapatan yang terbatas, segmen pasien non-BPJS menjadi salah satu penopang kinerja HEAL. Pendapatan dari segmen ini mencapai Rp 952 miliar atau tumbuh 9% yoy. Kontribusinya terhadap total pendapatan rumah sakit meningkat menjadi 50,9%, dibandingkan 46,9% pada kuartal III-2025. Meski demikian, peningkatan pendapatan tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan pada profitabilitas. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, operating margin HEAL turun 110 basis poin (bps) yoy, sedangkan EBITDA margin terkoreksi 80 bps yoy. Penurunan margin ini dipengaruhi beban depresiasi dari ekspansi kapasitas rumah sakit, sementara utilisasi fasilitas baru belum optimal. Tim analis BRI Danareksa Sekuritas mengatakan, kualitas pertumbuhan HEAL masih lemah karena pendapatan cenderung stagnan, sementara volume rawat inap mengalami penurunan. “Kualitas pertumbuhan masih lemah, dengan pendapatan yang nyaris stagnan secara tahunan dan volume rawat inap yang menurun. Sementara itu, tekanan margin masih terjadi karena beban depresiasi ekspansi telah dibukukan, sedangkan utilisasi kapasitas baru belum optimal,” tulis tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, Jumat (30/10/2026).
Sejalan, HEAL menurunkan panduan pertumbuhan pendapatan tahun 2026 menjadi
single digit, dari sebelumnya
double digit. EBITDA margin tahun ini diperkirakan berada di sekitar level tahun lalu, yakni 25%. Namun, margin tersebut berisiko turun hingga 1 poin persentase apabila peningkatan utilisasi kapasitas baru berjalan lebih lambat dari perkiraan. Ke depan, fokus perusahaan diperkirakan bergeser dari ekspansi kapasitas menuju optimalisasi aset dan produktivitas operasional. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui model
operatorship dan
revenue sharing untuk pengadaan alat medis berbiaya tinggi. HEAL juga diarahkan untuk memperkuat layanan pasien non-BPJS yang memiliki margin lebih tinggi. Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas memangkas estimasi laba bersih HEAL untuk 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 8% dan 10%. Estimasi operating margin juga diturunkan menjadi 11,7% untuk 2026 dan 12,3% untuk 2027, dari proyeksi sebelumnya masing-masing 12,2% dan 12,9%. Meski memangkas proyeksi kinerja, BRI Danareksa Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi
buy untuk saham HEAL. Namun, target harga saham diturunkan menjadi Rp 950 per saham dari sebelumnya Rp 1.350 per saham.
Baca Juga: Yield SUN Masih Tinggi di Tengah Penurunan US Treasury, Cek Prospeknya Dari sisi valuasi, saham HEAL diperdagangkan pada EV/EBITDA 2026 sebesar 6,4 kali atau sekitar tiga standar deviasi di bawah rata-rata historis lima tahun. Kendati valuasinya sudah berada di level rendah, pemulihan harga saham dinilai masih membutuhkan bukti peningkatan utilisasi kapasitas rumah sakit dan stabilisasi margin. Di pasar saham, harga HEAL menguat 2,91% atau naik 15 poin ke level Rp 530 pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (30/10/2026). Meski demikian, saham HEAL masih terkoreksi 61,59% sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD). Ke depan, kemampuan HEAL mengoptimalkan kapasitas rumah sakit yang telah dibangun akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan pendapatan dan memulihkan profitabilitas perusahaan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News