KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Alphabet, perusahaan induk Google, mencatatkan laba dan pendapatan yang meleset dari ekspektasi Wall Street. Pengeluaran untuk kecerdasan buatan (AI) menguras kas perusahaan, yang menyebabkan harga saham Alphabet turun lebih dari 10% dalam perdagangan di luar jam bursa (
extended trading). Alphabet melaporkan arus kas bebas negatif sebesar US$ 9,07 miliar, padahal para analis sebelumnya memperkirakan angka yang mendekati titik impas, menurut data yang dihimpun oleh LSEG. Hasil ini mencerminkan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan AI. Para investor di sektor ini merasa khawatir, baik terhadap potensi pengeluaran yang berlebihan maupun risiko tertinggal dari para pesaing jika perusahaan tidak berinvestasi secara memadai.
Kas perusahaan terkuras di kuartalan ini, lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar US$ 5,9 miliar—momen di mana perusahaan untuk pertama kalinya mencatatkan arus kas negatif dalam sejarah 22 tahunnya sebagai perusahaan publik.
Baca Juga: Ketua The Fed Kevin Warsh Umumkan Perubahan Pertemuan FOMC di Masa Mendatang Kas Alphabet terkuras dipicu oleh pengeluaran untuk meningkatkan kapasitas cloud dan mendanai penelitian AI. Alphabet melaporkan kerugian laba operasional sebesar US$ 7,66 miliar dalam kategori "aktivitas tingkat Alphabet" (
Alphabet-level activities), yang menurut perusahaan terutama mencerminkan biaya terkait penelitian dan pengembangan AI. Berdasarkan data LSEG, total pendapatan Alphabet pada kuartal III-2026 mencapai US$ 127,6 miliar. Realisasi ini berada di bawah estimasi analis sebesar US$ 128,2 miliar. Melesetnya pendapatan Alphabet ini disebabkan oleh bisnis inti periklanan Google yang mencatatkan pendapatan sebesar US$ 82,01 miliar, atau sekitar $1,41 miliar di bawah ekspektasi. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa turun 25% menjadi US$ 26,17 miliar, sementara laba per saham yang disesuaikan sebesar US$ 2,67, tidak mencapai target Wall Street yang dipatok pada angka US$ 3,02. Chief Financial Officer Alphabet Anat Ashkenazi menyatakan bahwa belanja modal (capex)—yang didorong oleh pengembangan AI—akan meningkat secara signifikan pada tahun 2027, seraya menambahkan bahwa prakiraan belanja modal untuk tahun ini tidak mengalami perubahan. Ia juga mengantisipasi adanya tekanan terhadap margin dalam jangka pendek akibat penggunaan kapasitas cloud dari pihak ketiga. Sebelumnya pada hari Rabu, Google berupaya mendahului pengumuman hasil kinerjanya sekaligus menepis persepsi bahwa mereka tertinggal dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI) dengan memperkenalkan model baru, Gemini 4 Carbon. Dalam sesi pembahasan kinerja (
earnings call), CEO Sundar Pichai menyampaikan kepada para analis bahwa model ini menandakan Google kembali "memimpin di garis depan."
PENGARUH LAYANAN CLOUD SEMAKIN KUAT
Pendapatan Google Cloud melampaui estimasi dan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 30,71 miliar pada kuartal ketiga yang berakhir 30 September, namun jumlah tersebut belum cukup untuk menutupi kinerja di sektor periklanan. Kepala divisi Cloud, Thomas Kurian, tampil untuk pertama kalinya dalam sesi pembahasan kinerja perusahaan. Hal ini menunjukkan semakin besarnya pengaruh unit bisnis yang berorientasi pada sektor korporat tersebut di dalam perusahaan yang secara tradisional lebih didominasi oleh layanan konsumen. Kurian menyatakan bahwa penjualan
tensor processing unit (TPU) milik Google—yang bersaing dengan cip GPU buatan Nvidia—telah menjadi kontributor yang signifikan bagi unit bisnisnya.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Menguat, Brent Naik 1% dan WTI Melesat ke US$ 102,78 Per Barel Sebagai penyedia layanan cloud terbesar ketiga di dunia—di belakang Amazon Web Services dan Microsoft Azure—Google Cloud terus memperluas komitmen dengan klien korporat. Hal ini didukung oleh kesepakatan infrastruktur cloud dan AI jangka panjang di berbagai sektor, termasuk keamanan siber, ritel, dan layanan keuangan. Alphabet, Microsoft, Amazon, dan Meta diproyeksikan akan mengeluarkan total belanja lebih dari US$ 700 miliar pada tahun 2026 untuk memperluas infrastruktur pusat data AI, pengadaan cip, serta kapasitas jaringan berkinerja tinggi. Meskipun kendala pasokan untuk komponen silikon canggih dan daya listrik pusat data masih terus terjadi di seluruh industri, investasi Alphabet pada TPU kustom—di samping penggunaan GPU dari pihak ketiga—telah membantu meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menghadirkan layanannya.