Kinerja Melemah, Begini Prospek Reksadana Saham di Sepanjang Tahun Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana saham sempat mencatatkan kenaikan signifikan secara bulanan. namun dalam beberapa bulan terakhir mulai tertekan dan berbalik melemah

Berdasarkan data Infovesta per 27 Februari 2026 mencatat reksadana saham membukukan return tertinggi sebesar 2,0% secara bulanan, meskipun pada saat yang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru masih terkoreksi 1,13%.

Namun, memasuki pertengahan Maret, kinerja reksadana saham justru melemah. Berdasarkan data Infovesta per 16 Maret, dalam sepekan reksadana saham mengalami penurunan sebesar 2,33%. Begitu pula IHSG mengalami penurunan sebesar 4,29% pada periode waktu yang sama.


Baca Juga: Kinerja Saratoga Investama (SRTG) Bisa Prospektif Seiring Kenaikan Saham Komoditas

CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra mengatakan di tengah IHSG yang melemah, prospek reksadana sebenarnya masih cukup konstruktif jika dilihat dalam perspektif jangka menengah hingga panjang. 

"Koreksi pasar merupakan hal yang wajar dalam siklus investasi dan justru bisa menjadi peluang untuk masuk di valuasi yang lebih menarik selama fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dan tidak terjadi gangguan signifikan secara sistemik," ujar Guntur kepada Kontan pada Selasa (17/3).

Ia menilai dalam 6-12 bulan ke depan, reksadana saham masih memiliki peluang mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan saat ini, terutama jika tekanan global mulai mereda dan terdapat ruang penurunan suku bunga. 

"Namun demikian, semua akan sangat tergantung dengan kondisi global dan kondisi perekonomian domestik serta kebijakan fiskal yang dapat menunjang pertumbuhan perekonomian, dari sisi volatilitas kemungkinan masih akan tinggi," kata Guntur.

Guntur menambahkan bahwa secara historis, instrumen reksadana saham tetap menawarkan potensi imbal hasil paling tinggi dalam jangka panjang, tetapi dengan konsekuensi risiko yang juga lebih besar dibandingkan instrumen lain.

Senada, Head of Equity Sinarmas Asset Management, Donny Primananda memperkirakan return reksadana saham berpotensi berada di kisaran 8%-12% dalam jangka menengah dengan catatan stabilitas makroekonomi domestik terjaga dan konflik geopolitik.

Namun, realisasinya sangat bergantung pada pemulihan ekonomi domestik dan meredanya tensi global yang masih penuh.

Menurut Donny, dalam jangka menengah, fundamental ekonomi Indonesia yang masih relatif solid membuka peluang akumulasi secara bertahap bagi investor yang bersabar. 

"Hal ini terutama mengingat valuasi saham-saham large cap Indonesia yang telah mendekati level masa awal COVID di 2020," kata Donny

Baca Juga: Usai Rilis Penurunan Kinerja, Ini Rekomendasi Astra (ASII) yang Siapkan Strategi Baru

Ia berharap berbagai sentimen negatif, baik dari global maupun domestik, sudah keluar pada awal tahun ini untuk memberikan kondisi pasar yang lebih tenang pada paruh kedua 2026. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News