KONTAN.CO.ID - Laporan kinerja keuangan Netflix untuk kuartal IV-2025 yang akan dirilis Selasa (20/1/2026) diperkirakan tak sepenuhnya menjadi pusat perhatian investor. Fokus pasar justru akan tertuju pada rencana ambisius Netflix mengakuisisi Warner Bros, sebuah langkah besar yang berpotensi mengubah peta industri hiburan global. Meski Netflix diprediksi mencatat pertumbuhan pendapatan kuartal liburan terbaik sejak 2020, berkat deretan konten unggulan seperti musim terakhir Stranger Things, film terbaru Knives Out, serta penayangan pertandingan NFL pada Hari Natal, investor lebih menaruh perhatian pada strategi jangka panjang perusahaan.
Baca Juga: Direktur CIA John Ratcliffe Temui Presiden Sementara Venezuela Delcy Rodríguez Netflix hingga kini belum menuai hasil signifikan dari dua investasi mahalnya, yakni ekspansi ke iklan dan gim. Selain itu, berakhirnya Stranger Things serial paling banyak ditonton sepanjang sejarah Netflix meninggalkan celah besar dalam portofolio konten unggulan perusahaan. Akuisisi aset studio dan streaming Warner Bros senilai US$82,7 miliar dinilai sebagai solusi strategis. Jika terealisasi, Netflix akan memperoleh pustaka konten ikonik seperti Friends, Game of Thrones, dan Harry Potter. Koleksi ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan
spin-off, prekuel, hingga sekuel baru yang dirancang khusus untuk platform streaming. “Laporan keuangan ini kemungkinan akan tertutupi oleh apa yang Netflix sampaikan soal kesepakatan tersebut langkah selanjutnya dan berbagai pertanyaan di sekitarnya,” ujar analis PP Foresight, Paolo Pescatore.
Baca Juga: Putin Telepon Netanyahu dan Presiden Iran, Rusia Siap Jadi Mediator di Timur Tengah Ini juga akan menjadi paparan kinerja pertama Netflix sejak mengumumkan rencana akuisisi pada 5 Desember lalu. Netflix kini terlibat persaingan ketat dengan Paramount Skydance, yang mengajukan penawaran lebih besar senilai US$108,4 miliar untuk seluruh Warner Bros Discovery, termasuk aset televisi kabel yang tidak diminati Netflix. Proses akuisisi diperkirakan berlangsung panjang, dengan Netflix berencana mengubah skema pembayaran tunai dan saham menjadi penawaran tunai penuh. Selain itu, pengawasan ketat dari regulator di Amerika Serikat dan Eropa juga menjadi tantangan besar, terutama terkait isu antimonopoli. Jika berhasil mengakuisisi Warner Bros, Netflix akan menjadi platform streaming terbesar di dunia dengan sekitar 428 juta pelanggan.
Baca Juga: Dana Saham Global Catat Arus Masuk Terbesar dalam 3,5 Bulan Netflix berargumen bahwa mereka bersaing dengan YouTube sebagai distributor televisi terbesar di AS, meski pandangan ini kemungkinan tidak sepenuhnya diterima regulator. Ketidakpastian akuisisi tersebut telah menekan saham Netflix. Saham perusahaan ini turun empat bulan berturut-turut dan melemah sekitar 6% sepanjang awal 2026. Hampir sepertiga analis yang memantau saham Netflix telah menurunkan target harga sejak pengumuman kesepakatan. Di sisi lain, akuisisi HBO Max berpotensi menstabilkan jumlah pelanggan. Netflix dikenal memiliki tingkat pembatalan terendah di industri, dan diyakini mampu menekan churn HBO Max melalui bundling layanan serta pemanfaatan algoritma rekomendasi konten.
Baca Juga: Delegasi Kongres AS Kunjungi Kopenhagen untuk Redam Ketegangan soal Greenland Acara Langsung Dorong Pendapatan Untuk kinerja kuartalan, analis menilai konten acara langsung semakin berperan dalam mendorong pendapatan dan retensi pengguna. Pertandingan Detroit Lions vs Minnesota Vikings yang ditayangkan Netflix pada Hari Natal tercatat sebagai laga NFL paling banyak ditonton secara streaming di AS. Netflix juga memperluas hak siar WWE di AS, termasuk akses ke arsip sejarahnya. Berdasarkan data LSEG, pendapatan Netflix pada periode Oktober–Desember diperkirakan naik 16,82% menjadi US$11,97 miliar, sedikit melambat dibanding pertumbuhan 17,2% pada kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Dari Green Beret ke CEO, Gene Yu Bangun Startup Cybersecurity Bernilai Ratusan Miliar Untuk tahun 2026, analis memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sekitar 13%. Meski Netflix tidak lagi merilis data pelanggan, estimasi Visible Alpha menunjukkan penambahan bersih sekitar 10 juta pelanggan, sehingga total pengguna diperkirakan melampaui 327 juta pada akhir 2025.